Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Siapakah Hamba Allah yang Paling Mulia?


Setiap umat beragama ingin menjadi lebih taat dan saleh. Kita semua rindu diterima Allah dan bisa masuk sorga serta menikmati hidup kekal. Untuk menjadi lebih saleh, kita harus mencari teladan yang baik. Siapakah yang harus kita teladani? Satu malaikat? Muhammad? Mereka yang mencintainya? Adakah yang lain? Penting kita tahu siapakah hamba Allah yang paling mulia. Agar tahu siapa yang kita harus ikuti.

Ciri-Ciri Hamba Allah yang Saleh

Ada banyak situs Islam yang menjelaskan kriteria atau ciri-ciri hamba Allah yang saleh/mulia. Diantaranya adalah orang yang: Berlaku lurus, membaca Kitab Allah, Shalat malam, beriman kepada Allah dan hari akhir, mengajak orang lain untuk menghindari kejahatan (Qs 3:113-114), memaafkan kesalahan seseorang. Apakah Anda setuju? Silakan mengirim jawaban Anda di sini.

Dua Kriteria Lain yang Terpenting

Penulis merasa ada dua kriteria yang terpenting selain daftar di atas. Pertama, orang yang selalu berserah diri kepada Allah. Karena tugas hamba/budak untuk selalu menaati tuannya.

Kedua, orang yang merendahkan diri. Seorang hamba/budak tidak boleh sombong karena mereka dalam posisi yang rendah dan tidak punya otoritas.

Hamba Allah yang Paling Mulia

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Siapakah hamba Allah yang paling mulia menurut delapan kriteria di atas? Memang, para malaikat mungkin memenuhi sebagian besar kriteria tersebut, tetapi bagaimana bisa kita meneladani mereka? Bagaimana dengan nabi Islam? Dia shalat malam, beriman kepada Allah dan hari akhir, dan pernah mengajak orang untuk menghindari kejahatan.

Namun, apakah nabi Islam selalu memaafkan kesalahan orang? “Rasulullah: ‘Siapakah yang akan membunuh Ka’b bin Asyraf yang telah durhaka kepada Allah dan melukai Rasul-Nya?’ Maka Muhammad bin Maslamah . . . berkata, ‘. . . sukakah Anda jika aku yang akan membunuhnya?’ beliau menjawab: ‘Ya’” (Shahih Bukhari 3731).

Nabi Islam juga harus bertobat atas dosanya. “. . . dan mohonlah ampunan bagi dosamu . . .” (Qs 47:19). Berarti, dia tidak selalu berserah diri kepada Allah atau berlaku lurus, bukan?

Jawaban Saya: Setelah menyebutkan ciri-ciri dan kriteria hamba Allah yang shaleh versi mereka, kafir Kristen pemuja Yesus menyebut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa sallam bukan seorang hamba yang mulia karena tidak selalu memaafkan kesalahan orang lain. Beliau pernah menyuruh para sahabatnya untuk membunuh Ka’ab bin Asyraf. Ka’ab bin Asyraf adalah seorang pemuka Yahudi yang sangat memusuhi Islam. Setelah kekalahan kaum musyrikin Quraisy menghadapi pasukan Islam di dalam perang Badar, Ka’ab bin Al-Asyraf membuat syair-syair berisi ratapan atas kekalahan kaum musyrikin tersebut. Di dalamnya juga memuat hujatan terhadap Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan kaum muslimin. Lalu pergilah ia ke Mekkah untuk menampilkan puisinya dan turut berduka cita bersama kaum musyrikin Mekkah. Bahkan kaum muslimat juga ia lecehkan di dalam syairnya.

Setelah para sahabat berhasil membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf, di keesokan harinya, datanglah kaum Yahudi bersama beberapa kaum musyrik menemui Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Mereka mempertanyakan mengapa Ka’ab ibn Al-Asyraf dibunuh padahal terdapat perjanjian damai yang telah disepakati antara Rasulullah dengan kaum Yahudi di Madinah. Mereka berkata: ”Salah seorang yang  terhormat dari kalangan kami telah dibunuh semalam! Dan ia dibunuh secara licik. Bukan bertarung satu lawan satu. Ia dibunuh secara diam-diam dan tiba-tiba..!” Mereka selanjutnya berkata: ”Ia telah dibunuh tanpa sebab tindak kriminal apapun yang telah dilakukannya…!”

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa sallam  bersabda; “Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama dengan pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi dia telah mengganggu kami dan menghujat kami dengan puisinya, dan tidak ada seorangpun di antara kalian yang melakukan hal semacam itu kecuali kami akan tangani dengan pedang!”

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan bahwa banyak orang yang keyakinan di dalam hatinya mirip dengan Ka’ab bin Al-Asyraf, ia bukan dibunuh karena itu! Ia bukan dibunuh karena ia tidak percaya, ia tidak dibunuh karena ia membenci Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, ia tidak dibunuh karena membenci kaum muslimin. Banyak orang lain yang mempunyai penyakit hati seperti itu namun tidak dibunuh, mereka dibiarkan hidup. “Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama dengan pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi ia telah berbicara menentangku dan mengumpatku,” demikian Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam.

Ibnu Taimiyah berkata: ”Ini merupakan bukti bahwa mengganggu Allah dan Rasul-Nya merupakan alasan untuk mendorong kaum muslimin membunuh siapa saja yang melakukan gangguan tersebut meskipun mereka punya perjanjian dengan kaum muslimin.”

Ibnu Taimiyah melanjutkan: ”Semua yang dilakukan Al-Asyraf ialah mengganggu dengan lidah. Meratapi terbunuhnya kaum kuffar, dukungannya kepada mereka untuk berperang, kutukan dan umpatannya dan ucapannya merendahkan agama Islam dan mengutamakan agama kaum kafir, semua ini ialah ucapan dengan lidahnya. Inilah hujjah-bukti terhadap siapapun yang berselisih pendapat tentang isyu-isyu seperti ini. Jelaslah tidak ada perlindungan dengan cara apapun bagi darah manusia yang mengganggu Allah dan Rasul-Nya melalui puisi dan umpatan.”

Jadi, kesalahan Ka’ab bin Al-Asyraf bukan kesalahan yang ringan. Bukan hanya kesalahan seseorang terhadap pribadi seorang Muhammad, yang Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dapat dengan mudah memaafkannya, seperti banyak terjadi terhadap orang-orang kafir yang memperoleh maaf dari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam setelah berusaha membunuh Beliau.  

Mengapa Isa Al-Masih Hamba Allah yang Paling Mulia?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Sebenarnya, hanya Isa Al-Masih memenuhi semua kriteria di atas karena Ia: Tidak pernah berdosa (Injil, Surat 1 Petrus 2:22), Menghafalkan kebanyakan Taurat dan Zabur (sering mengutipnya), Sering berdoa malam (Injil, Rasul Lukas 6:12), akan menjadi Hakim pada akhirat (Injil, Rasul Besar Yohanes 5:22-23), menyuruh umat-Nya untuk berbuat baik kepada musuh (Injil, Rasul Besar Matius 5:44), mengampuni dosa seseorang (Injil, Rasul Lukas 5:20-24), selalu berserah diri kepada Allah (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:31), merendahkan diri dengan melayani (Injil, Rasul Besar Matius 20:28, Yohanes 13:4-15)

Jelas, Isa Al-Masih adalah satu-satunya Pribadi yang layak diikuti. Dan ada berita yang sangat baik bagi setiap umat-Nya! Isa sudah menjadi hamba Allah yang sempurna agar setiap kita tidak harus menjadi hamba Allah lagi! Kita bisa menjadi anak Allah dan hidup dengan Dia di surga!

Jawaban Saya: Setelah menyebut Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bukan seorang hamba yang mulia, kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa Yesus memenuhi kriteria sebagai seorang hamba Allah yang mulia. Ada banyak ayat yang mereka kutip untuk menguatkan pendapat mereka. Tetapi saya tidak tertarik untuk menjawabnya satu persatu. Karena sebagai seorang Nabi, tentu saja Nabi Isa ‘alaihis salam memiliki ciri-ciri sebagai hamba Allah yang mulia. Sikap umat Islam terhadap semua Nabi-nabi utusan Allah Azza wa Jalla adalah beriman kepada mereka semua dan tidak membeda-bedakannnya.

Jika kalian Kafir Kristen menganggap Yesus telah memenuhi kriteria sebagai hamba Allah yang mulia, mengapa kalian masih tetap memuja Yesus? Bukankah barusan kalian berkata kalau Yesus itu HAMBA ALLAH yang mulia? Setan mana yang merasuki hati dan pikiran kalian? Sudah tahu Yesus itu HAMBA ALLAH masih saja kalian sembah! Umat Islam menganggap Nabi Isa ‘Alaihis salam atau Yesus sebagai Hamba ALLAH yang mulia, Itulah alasan kami tidak menyembah kepadanya, itu juga yang menjadi sebab kami beriman terhadap kenabian Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam (As-Shaff: 6).    

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Siapakah Hamba Allah yang Paling Mulia?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.