Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Penolakan Mukmin Akan Kitab Allah


Ketika saya berumur dua belas tahun, sempat terpikir untuk menjadi mualaf. Saya malu diejek teman-teman sebagai kafir serta kitab sucinya palsu. Penolakan Mukmin akan kitab Allah pun semakin sering saya dengar. Apa sebenarnya alasan dari penolakan itu? Adakah fakta lain yang dapat membuktikan Kitab Allah dapat dipercaya? Mari bersama-sama kita selidiki.

Kitab Allah dan Al-Quran, Pewahyuan yang Berbeda

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Pertama-tama, kita perlu tahu bagaimana kedua kitab ini diwahyukan. Menurut Islam, Al-Quran telah tersimpan di langit/surga ketujuh. Lalu Allah mewahyukannya langsung kepada Nabi Islam secara berangsur-angsur. Dalam hal ini tidak ada elemen manusiawi yang hadir. Sehingga Mukmin mengklaim Al-Quran sebagai firman Allah yang murni.

Kekristenan mengajarkan bahwa Tuhan menyatakan diri-Nya melalui ciptaan-Nya. Tuhan memilih para penulis yang melalui inspirasi Roh Kudus telah menuliskan firman-Nya. Mereka menulis dalam gaya bahasa mereka. Jadi, Kitab Allah adalah bukti pewahyuan diri Tuhan yang telah Ia inspirasikan.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus menjelaskan perbedaan pewahyuan Al-Qur’an dan “pewahyuan” Bible, dalam hal ini tentu Injil Kristen yang mereka maksud. Mereka mengatakan Al-Qur’an telah tersimpan di langit (Lauh Mahfudz), lalu Allah SWT mewahyukannya langsung (melalui Malaikat Jibril) secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW. sementara dalam Kekristenan pewahyuan terjadi ketika Tuhan memilih para penulis yang melalui inspirasi Roh Kudus telah menuliskan firman-Nya.

Dari dua model pewahyuan tersebut di atas, Al-Qur’an lebih pantas disebut sebagai Kitab Allah dari pada Injil Kristen. Yang namanya Kitab Allah, tentu saja di dalamnya terdapat firman-firman Allah SWT. Firman-firman Allah SWT ini diwahyukan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui seorang Malaikat. Di tulis dengan apa adanya sebagaimana ayat-ayat Al-Qur’an tersebut diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Tidak ada campur tangan manusia kecuali penulisan dan pembukuan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Sangat berbeda dengan Injil Kristen. Sejak awal penulisannya, Injil Kristen tidak lepas dari campur tangan manusia. Injil Kristen ditulis berdasarkan penyelidikan atas kesaksian-kesaksian yang diterima oleh penulis (Lukas 1:2-3). Kitab yang ditulis melalui penyelidikan dan kesaksian-kesaksian sangat tidak pantas disebut Kitab Allah. Dengan menulis Injil Kristen melalui penyelidikan dan kesaksian-kesaksian, penulis Injil Kristen juga tidak boleh di percaya telah memperoleh inspirasi dari Roh Kudus. Lebih-lebih penulis Injil Kristen sendiri juga tidak pernah mengatakan bahwa kitab yang mereka tulis adalah inspirasi Roh Kudus. Mereka juga tidak pernah menganggap kitab tulisannya sebagai Kitab Allah atau Firman Allah. Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan Injil Kristen ditulis oleh para penulisnya melalui inspirasi Roh Kudus, itu hanya klaim mereka saja. Sementara faktanya tidak demikian. Seandainya para penulis Injil Kristen dapat dihidupkan kembali, mereka pasti akan kaget mengetahui kitab yang mereka tulis di anggap kitab Allah atau firman Allah. Padahal mereka sendiri tidak pernah mengatakan kitab yang mereka tulis adalah kitab Allah atau firman Allah.

Injil Kristen sebenarnya hanyalah tulisan-tulisan tanpa nama yang berisi kisah rakyat. Orang Kristen yang hidup di awal kekristenan tidak pernah menganggap Injil-Injil tersebut sebagai Kitab Suci. Mereka hanya menganggapnya tidak lebih dari kisah rakyat. Seiring dengan keinginan gereja untuk menjadikan Injil Kristen sebagai Kitab Suci, maka Injil-injil tersebut diberi nama dengan nama-nama murid Yesus. Padahal tidak ada satu ayat pun dalam Perjanjian Baru yang menceritakan murid-murid Yesus menulis sebuah kitab.

Al-Quran dan Kepercayaan Muslim Akan Kitab Allah

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Bagaimana pandangan Al-Quran dan Muslim terhadap Kitab Allah. Adakah keduanya mempunyai pandangan yang sama?

Mukmin mempercayai Taurat, Zabur, dan Injil berasal dari Allah. Demikian juga Al-Quran menuliskan, “dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara, menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya . . .” (Qs 5:47). Kirimkan tanggapan Anda lewat email, jika Anda tidak setuju Injil berasal dari Allah. Namun Mukmin juga meyakini bahwa orang Yahudi dan Kristen telah memalsukan Kitab Allah. Sayangnya, Al-Quran memberi pandangan berbeda. “. . . . Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertaqwa” (Qs 5:46).

Lantas, siapa yang Anda percayai? Kepercayaan Muslim pada umumnya, atau Al-Quran? Kirimkan pendapat Anda lewat email.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan umat Islam mempercayai Taurat, Zabur dan Injil berasal dari Allah, kemudian mereka mengutip terjemahan ayat-ayat dari Al-Qur’an;

Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Al-Maa'idah: 46)

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maa'idah: 47)

Pada terjemahan kedua ayat Al-Qur’an di atas, dijelaskan bahwasanya Allah SWT mengutus Nabi Isa AS sebagai Nabi dan membenarkan kitab sebelumnya. Kepada Nabi Isa AS juga diberikan Kitab Injil, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang bertakwa. Di ayat selanjutnya, Allah SWT mengajak orang-orang pengikut Injil untuk memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah SWT. Injil yang dimaksud pada kedua ayat tersebut adalah sebuah kitab wahyu yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS. Kitab tersebutlah yang oleh Al-Qur’an disebut terdapat petunjuk dan pengajaran. Dan dengan Kitab tersebut juga pengikut Nabi Isa AS diperintahkan untuk memutuskan perkara.

Kafir Kristen pemuja Yesus menuntut umat Islam mempercayai, sekaligus mengikuti Injil Kristen yang ada pada mereka dengan mengutip kedua ayat Al-Qur’an di atas. Padahal kafir Kristen pemuja Yesus sendiri sudah tahu, kalau Injil dalam Islam jauh berbeda dengan Injil menurut Kristen. Injil yang dimaksud Al-Qur’an adalah kitab wahyu yang diberikan kepada Nabi Isa AS. Sementara menurut kafir Kristen, Injil Kristen bukanlah kitab wahyu yang diberikan Tuhan kepada Yesus. Injil Kristen Bukan kitab yang diturunkan dari langit. Injil Kristen ditulis oleh orang-orang tidak dikenal, jauh setelah Yesus  di angkat ke langit. Injil Kristen hanya memuat kisah perjalanan Yesus berdakwah di tengah-tengah bangsa Israel. Dan tidak memuat wahyu Tuhan kepada Yesus.

Dengan perbedaan Injil tersebut, kafir Kristen pemuja Yesus tidak berhak menuntut umat Islam untuk mempercayai sekaligus mengikuti Injil Kristen. Karena yang dipercayai oleh umat Islam adalah Injil yang diberikan kepada Nabi Isa AS, bukan Injil gubahan orang-orang yang tidak di kenal. Kewajiban memutuskan perkara menurut kitab Injil, hanya dibebankan kepada orang-orang yang lahir sebelum Nabi Muhammad SAW di utus sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT. Setelah Al-Qur’an diturunkan dengan di utusnya Nabi Muhammad SAW, maka tidak ada lagi kewajiban bagi manusia untuk memutuskan perkara menurut hukum yang ada dalam kitab-kitab terdahulu.

Allah SWT telah menurunkan Taurat dan Injil khusus bagi bangsa Israel dalam batas waktu yang Allah SWT kehendaki. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab wahyu Allah SWT yang terakhir, yang terjaga dan diperuntukkan bagi seluruh manusia sebagai petunjuk sampai dengan hari kiamat nanti. Dalam hadits Shahih Nabi Muhammad SAW bersabda;

“Keberadaan kalian di antara umat-umat terdahulu seperti permisalan antara antara shalat 'ashar hingga matahari terbenam. Pemeluk taurat diberi taurat dan mereka mengamalkannya hingga pertengahan siang, kemudian mereka tidak bisa lagi mengamalknnya sehingga diberi satu qirath. Kemudian pemeluk injil diberi injil dan mereka mengamalkannya hingga shalat 'ashar didirikan lantas mereka tidak bisa lagi mengamalkannya, dan mereka diberi satu qirath. Kemudian kalian diberi Al Qur'an dan kalian mengamalkannya hingga matahari terbenam, lantas kalian diberi dua qirath dua qirath...” (Shahih Bukhari: 6979)

Hadits di atas adalah perumpamaan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wasallam buat untuk menjelaskan kedudukan umat Islam. Arti perumpamaan tersebut bahwa umat Yahudi diberi Taurat dan mengamalkannya sampai diturunkannya Injil, umat Nasrani diberi Injil dan mengamalkannya sampai diturunkannya Al-Qur’an, sementara itu umat Islam diberi Al-Qur’an dan mengamalkannya sampai matahari terbenam yaitu sampai tiba hari kiamat. Jadi seandainya pun ditemukan Injil yang asli atau kitab-kitab lainnya yang isinya utuh tidak ada kerusakan di dalamnya, maka Injil atau kitab-kitab tersebut sudah tidak berlaku dan Allah SWT tidak akan memberikan pahala sebab mengamalkannya. Tidak ada pilihan bagi manusia yang hidup di zaman telah turunnya Al-Qur’an agar dapat selamat, kecuali menerima Islam sebagai agamanya. Rasulullah SAW, bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nasrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (Shahih Muslim: 218)

Fakta Kitab Allah Tidak Pernah Dipalsukan

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Inilah beberapa fakta yang dapat membuktikan bahwa Kitab Allah tidak pernah dipalsukan dan umat beragama layak mengimaninya sebagai firman Allah.

Pertama: Nubutan tergenapi. Anda bisa menemukan banyak hal-hal yang terjadi dan telah diramalkan bahkan ratusan tahun sebelumnya.

Kedua: Para saksi mata. Peristiwa-peristiwa dalam Alkitab terjadi di hadapan umum. Seluruh Israel adalah saksinya.

Ketiga: Arkeologi. Sejumlah penemuan arkeologi mengkolaborasikan kredibilitas Alkitab, mengkonfirmasi kebenaran dan akurasi sejarah. Dan terakhir adalah konfirmasi dari para sejarawan tentang kisah-kisah yang tercatat dalam Alkitab.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus menyebut tiga alasan yang dapat membuktikan bahwa Injil Kristen tidak pernah dipalsukan. Di antaranya;

Pertama: Tergenapinya Nubuat dalam Injil Kristen mereka sebut sebagai bukti Injil Kristen tidak pernah dipalsukan dan layak untuk diimani sebagai firman Allah. Kafir Kristen pemuja Yesus tidak menyebut Nubuat mana dalam Injil Kristen yang mereka maksud. Tetapi jika tergenapinya Nubuat mereka jadikan bukti kebenaran Injil Kristen, itu berarti jika ada nubuat dalam Injil Kristen yang tidak tergenapi maka hal tersebut juga dapat menjadi bukti bahwa Injil Kristen memang pernah dipalsukan dan tidak layak umat Islam untuk mengimaninya sebagai firman Allah.

Yesus dalam Injil Kristen pernah menubuatkan dirinya akan datang ke dunia tidak lama setelah dirinya naik ke sorga. Dalam matius 10:23, Yesus berkata bahwa dirinya akan datang sebelum murid-muridnya selesai mengunjungi kota-kota Israel. Tetapi setelah  murid-murid Yesus telah selesai mengunjungi kota-kota Israel, bahkan sampai mereka semua mati dua ribu tahun yang lalu, Yesus juga tidak kunjung muncul. Sementara di Matius 16:28, Yesus juga menubuatkan di antara orang yang hadir tidak akan mati sebelum mereka melihat Yesus turun ke dunia. Tetapi setelah mereka semua mati dua ribu tahun yang lalu, Yesus belum juga turun dari sorga. Artinya nubuat pada ayat-ayat tersebut tidak tergenapi dan oleh karena itu membuktikan bahwa Injil Kristen memang dipalsukan dan bukanlah firman Allah yang layak di imani.

Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Matius 10:23)

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya." (Matius 16:28)

Kedua: Ditulisnya Injil Kristen melalui penyelidikan terhadap kesaksian-kesaksian, di anggap kafir Kristen pemuja Yesus sebagai bukti Injil Kristen tidak pernah dipalsukan dan layak untuk diimani sebagai firman Allah. Saya sama sekali tidak melihat dituliskannya Injil Kristen melalui penyelidikan terhadap kesaksian-kesaksian sebagai bukti Injil Kristen tidak pernah dipalsukan. Dan justru ditulisnya Injil Kristen melalui penyelidikan terhadap kesaksian-kesaksian itu sudah menjadi bukti yang tidak dapat terelakkan bahwa Injil Kristen memang bukan firman Allah sebagaimana penjelasan saya sebelumnya.

Ketiga: Sejumlah penemuan arkeologi yang mengkonfirmasi kebenaran dan akurasi sejarah dalam Injil Kristen di anggap oleh kafir Kristen pemuja Yesus sebagai bukti Injil Kristen bukan kitab palsu dan layak diimani sebagai firman Allah. Penemuan arkeologi paling hanya dapat mengkonfirmasi ketepatan waktu dalam sejarah. Sama sekali tidak dapat membuktikan Injil Kristen bukan kitab palsu dan membuktikan Injil Kristen firman Allah. Injil harusnya kitab wahyu yang diberikan kepada Nabi Isa AS atau Yesus. Jika ada sebuah kitab yang ditulis oleh orang-orang setelah masa Yesus hidup di dunia kemudian dinamai sebagai Injil, maka inilah Injil palsu yang dimaksud.

Dalam Injil Kristen Yesus dikabarkan tinggal menyendiri di padang gurun dengan berpuasa empat puluh hari empat puluh malam (Matius 4:1-2). Perbuatan Yesus tersebut ternyata pernah juga dilakukan oleh Nabi Musa AS ketika hendak menerima Taurat dari Tuhan. Nabi Musa AS juga pernah mengasingkan diri di atas gunung empat puluh hari empat puluh malam dengan berpuasa (Ulangan 9:9). Yesus tinggal menyendiri di padang gurun dengan berpuasa empat puluh hari empat puluh malam (Matius 4:1-2) untuk menerima Kitab Injil, setelah itu Yesus turun dan mengabarkan Injil yang baru diterimanya dari Allah (Markus 1:14-15, Yohanes 17:8).
   
Isa Al-Masih Firman Allah Yang Hidup

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Pengikut Isa Al-Masih mempercayai Kitab Allah merupakan satu-satunya pesan yang jelas terhadap umat manusia mengenai pengampunan hukuman dosa dan kepastian keselamatan. Dalam hal ini, Allah telah menyatakan langsung diri-Nya melalui Kalimat-Nya, yaitu Isa Al-Masih. Ia datang ke dunia untuk membenarkan manusia berdosa dan menarik mereka kembali kepada-Nya. Isa berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6).

Jawaban Saya: Penebusan dosa dalam Kristen berasal dari pengajaran Paulus, bukan pengajaran Yesus. Memang betul, dengan percaya Yesus akan menjadikan seseorang masuk surga. Konsep semua Nabi-Nabi Allah SWT memang seperti itu, tidak terkecuali Nabi Muhammad SAW. Tetapi ingat, selain percaya kepada Yesus, manusia juga harus mendengarkan perkataan Yesus dan melakukannya (Matius 7:24). Tidak cukup sampai di situ. Untuk dapat memperoleh keselamatan yang ditawarkan Yesus, Anda juga harus berasal dari bangsa Israel, karena sorga hanya untuk kedua belas suku bangsa Israel (Wahyu 21:12). Dan itu pun masih dibatasi untuk jumlah 144 ribu orang saja (Wahyu 7:4, Wahyu 14:1). Dari semua syarat tersebut, ternyata tidak satu pun yang sanggup dipenuhi kafir Kristen pemuja Yesus.  

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penolakan Mukmin Akan Kitab Allah"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.