Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Wahyu Allah, Melalui Mimpi Atau Firman?


Apakah Anda sudah mengantongi jawaban yang benar, siapa nama anak yang dikorbankan Nabi Ibrahim? Ismail ataukah Ishak? Keberanian Nabi Abraham (Ibrahim) untuk mengorbankan anaknya menjadi cerita yang menarik. Adakah sinkronisasi antara Alkitab dan Al-Quran dalam mengisahkan hal tersebut?

Meyakini Firman Allah ataukah Mimpi?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Berawal ketika Allah mencobai Abraham. “Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran…” (Kitab Taurat, Kejadian 22:1-2).           

Kira-kira 2600 tahun kemudian, Al-Quran menuliskan kembali kisah tersebut. Qs 37:102 “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)… Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu…”

Jawaban Saya: Mimpi yang dilihat oleh Nabi Ibrahim AS tersebut adalah benar wahyu dari Allah SWT. Jika mimpi tersebut tidak benar wahyu dari Allah SWT, tentu Nabi Ismail AS akan mati.  Jika mimpi tersebut tidak benar wahyu dari Allah SWT , tentu Allah SWT tidak akan berfirman kepada Nabi Ibrahim AS:

Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Ash Shaaffaat: 105)

Ketidaksinkronan Wahyu Allah

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Beberapa pertanyaan muncul. Pertama, Alkitab mencatat Tuhan sendiri berfirman kepada Abraham. Lantas mengapa dalam Al-Quran menjadi Nabi Ibrahim sendiri yang bermimpi tentang penyembelihan anaknya? Kedua, Anak yang diminta untuk dikorbankan adalah “Ishak, Kitab Suci Mukmin menyamarkan menjadi “anak” (tidak menyebutkan nama). Ketiga, Allah meminta Abraham mempersiapkan korban bakaran. Sementara Qs 37:103 hanya menuliskan “pembaringan anak” (Qs 37:103).

Di saat Allah berkata “…Persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran,” Abraham langsung konek dengan perintah Allah. Itulah sebabnya Abraham membawa peralatan seperti pisau, kayu, api, dan mendirikan mezbah (tempat meletakkan kurban). Aturan baku tentang ritual korban bakaran sudah sejak dari zaman Kain dan Habel dan Nuh (lihat Kitab Taurat, Kejadian 8:20). Abraham serta para nabi pun sudah memahaminya. Berbeda dengan Nabi Ibrahim, Ia tidak mempersiapkannya. Dan sepertinya ia tidak memahami korban bakaran yang biasa dilakukan para leluhurnya.

Dengan berat hati Abraham mengikat tangan anaknya, yakni Ishak. Ketika hendak menyembelih anaknya, Malaikat Tuhan berfirman kepada Abraham untuk tidak membunuh anaknya. (Selengkapnya baca Taurat, Kitab Kejadian 22:1-19).

Dalam Qs 37:102-107 tidak ada persitiwa penyembelihan sang anak. Tetapi mengapa muncul ayat yang membingungkan dalam Qs 37:107? “Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar” (Wa fa dainaahu bi dzibhin ’azhiim”). Bagaimana mungkin tidak ada peristiwa penyembelihan, kemudian muncul ayat untuk menebus anak tersebut dengan sembelihan yang besar?

Jika benar kisah Nabi Ibrahim adalah sebuah pewahyuan ulang dari Allah, mengapa wahyu Allah berbeda? Tidak mampukah Allah memberikan pengulangan wahyu yang jauh lebih logis

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus mengutip dua ayat dari Al-Qur’an dan Bible tentang perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya. Al-Qur’an menyebut Nabi Ibrahim AS menerima wahyu dari Allah SWT melalui sebuah mimpi (Ash-Shaffat: 102), sementara Bible menyatakan Nabi Ibrahim AS menerima wahyu dari Allah SWT secara langsung. Kafir Kristen pemuja Yesus  mempermasalahkan perbedaan tersebut. Mereka menganggap keterangan yang diberikan Al-Qur’an keliru karena tidak sesuai dengan yang ada dalam Bible. Kelakuan orang-orang kafir seperti mereka memang tidak pernah berubah. Jika mereka menemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang isinya tidak sama dengan yang ada di  Bible, mereka menyalahkan Al-Qur’an. Tetapi kalau ada ayat-ayat Al-Qur’an yang isinya sama dengan yang ada di Bible, mereka katakan Al-Qur’an mencontek Bible. Bagaimana pun keadaan Al-Qur’an, orang-orang  kafir akan tetap mendustakan Al-Qur’an.

Penyebab adanya perbedaan dan pertentangan antara isi Al-Qur’an dengan Taurat, Zabur dan Injil adalah karena kitab-kitab tersebut telah mengalami banyak perubahan-perubahan baik dalam bentuk pengurangan, penambahan, penyimpangan makna, maupun bentuk perubahan lainnya. Itulah alasan mengapa umat Islam hanya diwajibkan berpegang kepada Al-Qur’an, bukan kitab-kitab sebelumnya.  Berbeda dengan Al-Qur’an yang telah Allah SWT jamin keotentikannya (Al-Hijr: 9), Taurat dan Injil serta kitab-kitab sebelum Al-Qur’an lainnya, Allah SWT tidak menjaminnya. Tidak ada jaminan dari Allah SWT bahwa Dia akan menjaganya. Allah SWT bebankan penjagaan itu kepada manusia, sebagaimana firman-Nya;

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla dan mereka menjadi saksi terhadapnya.” (Al-Maidah: 44)

Sudah barang tentu manusia tidak mampu menjaga kitab-kitab Allah SWT, bahkan Allah SWT telah kabarkan dalam Al-Qur’an bahwa kitab-kitab tersebut telah banyak diubah oleh tangan-tangan manusia.  Dalil Al-Qur’an yang menunjukkan adanya perubahan dan penyimpangan yang dilakukan oleh Ahlul Kitab terhadap Taurat dan Injil. Di antara firman Allah SWT yang menunjukkan adanya perubahan tersebut adalah;

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya”(An-Nisaa’: 46)

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan”(Al Baqarah: 79)

Dan mereka tidak menghormati Allah ‘azza wa jalla dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata, “Allah ‘azza wa jalla tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah, “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?” Katakanlah, “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al-Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya(Al-An’am: 91)

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?” (Ali Imran: 71)

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Maidah: 13)

"Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, padahal dia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui(Al Imran: 78)

Bahkan ayat-ayat Bible yang juga menjelaskan ketidaksucian Bible dari perubahan, dengan jelas tertulis dalam Bible sendiri di antara ayatnya;

Waktu untuk bertindak telah tiba bagi TUHAN; mereka telah merombak Taurat-Mu(Mazmur 119:126) 

Bagaimanakah kamu berani berkata: Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat TUHAN? Sesungguhnya, pena palsu penyurat sudah membuatnya menjadi bohong(Yeremia 8:8)

Kafir Kristen pemuja Yesus juga mempermasalahkan perbedaan anak Nabi Ibrahim yang dikorbankan. Menurut Al-Qur’an Anak Nabi Ibrahim yang dikorbankan adalah Nabi Ismail AS, sementara menurut Bible anak Abraham yang dikorbankan adalah Ishak. Meskipun Al-Qur’an tidak menyebut nama anak Nabi Ibrahim yang dikorbankan, tetapi ada petunjuk kuat yang dikorbankan adalah Nabi Ismail, bukan Nabi Ishaq AS. Hal tersebut terlihat jika membaca Ash-Shaffat: 100-111 yang mengisahkan kronologis pengkorbanan. Kemudian di ayat selanjutnya memberitakan kelahiran Nabi Ishaq.

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. (Ash-Shaffat: 112)       

Jika Nabi Ishaq AS lahir setelah terjadinya peristiwa penyembelihan, maka dapat disimpulkan secara otomatis anak shalih yang hendak dikurbankan Ibrahim itu pastilah Nabi Ismail AS. Mustahil Nabi Ibrahim mengorbankan Ishaq, karena saat prosesi qurban dilakukan, Ishaq belum lahir.

Kesimpulan ini semakin jelas bila dibaca dalam nas Al-Qur’an dalam bahasa aslinya: “wa basy-syarnaahu bi ishaaqa nabiyyan minas-shalihin.” Huruf “wawu” dalam kata “wa basy-syarnaahu” (Dan Kami beri dia kabar gembira), dalam ilmu nahwu disebut wawu ‘athaf littartiibi bil-ittishaal, yaitu huruf wawu penghubung (conjunction) antara dua kalimat yang menunjukkan urutan kronologis dua peristiwa yang terjadi secara berurutan.

Sementara itu walaupun Bible dengan gamblang menyebut nama Ishak sebagai yang akan dikorbankan oleh Abraham, akan tetapi ada kerancuan pada ayatnya. Pada Kejadian 22:2 tertulis sebagai berikut:

“Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu” (Kejadian 22:2).

Nama Ishak dalam Kejadian 22:2 yang disebut sebagai “anak tunggal Abraham” itu patut dipertanyakan. Karena fakta-fakta dalam Bibel menyebutkan bahwa Ismail berusia lebih tua 14 tahun dibandingkan adiknya, Ishak. Karena Ismael dilahirkan ketika Abraham berusia 86 tahun (Kejadian 16:16) dan Ishak dilahirkan ketika Abraham berusia 100 tahun (Kejadian 21:5).

Secara otomatis, Ismail pernah jadi anak tunggal Abraham selama 14 tahun. Sedangkan Ishak tidak pernah jadi anak tunggal Abraham, karena sampai akhir hayat Abraham, Ismael dan Ishak sama-sama masih hidup. Buktinya, mereka berdua bersama-sama menguburkan Abraham ke pemakamannya di gua Makhpela di padang Efron bin Zohar (Kej. 25:9).

Jika faktanya Ismael pernah jadi anak tunggal Abraham selama 14 tahun, sedangkan Ishak tidak pernah menjadi anak tunggal Abraham, kenapa ada ayat yang menyebut Ishak sebagai anak tunggal Abraham? Rupanya ada tangan-tangan kotor yang menyelipkan nama Ishak tetapi lupa menghapus kata “yang tunggal”😜.

Kafir Kristen pemuja Yesus sekali lagi mengemukakan perbedaan kisah pengkurbanan anak Nabi Ibrahim AS dalam Al-Qur’an dan Bible. Al-Qur’an mengisahkan pengkurbanan anak Nabi Ibrahim AS tanpa penyebutan persiapan korban bakaran. Sementara dalam Bible disebutkan adanya persiapan Abraham untuk mempersiapkan korban bakaran. Jawaban dari pernyataan kafir Kristen pemuja Yesus kali ini tidak jauh berbeda dengan penjelasan saya di atas. Mereka menganggap salah jika ada sesuatu di dalam Al-Qur’an tidak sama persis dengan yang ada dalam Bible. Kafir Kristen pemuja Yesus menjadikan Bible sebagai standar kebenaran, padahal kitab tersebut tidak terjaga dari kejahilan tangan-tangan kotor manusia. Oleh sebab itulah Allah SWT menjadi Al-Qur’an sebagai batu ujian (standar kebenaran) dari kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu” (Al Maa'idah: 48)

Mengenai ayat tersebut Ibnu Juraij mengatakan, Al-Qur'an adalah kepercayaan kitab-kitab terdahulu yang sebelumnya. Dengan kata lain, apa saja isi dari kitab terdahulu yang sesuai dengan Al-Qur'an, maka itu adalah benar dan apa saja isi dari kitab-kitab terdahulu yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an, itu adalah batil.

Kafir Kristen pemuja Yesus yang menganggap dalam Al-Qur’an tidak ada peristiwa penyembelihan Nabi Ismail AS, merasa bingung kenapa ada ayat “Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar”. Peristiwa penyembelihan Nabi Ismail AS memang tidak ada. Bukan hanya dalam Al-Qur’an, dalam Bible pun tidak ada peristiwa penyembelihan Ishak. Karena perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya hanya sebuah ujian dari-Nya. Ketika Nabi Ibrahim AS telah hampir benar-benar  menyembelih anaknya untuk menjalankan perintah Allah SWT, Allah SWT menghentikan Nabi Ibarahim AS dan mengganti sembelihannya dengan seekor domba. Adanya kalimat “Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar” dalam Ash-Shaaffaat: 107, menjadi bukti bahwa memang tidak ada peristiwa penyembelihan Nabi Ismail AS. Saya rasa kafir Kristen pemuja Yesus tidak akan mengalami kebingungan jika mereka dapat menggunakan akal dengan cara yang benar.   

Al-Masih Memberikan Nyawa menjadi Tebusan Bagi Manusia

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Mungkinkah ayat dalam Qs 37:107 mengacu pada ayat suci Allah dalam Injil, Rasul Besar Matius 20:28 “Sama seperti Anak Manusia datang . . . untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang?“

Isa Al-Masih datang dan sudah memberikan nyawa-Nya bagi manusia. Terlebih setiap orang yang percaya pada-Nya mendapat jaminan hidup kekal.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa surah Ash-Shaaffaat: 107 mengacu pada Matius 20:28 di mana Yesus mengatakan memberikan nyawanya untuk menjadi tebusan. Sama sekali tidak. Karena Nabi Isa AS tidak pernah mati di salib. Yang mati di salib adalah orang lain yang Allah SWT serupakan dengan Nabi Isa AS. Kafir Kristen pemuja Yesus yang sebelumnya mengolok-olok ayat-ayat Al-Qur’an kini merasa perlu mengutip ayat Al-Qur’an sebagai pembenaran. Apa itu logis?

Ketika akan pergi ke Yerusalem Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk membeli pedang (Lukas 22:36). Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk menjaga dirinya dan Yesus juga terlihat sangat ketakutan (Matius 26:38) sampai harus sujud dan berdoa demi keselamatan dirinya (Matius 26:42). Yesus juga mendoakan ampunan bagi penyalibnya, seolah yang mereka lakukan kepada Yesus adalah kesalahan (Lukas 23:34). Ketika hampir mati di atas salib, Yesus berteriak dengan keras: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?,” yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku (Markus 15:34). Semua perbuatan Yesus tersebut tentu sangat tidak logis jika Yesus memang berkeinginan menjadikan dirinya tebusan bagi banyak orang  (Matius 20:28)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wahyu Allah, Melalui Mimpi Atau Firman?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.