Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Mukmin – Kembali ke Fitrah Atau Menjadi Benar di Hadapan Allah?



Ramadhan hampir berakhir dan seluruh Muslim bersiap menyambut Idul Fitri. Idul Fitri juga dimaknai penganut agama Islam sebagai ‘kembali ke fitrah’ atau kembali kepada keadaan semula sebagaimana saat manusia itu dilahirkan.
Manakah yang terpenting, kembali ke fitrah atau menjadi benar di hadapan Allah? Jawaban dari pertanyaan ini akan menolong kita mempunyai perspektif yang benar, bahwa hari pembalasan Allah bukanlah momok yang mengerikan lagi.

Keadaan Manusia di Awal Penciptaan

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Islam mengajarkan bahwa semua bayi lahir dalam keadaan suci. Ajaran itu tentu tidak salah sepenuhnya. Namun ada hal yang terlupakan oleh kita, bahwa dalam diri setiap manusia terdapat naluri sebagai pendosa. Naluri pendosa ini sudah ada, bahkan sejak kita masih dalam kandungan. “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Zabur, Kitab Mazmur 51:7).

Seumur hidup, sekuat tenaga kita berusaha agar dosa-dosa kita semakin berkurang, bahkan bila memungkinkan semua dosa terbayar lunas. Salah satu cara adalah melakukan ibadah puasa Ramadhan, yang diyakini sebagai bulan penuh berkah dan kebaikan. Sebab bagi mereka yang berpuasa Ramadhan, disediakan satu pintu khusus ke sorga, yaitu pintu ar-Rayyan (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad). Bagaimanapun juga, belum ada seorang Muslim yang betul-betul kembali ke fitrah, walaupun sungguh-sungguh berusaha.

Disamping itu, ayat lain dalam Al-Quran menuliskan, “Barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (Qs 2:81).

Jawaban Saya: Dalam agama Islam semua bayi yang lahir dalam keadaan suci, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi” (Shahih Muslim: 4803). Dalam Hadits Shahih tersebut, Nabi Muhammad SAW menyatakan semua bayi lahir dalam kesucian (fitrah). Bayi tersebut akan tetap dalam kesucian (fitrah), selama kedua orang tuanya tidak menjadikannya Yahudi, Nasrani (Kristen) atau Majusi. Ini artinya, penyebab manusia kehilangan kefitrahan dirinya ketika mereka beragama dengan agama selain Islam. Hal tersebut sangat bertentangan dengan ajaran Kristen. Dalam Kristen terdapat yang namanya dosa asal. Yaitu dosa warisan dari Adam dan Hawa akibat keduanya melanggar perintah Tuhan untuk tidak mendekati sebuah pohon di surga. Dosa asal ini hanya dapat disucikan dengan menjadikan Tuhan sebagai korban penebus dosa. Oleh karenanya begitu seorang anak lahir ke dunia, dia sudah membawa dosa teramat besar.

Adam dan Hawa diciptakan Allah SWT dengan memiliki naluri untuk dapat berbuat dosa. Itulah sebabnya, walaupun mereka berdua hidup di dalam surga, mereka masih dapat berbuat dosa. Naluri yang ada pada Adam dan Hawa inilah yang kemudian diwariskan kepada anak cucunya sampai kita sekarang ini. Jadi bukan karena Adam berdosa lalu kita sekarang juga ikutan dapat berbuat dosa. Kita dapat berbuat dosa adalah karena Allah SWT memberikan naluri tersebut kepada Adam dan Hawa, yang kemudian mewariskannya kepada anak cucunya sampai kita sekarang. Adam dan Hawa memang telah berdosa karena memakan buah dari pohon yang Allah SWT larang untuk mendekatinya, tetapi dosa keduanya tidak menjalar sampai ke anak cucunya. Perbuatan dosa yang Adam dan Hawa lakukan hanya menimpa diri mereka sendiri. Mereka telah bertaubat, memohon ampun kepada Allah SWT dan Allah SWT menerima taubat mereka dan mengampuni keduanya. Oleh karena itulah, dalam Islam tidak dikenal adanya dosa asal atau dosa waris. 

Keduanya (Adam dan Hawa) berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.  (Al A'raaf: 23)

“Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk”(Thaahaa: 122)

Memang benar, sebesar apa pun usaha kita untuk bersih dari dosa, tetap saja kita tidak akan dapat benar-benar melepaskan diri dari dosa. Tetapi Allah SWT tidak meminta hamba-hambanya untuk hidup tanpa berbuat dosa. Kita hanya diwajibkan untuk bertaubat apabila berdosa. Mudah bagi Allah SWT apabila ingin  membuat manusia agar dapat hidup tanpa dosa sebagaimana Malaikat. Tapi Allah SWT tidak menghendaki itu. Allah SWT lebih menyukai manusia yang dapat berbuat dosa kemudian memohon ampunan atas dosanya, dari pada manusia yang dapat hidup tanpa dosa. Bahkan jika manusia tidak berbuat dosa sama sekali, Allah SWT akan memusnahkan mereka semua dan akan menciptakan umat yang pernah berbuat dosa;

 "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Demi Dzat yang jiwaku di tangannya, seandainya kamu sekalian tidak berbuat dosa sama sekali, niscaya Allah akan memusnahkan kalian. Setelah itu, Allah akan mengganti kalian dengan umat yang pernah berdosa. Kemudian mereka akan memohon ampunan kepada Allah dan Allah pun pasti akan mengampuni mereka.'(Shahih Muslim: 4936)

Seperti halnya amal-amal Shaleh lainnya, puasa Ramadhan yang dilakukan umat Islam tidak dapat menjadikan seorang Muslim dapat hidup tanpa berbuat dosa. Umat Islam berpuasa Ramadhan bukan agar dapat hidup tanpa berbuat dosa. Umat Islam berpuasa Ramadhan dengan harapan memperoleh rahmat dan ampunan-Nya, sebagaimana yang telah Allah SWT janjikan.

Tidak berbeda dengan kalian kafir Kristen pemuja Yesus. Kalian percaya dengan menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat akan dapat menyucikan dosa. Kalian percaya dengan menjadikan Yesus sebagai korban penebus dosa akan dapat hidup suci. Alasan kalian menjadikan Yesus sebagai korban penebus dosa untuk menyucikan diri dari dosa asal. Jika disalibnya Yesus kalian anggap dapat menyucikan diri dari dosa asal, bukankah seharusnya orang-orang Kristen sudah dapat hidup suci tanpa berbuat dosa? Tetapi kenyataannya tidak seperti itu! Kafir Kristen pemuja Yesus yang telah menjadikan Yesus sebagai korban penebus dosa ternyata masih dapat kembali berbuat dosa. Bukan hanya kafir Kristen yang awam, setingkat Paus, Romo, Pastor, Pendeta dan biarawan-biarawati saja masih dapat berbuat dosa. Baru-baru ini ada seorang Pendeta yang membunuh anak angkatnya dan menyetubuhi mayatnya. Perbuatan tersebut dilakukan sang Pendeta di kamar mandi Gereja di mana dia menjadi imam.

Itu artinya yang selama ini selalu digembar-gemborkan kafir Kristen bahwa dengan menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat akan dapat menyucikan diri dari perbuatan dosa ternyata hanya hoak saja. Mereka telah tertipu dengan dogma gereja dan berusaha menipu umat Islam.

Menyinggung masalah puasa Ramadhan umat Islam, kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa belum ada seorang Muslim yang betul-betul kembali ke fitrah, walaupun sungguh-sungguh berusaha. Ini bualan mereka saja. Tahu dari mana mereka kalau tidak ada seorang Muslim yang betul-betul kembali ke fitrah? Masalah siapa yang memperoleh rahmat dan ampunan Allah SWT setelah menjalani puasa Ramadhan itu masalah ghaib, yang hanya Allah SWT sendiri yang tahu. Yang dapat dilakukan oleh umat Islam hanyalah berdoa dan berbaik sangka kepada Allah SWT.

Kafir pemuja Yesus mengutip sebuah ayat Al-Qur’an yang artinya, “(Bukan demikian), yang benar: barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah: 81). Ayat tersebut sudah sering di kutip oleh kafir Kristen pemuja Yesus dan sudah sering pula saja jawab. Seperti enggak ada malunya mereka itu.    

Sekali lagi saya jawab, Al-Baqarah: 81 merupakan jawaban Allah atas klaim orang-orang Yahudi yang mengaku bahwa mereka masuk neraka cuma dalam hitungan beberapa hari saja. Allah menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang berdosa dan diliputi oleh dosanya, serta mengancam orang-orang Yahudi dengan azab neraka yang kekal, bukan hanya beberapa hari seperti yang mereka klaim. Setelah itu Allah melanjutkan firman-Nya, “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah: 82). Ini adalah harapan bagi orang-orang Yahudi yang pada ayat sebelumnya Allah SWT telah mengancam mereka dengan kekal di neraka. Kecuali jika di antara mereka mau beriman dengan menerima Islam sebagai agama dan beramal saleh, maka Allah akan menempatkan mereka dalam surga dan mereka kekal di dalamnya. Itu makna kedua ayatnya.

Kembali ke fitrah atau Menjadi Benar di Hadapan Allah?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Memang, intropeksi diri selama bulan Ramadhan adalah penting. Sehingga setelah Ramadhan selesai, kita bisa berada dalam norma-norma dan ajaran agama yang benar. Tetapi hal tersebut belumlah cukup membuat kita layak di hadapan Allah, karena Ia tidak akan pernah mentolerir sedikit dosa pun masuk ke dalam sorga-Nya yang kudus.

Lantas, apa yang harus kita lakukan agar Allah memandang kita sebagai orang yang benar dan layak masuk ke dalam sorga-Nya? Dalam Kitab Allah tertulis, “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya [lewat kematian Isa disalib], kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah” (Injil, Surat Roma 5:6).

Patut kita mengucap syukur kepada Allah, karena kasih dan kemurahan-Nya, kita bisa menjadi benar di hadapan-Nya melalui pengorbanan Isa Al-Masih. “ . . . sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri [Isa Al-Masih] sebagai korban” (Injil, Surat Efesus 7:27).

Jawaban Saya: Muhasabah atau intropeksi diri selama bulan Ramadhan adalah baik walaupun itu bukan amalan pokok di dalam bulan Ramadhan. Ibadah pokok di bulan Ramadhan adalah berpuasa dan menghidupkan malamnya dengan Shalat dan membaca Al-Qur’an. Tujuan dari Muhasabah atau indropeksi diri adalah untuk menghitung diri dengan amal-amal perbuatan yang pernah dilakukan di masa-masa yang telah lalu. Bukan agar berada ajaran agama yang benar setelah Ramadhan selesai, karena Allah SWT tidak akan menerima agama selain dari pada agama Islam (Ali 'Imran: 85), dan hanya Islam agama satu-satunya yang di ridhai oleh Allah SWT (Al Maa'idah: 3).

Memang betul kalau hanya Muhasabah atau intropeksi diri tentu belumlah cukup membuat kita layak di hadapan Allah. Tetapi itu bukan amalan pokok di bulan Ramadhan. Ibadah pokok di bulan Ramadhan sendiri adalah berpuasa dan menghidupkan malamnya dengan Shalat dan membaca Al-Qur’an. Puasa di bulan Ramadhan merupakan perintah Allah SWT, juga Shalat dan membaca Al-Qur’an. Maka tentulah akan menjadikan seorang Muslim benar di hadapan Allah SWT.

“Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya [lewat kematian Isa disalib], kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah” (Injil, Surat Roma 5:6). Ayat ini berasal dari surat kiriman Paulus dan bukanlah firman Allah. Kafir Kristen pemuja Yesus berdalil dengan surat-surat Paulus, padahal Paulus sendiri mengakui segala ucapannya bukan menurut firman Tuhan, tetapi ucapan orang bodoh yang merasa boleh sombong: Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah (2Korintus 11:17). Karena semua surat-surat kiriman Paulus merupakan ucapan orang bodoh, maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mempercayainya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mukmin – Kembali ke Fitrah Atau Menjadi Benar di Hadapan Allah?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.