Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Mushaf Al-Qur’an Tidak Dijilid Bersama Injil?

Kafir Kristen bertanya, mengapa ayat-ayat Al-Qur’an dibukukan menjadi satu mushaf tunggal dan tidak di jilid dengan Injil. Sementara Bible merupakan gabungan dari kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang di jilid menjadi satu. Sebab utama yang membuat para sahabat Nabi tidak berpikir untuk menjilid Al-Qur’an bersama Taurat dan Injil adalah karena Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkannya. Alih-alih memerintahkan untuk menjilid Al-Qur’an bersama Taurat dan Injil, melihat Umar bin Khattab RA membaca ringkasan Taurat saja Nabi Muhammad SAW menunjukkan ketidaksukaannya. Berikut ini haditsnya;

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Jabir dari Asy-Sya'bi dari Abdullah bin Tsabit berkata; 'Umar bin Khathab datang kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam lalu berkata; "Wahai Rasulullah, saya pernah bertemu dengan saudaraku dari Bani Quraidzah, lalu dia mencatatkan untukku ringkasan kitab Taurat, maukah saya tunjukkan kepada anda? (Abdullah bin Tsabit Radliyallahu'anhu) berkata; kontan wajah Rasulullah Shallallahu'alahiwasallam berubah. Saya bertanya kepada ('Umar Radliyallahu'anhu) tidakkah kau melihat gerangan yang terjadi pada wajah Rasulullah Shallallahu'alahiwasallam? Umar bergegas berkata; " Kami ridla Allah sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama dan Muhammad Shallallahu'alaihiwasallam sebagai seorang Rasul". Serta merta hilanglah kesedihan dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam lalu bersabda: "Sungguh Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalaulah di antara kalian terdapat Musa, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, sungguh kalian sesat. Sungguh kalian adalah umat yang diperuntukkan bagiku, dan aku adalah nabi yang diperuntukkan bagi kalian'. (Musnad Ahmad: 15303)

Alasan lainnya mengapa Al-Qur’an tidak mungkin di jilid bersama Taurat dan Injil adalah karena status dari kedua kitab itu sendiri. Taurat dan Injil hanya berlaku untuk bangsa Israel dan masa berlaku kedua kitab tersebut pun telah berakhir setelah Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul dengan Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk. Setelah Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul, semua ketentuan syariat yang ada dalam Taurat dan Injil terhapus dengan syariat agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Semua manusia yang hidup setelah di utusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul, tidak diperkenankan beragama dengan selain agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan tidak diperkenankan menjalankan kitab-kitab lain selain Al-Qur’an. Dalil Al-Qur’an dan Hadits Shahih mengenai penjelasan saya di atas, dapat anda baca di bawah ini;

Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu menerima (Al-Quran itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil (As-Sajdah: 23).

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (Ash-Shaff: 6)

“Keberadaan kalian di antara umat-umat terdahulu seperti permisalan antara antara shalat 'ashar hingga matahari terbenam. Pemeluk taurat diberi taurat dan mereka mengamalkannya hingga pertengahan siang, kemudian mereka tidak bisa lagi mengamalknnya sehingga diberi satu qirath. Kemudian pemeluk injil diberi injil dan mereka mengamalkannya hingga shalat 'ashar didirikan lantas mereka tidak bisa lagi mengamalkannya, dan mereka diberi satu qirath. Kemudian kalian diberi Al Qur'an dan kalian mengamalkannya hingga matahari terbenam, lantas kalian diberi dua qirath dua qirath...” (Shahih Bukhari: 6979)  

Hadits di atas adalah perumpamaan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wasallam buat untuk menjelaskan kedudukan umat Islam. Arti perumpamaan tersebut bahwa umat Yahudi diberi Taurat dan mengamalkannya sampai diturunkannya Injil, umat Nasrani diberi Injil dan mengamalkannya sampai diturunkannya Al-Qur’an, sementara itu umat Islam diberi Al-Qur’an dan mengamalkannya sampai matahari terbenam yaitu sampai tiba hari kiamat. Jadi seandainya pun ditemukan Injil yang sejati atau kitab-kitab lainnya yang isinya utuh tidak ada kerusakan di dalamnya, maka Injil atau kitab-kitab tersebut sudah tidak berlaku dan Allah Subhanahu wata’ala tidak akan memberikan pahala sebab mengamalkannya. Tidak ada pilihan bagi manusia yang hidup di zaman telah turunnya Al-Qur’an agar dapat selamat, kecuali menerima Islam sebagai agamanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nasrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (Shahih Muslim: 218)

Jika Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS di utus dengan membawa Taurat dan Injil hanya untuk bangsa Israil, Nabi Muhammad SAW di utus dengan membawa Al-Qur’an untuk semua manusia;

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan -yaitu Al 'Awaqi- telah menceritakan kepada kami Husyaim berkata. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Sa'id bin An Nadlr berkata, telah mengabarkan kepada kami Husyaim berkata, telah mengabarkan kepada kami Sayyar berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid -yaitu Ibnu Shuhaib Al Faqir- berkata, telah mengabarkan kepada kami Jabir bin 'Abdullah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada orang sebelum ku; aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka sejauh satu bulan perjalanan, dijadikan bumi untukku sebagai tempat sujud dan suci. Maka di mana saja salah seorang dari umatku mendapati waktu shalat hendaklah ia shalat, dihalalkan untukku harta rampasan perang yang tidak pernah dihalalkan untuk orang sebelum ku, aku diberikan (hak) syafa'at, dan para Nabi sebelum ku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia." (Shahih Bukhari: 323)

Jadi alasan tidak di jilidnya Al-Qur’an dengan Bible bukan hanya karena ada pertentangan antara ayat-ayat Al-Qur’an dan ayat-ayat Bible. Al-Qur’an tidak di jilid menjadi satu kitab dengan Bible karena sebab-sebab yang sudah saya jelaskan di atas. Jika hanya karena adanya pertentangan antara sehingga Al-Qur’an dan Bible tidak di jilid menjadi satu, bukankah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan antar kitab di dalamnya juga banyak pertentangan? Al-Qur’an dan Bible berbeda dalam proses penulisan dan pembukuannya. Tentu tidak tepat jika kafir Kristen pemuja Yesus menyamakannya. Al-Qur’an ditulis segera setelah ayat-ayat Al-Qur’an turun dan dibukukan oleh sahabat-sahabat Nabi tidak lama setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Berbeda dengan Perjanjian Baru yang ditulis empat puluh tahun sampai seratus tahun setelah Yesus diselamatkan Allah SWT dari penyaliban, di susun di tahun 200 Masehi dan disahkan menjadi sebuah kitab tunggal di tahun 397 Masehi, serta baru di tahun 419 Masehi di jilid menjadi satu dengan Perjanjian Lama. Itu artinya, para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru tidak tahu menahu tentang penjilidan kitab-kitab tulisannya, apalagi Yesus. Perjanjian Lama yang diklaim kafir Kristen pemuja Yesus sebagai kitab Yahudi juga tidak tepat. Karena orang-orang Yahudi tidak pernah mengakui Perjanjian Lama hasil kanon gereja. Orang-orang Yahudi mengakui kitab hasil kanon mereka sendiri.

Adanya keterkaitan kisah-kisah dalam Al-Qur’an dengan Bible tidak serta merta mengharuskan Al-Qur’an di jilid menjadi satu dengan Bible. Bible Perjanjian Lama sudah tidak original firman Allah karena sudah tercampur dengan sejarah bangsa Israel, tercampur dengan dongeng dan mitos-mitos bangsa Israel. Sedangkan Injil yang ada pada orang Kristen sekarang ini, adalah kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang tidak di kenal yang baru di tulis ratusan tahun setelah Nabi Isa AS atau Yesus tidak lagi tinggal di dunia. Injil Kristen tidak lebih dari kitab sejarah yang tidak jelas siapa penulisnya. Orang-orang Kristen periode awal saja tidak pernah menganggap Injil sebagai kitab suci. Mereka menganggap Injil tidak lebih dari kisah rakyat. Oleh sebab itu, penyusunan Perjanjian Baru tidak terjadi di periode awal kekristenan, tetapi terjadi ratusan tahun setelahnya. Sedangkan kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Baru, hanyalah kitab-kitab yang berisi tentang sejarah serta pengajaran-pengajaran orang-orang terdahulu dan bukan kitab wahyu yang berisi firman Allah.

Oleh karena Perjanjian Lama sudah tidak original berisi firman Allah dan Perjanjian Baru bukanlah kitab wahyu yang berisi firman-firman Allah. Maka sangat mustahil Al-Qur’an yang merupakan kitab wahyu di jilid menjadi satu bersama Bible. Jika Al-Qur’an dan Bible di jilid menjadi satu bersama Bible, maka Al-Qur’an yang berisi firman-firman Allah SWT akan tercampur dengan yang bukan firman Allah. Al-Qur’an akan rusak kesuciannya karena sudah tercemar dengan ayat-ayat Bible yang bukan firman Allah. Itulah kondisi yang sesungguhnya diinginkan oleh kafir Kristen pemuja Yesus terhadap Al-Qur’an. Ucapan Nabi saja dahulu dilarang ditulis agar tidak tercampur dengan Al-Qur’an, apalagi Bible yang isinya sudah tidak original firman Allah, sangat tidak mungkin di jilid dengan Al-Qur'an.

Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid Al Azdi telah menceritakan kepada kami Hammam dari Zaid bin Aslam dari Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Janganlah kalian menulis dariku, barangsiapa menulis dariku selain al-Qur'an hendaklah dihapus, dan ceritakanlah dariku dan tidak ada dosa. Barangsiapa berdusta atas (nama) ku -Hammam berkata: Aku kira ia (Zaid) berkata: dengan sengaja, maka henkdaklah menyiapkan tempatnya dari neraka." (Shahih Muslim: 5326)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mushaf Al-Qur’an Tidak Dijilid Bersama Injil?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.