Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Menjadi Mukmin, Cukup Sucikah Masuk Surga?

Dapatkah seorang pria atau wanita yang tidak suci berdiri di hadapan Allah?

Semua agama, khususnya agama Yahudi, Islam, dan Kristen percaya bahwa Allah Maha Suci. Dan memang demikianlah adanya, Allah Maha Suci! Kitab Suci Allah menuliskan “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Injil, Surat Ibrani 12:29). Apa saja yang tidak suci di mata Allah, akan dibakar habis. Tidak ada dosa yang tertinggal dimana Allah berada (Kitab Nabi Yesaya 6:7). Jika seseorang ingin masuk surga dan tinggal bersama dengan Allah, maka haruslah ia sungguh-sungguh suci! Bagaimana pandangan Islam tentang kesucian? Menurut pendapat orang-orang Muslim, menjadi suci bergantung pada apa yang dilakukannya. Penekanannya ialah pada perbuatannya.
               
Orang Yang Tidak Suci Terpisah dari Allah

Kafir Kristen Pemuja Yesus menulis: Seorang Muslim wajib berwudhu sebelum sholat. Penyucian dimaksudkan bertujuan untuk membersihkan diri dari kenajisan, agar dapat menghadap Allah. Bila bersentuhan dengan lawan jenis, akan dianggap najis dan wajib untuk berwudhu kembali.

Bagi wanita Muslim, ada saat-saat tertentu dimana mereka tidak dapat menghadap Allah. Yaitu ketika dia dalam masa datang bulan (haid). Wanita yang sedang haid juga tidak diperkenankan memegang Al-Quran bahkan tidak diijinkan masuk ke dalam Masjid. Selama masa-masa haid tersebut, wanita Muslim terpisah dari Allah. Ia harus menunggu hingga masa haidnya selesai, baru kemudian dapat melakukan aktivitas keagamaannya.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus yang tidak tahu apa-apa tentang Islam, berbicara mengenai Islam seolah mereka tahu benar tentang Islam. Mereka mengatakan seorang Muslim yang telah suci setelah wudhu, harus kembali berwudhu bila bersentuhan dengan lawan jenis karena di anggap najis. Sampai di sini terlihat kalau kafir Kristen pemuja Yesus tidak dapat membedakan antara najis dan hadats. Bersentuhan kulit dengan lawan jenis tidak membuat najis. Bersentuhan kulit dengan lawan jenis adalah salah satu sebab seseorang berhadats. Jika terjadi setelah berwudhu maka wudhunya batal dan harus di ulang kembali. Jadi yang menyebabkan seseorang harus mengulang wudhu adalah jika dia berhadats, bukan karena kena najis.

Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa seorang wanita yang sedang haid dianggap najis. Sehingga dia tidak diperkenankan untuk beribadah termasuk berpuasa sampai masa haidnya selesai. Itu tidak benar. Islam tidak pernah menganggap wanita yang sedang haid sebagai wanita najis. Wanita haid dalam Islam di anggap berhadats, bukan najis. Larangan Shalat bagi Muslimah yang sedang haid harusnya tidak perlu dipermasalahkan oleh kafir Kristen pemuja Yesus. Hal itu karena dalam Bible Perjanjian Lama juga terdapat larangan bagi wanita haid untuk beribadah, sebagaimana ayat di bawah ini:

Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam(Imamat 15:19) 

"Perintahkanlah kepada orang Israel, supaya semua orang yang sakit kusta, semua orang yang mengeluarkan lelehan, dan semua orang yang najis oleh mayat disuruh meninggalkan tempat perkemahan; baik laki-laki maupun perempuan haruslah kausuruh pergi; ke luar tempat perkemahan haruslah mereka kausuruh pergi, supaya mereka jangan menajiskan tempat perkemahan di mana Aku diam di tengah-tengah mereka." Maka orang Israel berbuat demikian, mereka menyuruh orang-orang itu meninggalkan tempat perkemahan; seperti yang difirmankan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat orang Israel(Bilangan 5:2-4)

Islam tidak pernah menganggap najis wanita yang sedang haid. Kafir Kristen pemuja Yesus menganggap wanita haid dalam Islam adalah najis, karena mereka menyamakan antara hukum Islam dan hukum Taurat dalam hal wanita haid. Menurut hukum Taurat, wanita yang sedang haid atau menstruasi memang di anggap najis. Sehingga segala sesuatu yang bersentuhan dengan mereka, segala yang di duduki  menjadi najis pula. Orang yang terkena oleh sesuatu yang telah tersentuh oleh perempuan yang sedang menstruasi menjadi najis pula. Oleh karena itu, perempuan yang sedang menstruasi dalam adat Yahudi harus dikucilkan dalam sebuah kamar agar tidak membuat najis semua yang di sentuhnya. Sebagaimana ayat-ayat di bawah ini: 

19  Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam. 20  Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga. 21  Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. 22  Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. 23  Juga pada waktu ia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam. 24  Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga. (Imamat 15:19-24)

Syariat Islam juga mengatur wanita yang sedang haid atau menstruasi, namun tidak sekejam hukum Taurat. Wanita yang sedang haid atau menstruasi menurut syariat Islam tidak di anggap najis dan membuat najis apapun yang disentuhnya. Yang di anggap najis dalam syariat Islam hanya lelehannya saja, bukan wanita yang sedang menstruasi. Syariat Islam hanya menganggap wanita yang sedang menstruasi itu berhadats atau tidak suci, sehingga diberi kelonggaran untuk tidak Shalat, Puasa, menyentuh dan membaca Al-Qur’an, dll. Oleh karena itu, menurut hukum Islam, wanita yang sedang menstruasi dapat tetap beraktifitas seperti biasa, baik di luar atau pun di dalam rumah. Hukum ini jauh lebih baik, lebih sempurna dan lebih bermartabat dari pada hukum Taurat yang menganggap wanita haid sebagai wanita najis.

Suci di Luar atau di Dalam?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Kitab Suci Injil menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu pun di luar seseorang yang dapat menyucikannya. Tidak ada perbuatan atau upacara agama yang dapat menyucikan seseorang, dan menjadikannya layak diterima oleh Allah. Isa Al-Masih mengajarkan kepada orang-orang yang beragama, agar tidak bergantung pada perbuatan-perbuatan untuk menjadi suci di hadapan  Allah. “Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya" (Injil, Rasul Markus 7:15).

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa Injil Kristen menjelaskan tidak ada sesuatu pun di luar seseorang yang dapat menyucikan. Ayat yang mereka kutip adalah ayat berikut ini;

Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." (Markus 7:15)

Ayat di atas sama sekali tidak berbicara mengenai bisa atau tidaknya seseorang menyucikan dirinya dari sesuatu yang ada dari luar. Ayat tersebut merupakan perumpamaan yang digunakan oleh Yesus, untuk mengajarkan bahwa makanan tidak dapat membuat seseorang menjadi najis atau berlaku jahat. Karena makanan hanya akan masuk ke dalam perut dan di buang ke jamban. Yang dapat membuat seseorang menjadi najis atau berlaku jahat, seperti pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,  perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan adalah berasal dari dalam, dari hati seseorang. Perumpamaan yang ada di Markus 7:15 tidak akan dapat dimengerti dengan baik jika tidak membaca ayat-ayat setelahnya. Kafir Kristen pemuja Yesus sengaja hanya mengutip Markus 7:15 supaya dapat membohongi orang lain dengan ucapan-ucapan mereka.

Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya,  karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.  Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Markus 7:17-23)

Hanya Isa Al-Masih Dapat Menjadikan Seseorang Suci

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Mustahil bagi seseorang dapat melakukan perbuatan baik, sehingga dapat menjadikannya cukup suci untuk berdiri di hadapan Allah. Sejuta perbuatan baik dan upacara agama, tetap tidak dapat membuat seseorang menjadi cukup suci, untuk tinggal bersama dengan Allah di surga-Nya.

Hanya ada satu cara, satu jalan saja. Yaitu iman kepada Isa Al-Masih! Dan kematian-Nya di kayu salib adalah rahasia yang dapat menghasilkan kesucian yang dituntut oleh Allah. Hanya darah Sang Juruselamat yang dapat membersihkan dosa-dosa kita dan membuat kita suci di hadapan Allah.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus dalam setiap tulisannya memang selalu menafikan amal sebagai sarana seseorang untuk dapat masuk surga. Tujuannya tidak lain agar setiap orang (terutama Muslim) tidak bergantung pada amal saleh sebagai salah satu upaya dalam mencapai keselamatan, sehingga dengan mudah kafir Kristen pemuja Yesus dapat menjerumuskan seorang Muslim ke neraka dengan mengikuti jejak mereka sebagai pemuja Yesus. 

Dalam Taurat, perbuatan baik juga dapat menolong manusia dari hukuman Allah. Pengampunan dosa dalam Bibel Perjanjian Lama selalu tidak dapat dipisahkan dengan korban persembahan darah binatang. Binatang itu bisa berupa lembu, kambing, domba, burung merpati dan burung tekukur. Misalkan seseorang berbuat dosa dengan melakukan satu hal yang dilarang oleh Tuhan, maka ia bersalah dan harus membawa kepada imam seekor domba jantan yang tidak bercela sebagai korban penebus salah (Imamat 5:17-18). Setelah itu sang imam harus menyembelih domba jantan tersebut pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan Tuhan dan menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya. Memotong-motong menurut bagian-bagian tertentu bersama-sama kepalanya dan lemaknya di atur oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah. Demikian juga isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah yang baunya menyenangkan bagi TUHAN (Imamat 1:10-13). Dari sini kita ketahui bahwa ternyata tujuan dari korban tebusan adalah untuk menyenangkan Tuhan.

Sekarang apa itu perbuatan baik dan apa itu perbuatan buruk? Perbuatan baik itu perbuatan yang dapat menyenangkan Tuhan dan perbuatan buruk itu perbuatan yang di benci Tuhan. Korban tebusan yang diperintahkan Tuhan dalam hukum Taurat ternyata bertujuan untuk menyenangkan Tuhan. Oleh karena dapat menyenangkan Tuhan, mempersembahkan korban tebusan termasuk perbuatan baik dan perbuatan baik itu ternyata dapat menutupi kesalahan atau perbuatan buruk orang yang berbuat dosa sehingga dapat menolong dari hukuman Allah.

Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan perbuatan baik tidak dapat menolong dari hukuman Allah. Padahal Yesus sendiri ketika ditanyai oleh seseorang, dengan perbuatan baik apakah yang diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal, Yesus tidak mengatakan hidup yang kekal tidak dapat dicapai dengan perbuatan baik. Sebaliknya Yesus justru menjawab pertanyaan tersebut dengan menyebutkan beberapa hukum Taurat (Matius 19:16-18). Di ayat lainnya Yesus juga mendorong murid-muridnya untuk mengumpulkan pahala dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk memperoleh hidup yang kekal (Matius 6:19-20). Itu semua adalah bukti bahwa perbuatan baik ternyata dapat menolong dari hukuman Allah.

Jalan Kepada Kesucian

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Kitab Suci Allah menjelaskan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya”(Injil, Surat Roma 3:23-25).

Ketika seseorang telah menerima penebusan dalam Isa Al-Masih, maka ia adalah suci di hadapan Allah. Seseorang yang menggantungkan keselamatannya kepada ritual agama, maka semua akan sia-sia. Karena ritual agama tidak dapat membuat seseorang cukup suci di hadapan Allah!

Jawaban Saya: Roma itu surat kiriman Paulus, bukan kitab suci Allah dan Paulus sendiri telah mengakui segala ucapannya bukan menurut firman Tuhan, tetapi ucapan orang bodoh yang merasa boleh sombong: Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah (2Korintus 11:17). Jadi tidak ada gunanya terus-terusan mempercayai ucapan Paulus.

Kafir Kristen pemuja Yesus menganggap darah Yesus yang di anggap mati di kayu salib dapat menyucikan dosa-dosa manusia, padahal Yesus sendiri bukanlah manusia suci yang terbebas dari dosa. Oleh karena Yesus bukan manusia suci yang terbebas dari dosa, maka Yesus bukan tebusan yang sempurna. Karena Yesus bukan tebusan yang sempurna, orang-orang yang menjadikan Yesus sebagai korban penebus dosa tidak akan tertebus dosanya dan tidak akan memperoleh kesucian dan keselamatan dengan menjadikan Yesus sebagai korban penebus dosa.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menjadi Mukmin, Cukup Sucikah Masuk Surga?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.