Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Mencintai yang Hidup (Isa) atau yang Mati (Muhammad)?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Baru-baru ini saya mendengar ceramah dari pakar agama tentang keperluan mencintai pendiri agamanya. Memang biasanya penganut agama menghargai pendiri agamanya. Tetapi menurut pembicara, pendiri agama yang perlu dicintai tersebut telah meninggal ratusan tahun yang lalu. Pertanyaan saya, "Apakah Pendiri Agama yang sudah mati dapat menerima cinta dari kita yang hidup?" Bagaimana pandangan Saudara pembaca?

Dalam Injil, pengikut Isa Al-Masih, Kalimah Allah, disuruh mencintai Dia. Ada ayat Allah yang mengatakan bahwa walaupun kita belum pernah melihat Dia, namun kita mengasihiNya (Injil, I Petrus 1:8). Hal ini mudah dimengerti karena Nabi Besar Isa Al-Masih sedang hidup dan berada di surga. Ayat Allah jelas: "... terangkatlah Ia [Isa ke surga] disaksikan oleh mereka [rasul-rasul], dan awan menutupNya dari pandangan mereka" (Kisah Para Rasul 1:9-10). Hal ini juga ditekankan dalam Sura (4) An Nisaa', Ayat 158: "... tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya."

Isa Al-Masih hidup, malah berjanji untuk selalu menyertai kaum-Nya dalam segala percobaannya sampai ke ujung bumi. Dalam pribadi Roh Allah Ia berjalan bersama-sama kita, Ia berbicara sama kita dan malah menjadikan kita "bait"Nya karena berdiam di dalam kita. Demikian, Ia dapat menerima cinta dan kasih kita karena Ia hidup. Jangan berusaha mencintai yang sudah mati. Cintailah Dia yang hidup!

Bagaimana saya dapat menyatakan cinta saya kepada Kalimah Allah? Pertama, dengan menerima Ia sebagai Juruselamat saya (Injil, Rasul Yahya 1:12). Jelas jikalau saya menolak Kalimah yang datang dari Allah, saya menyatakan bahwa saya tidak mencintai Dia. Bagaimana cara menerima Kalimah Allah yang hidup. Jikalau Saudara sungguh ingin menerima Dia, kiranya doa singkat di bawah ini, dengan sungguh-sungguh dan penuh khusyuk didoakan:

"Kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya mengucapkan syukur karena Kalimah Allah, yaitu Isa Al-Masih, menjelma menjadi manusia dan akhirnya disalibkan dan bangkit dari antara orang mati untuk saya. Saya mengaku dosa-dosa saya dan mohon agar Isa Al-Masih menjadi Juruselamat pribadi saya sekarang ini. Amin."

Jawaban Saya: Bagi umat Islam, Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW adalah sama-sama Nabi utusan Allah SWT yang mulia. Pandangan kami terhadap para Nabi adalah sama, yaitu tidak membeda-bedakan mereka, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya; Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri." (Ali 'Imran: 84).

Wajib bagi setiap Muslim untuk mencintai Nabi Muhammad SAW. Karena cinta kepada Nabi Muhammad SAW adalah bagian dari iman itu sendiri. Belum dapat dikatakan beriman seseorang apabila tidak mencintai Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana telah disebutkan dalam Hadits Shahih berikut;

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya". (Shahih Bukhari: 13)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata, saya mendengar Qatadah menceritakan hadits dari Anas bin Malik dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya." (Shahih Muslim: 63)

Telah mengkhabarkan kepada kami Washil bin Abdul A'la, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Waki' dari Al A'masy dari 'Adi bin Tsabit dari Zirr bin Hubaisy dari Ali, dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah berwasiat kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali orang mukmin dan tidak ada yang membenciku kecuali orang munafik." (Sunan Nasa'i: 4936)

Senada dengan sabda Nabi Muhammad SAW pada Hadits Shahih di atas, Yesus dalam Injil Kristen juga berkata;

Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. (Matius 10:37)

Mengenai cinta kepada Nabi Muhammad SAW, Imam al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi berkata, “Ketahuilah, bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah SAW adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah SAW yang utama adalah (dengan) meneladani beliau, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.”

Jadi mencintai Nabi Muhammad SAW berarti meneladani beliau, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab yang beliau contohkan. Semua perbuatan tersebut dapat dilakukan ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup atau setelah beliau wafat.

Dalam Injil Kristen, Yesus juga menyatakan orang yang mengasihinya adalah orang yang memegang segala perintah Yesus dan melakukannya; Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." (Yohanes 14:21). Yesus mengatakan bukan datang untuk meniadakan hukum Taurat (Matius 5:17), Yesus juga memerintahkan untuk menjalankan hukum Taurat (Matius 5:19). Tetapi kafir Kristen pemuja Yesus justru menganggap hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi. Sehingga mereka tidak menjalankan hukum Taurat yang Yesus sendiri memerintahkan untuk menjalankannya. Kecuali hanya beberapa hukum Taurat mereka masih melakukannya, seperti perpuluhan dan perayaan Paskah.

Seseorang akan berusaha sekuat tenaga dan dengan segala upaya baik pikiran, tenaga, atau bahkan kalau perlu nyawa dipertaruhkan, untuk menjaga apa yang dikasihinya dari sesuatu yang dapat menyakitinya, melukainya dan bahkan mungkin membunuhnya. Walaupun kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan diri mereka mengasihi Yesus, tetapi tindakan mereka terhadap Yesus tidak mencerminkan seseorang yang mengasihi Yesus. Bagi para pemujanya, Yesus derajatnya tidak lebih tinggi daripada domba atau kambing sembelihan penebus dosa. Bagaimana mungkin seorang yang mengklaim mengasihi Yesus, dapat menjadikan Yesus sebagai tumbal penebus dosa?

Kafir Kristen pemuja Yesus berkata bahwa Yesus hidup, malah berjanji untuk selalu menyertai kaum-Nya dalam segala percobaannya sampai ke ujung bumi. Oh ya itu benar. Dalam Matius 28:20 disebutkan Yesus berjanji akan menyertai pengikutnya sampai akhir zaman. Janji Yesus tersebut tidak pernah terjadi. Yesus naik ke sorga dan sampai saat ini tidak pernah kembali. Yesus pernah berjanji akan segera kembali ke dunia sebelum murid-muridnya selesai mengunjungi kota-kota Israel (Matius 10:23). Yesus juga pernah berkata bahwa dirinya akan datang sebelum orang yang ada di situ mati (Matius 16:28). Semua janji-janji Yesus tersebut tidak pernah terjadi. Kenyataan tersebut selain menjadi bukti kebohongan Injil Kristen, juga menjadi bukti Yesus tidak dapat terus-menerus menyertai murid-muridnya. Jika Yesus memang dapat menyertai murid-muridnya sampai kesudahan zaman, sudah barang tentu Yesus tidak perlu berjanji dengan janji yang tidak dapat dia tepati. Saya tidak bermaksud mengatakan Yesus berbohong dengan janji-janjinya. Kesalahan terletak pada tulisan-tulisan pengarang Injil Kristen yang sering menceritakan Yesus dengan berlebihan.

Sebetulnya Injil Matius berakhir pada pasal 28 di ayat ke 15. Hal tersebut terlihat dari isi ayat 15 yang lebih mirip kata-kata penutup sebuah cerita; Maka tentara pengawal itu mengambil uang itu, dan melakukan seperti yang dipesankan kepada mereka. Oleh karena itu cerita itu masih tersiar di antara orang Yahudi sampai pada hari ini. (Matius 28:15). Ayat Matius 28:15 inilah sesungguhnya ayat terakhir dari Injil Matius. Sedangkan lima ayat berikutnya, Matius 28:16-20 adalah ayat-ayat yang baru ditambahkan oleh Gereja kemudian. Kepalsuan ayat-ayat dalam Injil Matius tersebut ternyata juga dibenarkan oleh sarjana-sarjana Kristen berikut ini;

Hugh J. Schonfield, nominator pemenang Hadiah Nobel tahun 1959, dalam bukunya The Original New Testament, hal. 124: “This (Matthew 28:15) would appearto be the end of the Gospel (of Matthew). What follows (Matthew 28:16-20) fromthe nature of what is said, would then be a latter addition”. “Ayat ini (Matius 28:15) nampak sebagai penutup Injil (Matius). Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya (Matius 28:16-20), dari kandungan isinya, nampak sebagai (ayat-ayat) yang BARU DITAMBAHKAN KEMUDIAN”.

Selanjutnya, Robert Funk, Professor Ilmu Perjanjian Baru, Universitas Harvard, dalam bukunya The Five Gospels, mengomentari ayat-ayat tambahan ini sebagai berikut: “The great commission in Matthew28:18-20 have been created by the individual evangelist… reflect the evangelist idea of launching a world mission of the church. Jesus probablyhad no idea of launching a world mission and certainly was not the institusion builder. (is) not reflect direct instruction from Jesus”. “Perintah utama dalam Matius 28:18-20… diciptakan oleh para penginjil….memperlihatkan ide untuk menyebarkan ajaran Kristen ke seluruh dunia. YESUS SANGAT MUNGKIN TIDAK MEMILIKI IDE UNTUK MENGAJARKAN AJARANNYA KE SELURUH DUNIA DAN (Yesus) SUDAH PASTI BUKAN PENDIRI LEMBAGA INI (agama Kristen). (Ayat ini) tidak menggambarkan perintah yang diucapkan Yesus”

Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan untuk menyatakan cinta kepada Yesus, seseorang harus menerima dia sebagai juruselamat. Padahal Bible Perjanjian Lama menyebutkan hanya Tuhan satu-satunya juruselamat (Yesaya 43:11)  dan Yesus tidak sekalipun menyebut dirinya sebagai juruselamat. Coba cek Injil Kristen, di mana Yesus menyebut dirinya juruselamat? Nah, kalau Yesus saja tidak pernah menganggap dirinya juruselamat, bagaimana kita mau menerima Yesus sebagai juru selamat?

Hanya Tuhan satu-satunya juruselamat. Yesus tidak pernah menyebut dirinya sebagai juruselamat karena dia bukan juruselamat. Maka berdoalah kepada Tuhan karena Dialah satu-satunya juruselamat. Janganlah berdoa kepada Yesus karena dia bukan juruselamat. Bahkan Yesus harus berdoa kepada Tuhan agar dirinya diselamatkan; Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mencintai yang Hidup (Isa) atau yang Mati (Muhammad)?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.