Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Penghapusan Dosa: menurut Al Quran dan Alkitab

Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa di dalam agama Islam, dosa sekecil apapun akan menggagalkan seseorang untuk dapat menyeberangi jembatan Ash shirath dengan selamat. Dosa sekecil apapun, akan menyebabkan orang tersebut masuk ke dalam neraka jahanam. Untuk memperkuat pendapatnya tersebut, kafir Kristen pemuja Yesus mengutip beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya;

Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup (Thaahaa: 74)

(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah: 81)

Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun. (Ali 'Imran: 192)

Ayat-ayat Al-Qur’an di atas dikatakan oleh kafir Kristen pemuja Yesus dengan jelas dan tegas menyebutkan bahwa orang-orang yang berbuat dosa atau memiliki dosa akan dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Orang tersebut akan disiksa kekal atau selama-lamanya di neraka. Di neraka dia tidak mati dan tidak pula hidup. Apa yang dikatakan oleh kafir Kristen pemuja Yesus tersebut tentu saja tidak benar. Mereka hanya mengutip beberapa buah ayat kemudian menyimpulkannya. Tujuannya tentu saja untuk menyesatkan pembacanya.

Kafir pemuja Yesus mengutip sebuah ayat Al-Qur’an yang artinya, “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup” (Thaahaa: 74)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan sebuah riwayat dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah SAW berkhotbah. Dalam khotbahnya sampai pada firman-Nya: Sesungguhnya barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. (Thaha: 74). Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Adapun ahli neraka yang merupakan penduduk tetapnya, maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup. Adapun orang-orang yang bukan penghuni tetapnya, maka neraka membakar mereka, kemudian berdirilah orang-orang yang memberi syafaat, maka mereka memberikan pertolongan syafaatnya. Lalu dijadikanlah mereka bergolong-golong (dientaskan dari neraka) dan dilemparkan ke dalam sebuah sungai yang disebut Sungai Kehidupan, maka mereka tumbuh (muncul) darinya sebagaimana munculnya rerumputan di tempat (bekas) mengalirnya banjir.

Menurut riwayat di atas, ada dua golongan ahli neraka, yaitu penghuni tetap dan penghuni tidak tetap. Penghuni tetap neraka adalah orang-orang kafir dan orang-orang musyrik (Al Bayyinah: 6). Mereka abadi menempati neraka untuk selamanya, orang-orang inilah yang dimaksud dalam Thaha: 74. Sedangkan penghuni neraka tidak tetap adalah orang-orang beriman yang berat timbangan dosanya melebihi berat timbangan amalnya. Mereka di dalam neraka untuk membersihkan dosanya kemudian dimasukkan ke dalam surga.

Kafir pemuja Yesus mengutip sebuah ayat Al-Qur’an yang artinya, “(Bukan demikian), yang benar: barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah: 81).

Kafir pemuja Yesus mengutip ayat Al-Qur’an sepotong-sepotong sehingga muncul kesan bahwa Allah membiarkan orang berdosa tidak punya harapan, padahal tidak demikian. Ayat Al-Qur’an (Al-Baqarah: 81) tersebut, sebetulnya jawaban Allah atas klaim orang-orang Yahudi yang mengaku bahwa mereka masuk neraka cuma dalam hitungan beberapa hari saja. Allah menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang berdosa dan diliputi oleh dosanya, serta mengancam orang-orang Yahudi dengan azab neraka yang kekal, bukan hanya beberapa hari seperti yang mereka klaim. Setelah itu Allah melanjutkan firman-Nya, “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah: 82). Ini adalah harapan bagi orang-orang Yahudi yang pada ayat sebelumnya Allah telah mengancam mereka dengan kekal di neraka. Kecuali jika di antara mereka mau beriman dengan menerima Islam sebagai agama dan beramal saleh, maka Allah akan menempatkan mereka dalam surga dan mereka kekal di dalamnya. Itu makna kedua ayatnya.

Kafir pemuja Yesus mengutip sebuah ayat Al-Qur’an yang artinya, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun”. (Ali 'Imran: 192)

Penjelasan mengenai ayat di atas tidak jauh berbeda dengan penjelasan saya sebelumnya. Ada dua golongan ahli neraka, orang-orang kafir dan musyrik akan menjadi penghuni tetap neraka, mereka abadi menempati neraka. Sedangkan orang-orang beriman yang berat timbangan dosanya melebihi berat timbangan amalnya, mereka di dalam neraka untuk membersihkan dosanya kemudian dimasukkan ke dalam surga.  

Jika dosa sekecil apapun akan menyebabkan orang masuk ke dalam neraka jahanam, lalu untuk apa ada Mizan (timbangan amal) dan shirat? Harusnya orang berdosa bisa langsung dilemparkan ke neraka, tidak perlu di timbang amalnya dan tidak perlu melewati shirath. Adanya Mizan dan Shirath adalah bukti bahwa dosa tidak otomatis membuat seseorang masuk ke neraka, kecuali jika orang tersebut kafir atau musyrik.  

Selanjutnya, kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa Al-Qur’an dan Hadis kurang begitu jelas dan tidak terlalu tegas berbicara mengenai bagaimana agar dosa dapat dihapus atau dibersihkan. Pernyataan tersebut menjadi bukti palsunya pengakuan kafir Kristen pemuja Yesus bahwa mereka telah mempelajari Al-Qur’an dan Hadits. Karena jika mereka memang benar-benar mempelajari Al-Qur’an dan Hadits, kafir Kristen pemuja Yesus akan menemukan bagaimana seorang Muslim membersihkan dirinya dari dosa-dosa besar.

Memang benar, ada amal-amal shaleh yang apabila dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah SWT, maka Allah SWT dapat mengampuni dosa seseorang dengan lantaran melakukan amal-amal shaleh tersebut. Amal-amal shaleh yang dapat menghapus dosa di antaranya; puasa Arafah dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang (Shahih Muslim: 1977), Shalat lima waktu dapat menghapus semua kesalahan (Shahih Bukhari: 497), sabar terhadap musibah juga dapat menghapus dosa (Shahih Bukhari: 5209), dan banyak amal shaleh lainnya yang Allah akan mengganjar pengamalnya dengan penghapusan dosa. Tetapi itu hanya untuk menghapus dosa-dosa kecil. Sedangkan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa besar, seorang Muslim harus bertaubat, meminta ampunan Allah SWT, karena hanya Dia yang dapat mengampuni dosa. Sebanyak apapun dosa yang pernah dilakukan oleh seorang hamba, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya. Ada banyak ayat-ayat Al-Qur’an maha pengampunnya Allah SWT, beberapa di antaranya;

Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? (At Taubah: 104)

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Hadiid: 28)

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa': 116)

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga menggambarkan betapa maha pengampunnya Allah SWT di dalam Hadits-hadits Shahih berikut;

Telah menceritakan kepadaku 'Abdul A'la bin Hammad telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah dari 'Abdurrahman bin Abu 'Amrah dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari apa yang telah dikhabarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, beliau bersabda: "Dahulu, ada seorang yang telah berbuat dosa. Setelah itu, ia berdoa dan bermunajat; 'Ya Allah, ampunilah dosaku! ' Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa atau memberi siksa karena dosa.' Kemudian orang tersebut berbuat dosa lagi dan ia berdoa; 'Ya Allah, ampunilah dosaku! ' Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 'Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa atau menyiksa hamba-Nya karena dosa. Oleh karena, berbuatlah sekehendakmu, karena Aku pasti akan mengampunimu (jika kamu bertaubat).' (Shahih Muslim 4953)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari 'Amru bin Murrah dia berkata; aku mendengar Abu 'Ubaidah bercerita dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: " Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari, dan yang demikian terus berlaku hingga matahari terbit dari barat." Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Abu Dawud telah menceritakan kepada kami Syu'bah dengan sanad ini yang serupa dengan Hadits tersebut. (Shahih Muslim 4954)

Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Syaiban dari 'Ashim dari Ma'rur bin Suwaid dari Abu Dzar berkata secara marfu, "Orang yang terpercaya lagi dibenarkan (Rasulullah) Telah menceritakan padaku: "Allah berfirman: 'Kebaikan itu dilipat-gandakan hingga sepuluh lipat atau lebih, sedang kejahatan itu dicatat satu, atau akan Aku ampuni. Siapa saja bertemu dengan-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, namun ia tidak mensekutukan Aku dengan sesuatu pun, maka Aku akan memberinya ampunan sebanyak itu pula." (Musnad Ahmad: 20584)

Selanjutnya, kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa walaupun ada banyak ayat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa amal saleh akan membawa seseorang masuk ke surga, namun tetap saja sangat sulit bagi seorang Muslim untuk dapat yakin bahwa dia akan selamat. Sering kali suara hati nuraninya menuduh serta mengingatkannya akan dosa-dosa yang diperbuatnya. Dia tidak mampu memadamkan suara hati nurani tersebut. Dan dia menyadari betul akan dosa-dosa yang dia perbuat. Hal tersebut membuat dia sulit untuk yakin bahwa dia akan masuk surga.

Memang benar amal shaleh walaupun dipercaya oleh seorang Muslim akan membawanya masuk ke surga, namun hal tersebut tetap tidak membuat yakin bahwa dirinya akan selamat. Tetapi yang harus anda ingat. Masuk surga atau tidak, itu bukan bergantung pada apakah anda yakin masuk surga atau tidak. Masuk surga atau tidak itu tergantung bagaimana anda hidup. Keyakinan masuk surga bukan jaminan bagi seseorang masuk surga. Sama seperti seorang guru yang berjanji mengizinkan pulang lebih awal bagi muridnya yang dapat menjawab satu pertanyaan. Siapakah dari murid-murid guru tersebut yang akan pulang lebih awal, murid yang yakin akan pulang lebih awal atau murid yang dapat menjawab pertanyaan? Pasti yang akan pulang lebih awal adalah murid-murid yang dapat menjawab pertanyaan, bukan?! Nah seperti itulah kira-kira jika dibuat analogi.

Yesus dalam agama Kristen dipercaya sebagai penebus dosa. Dosa yang di tebus oleh Yesus itu adalah dosa akibat pelanggaran Adam (dosa asal), yang kemudian diwariskan kepada anak cucunya, bukan dosa yang biasa dilakukan oleh manusia. Jika mengikuti konsep dosa menurut ajaran Kristen tersebut, orang Kristen tetap akan masuk neraka kalau mereka berdosa. Nah, siapa manusia yang selama hidupnya mampu tidak berbuat dosa? Tidak satu pun, termasuk orang-orang Kristen. Jadi menurut ajaran Kristen, orang-orang Kristen pun tidak mempunyai kepastian bahwa mereka pasti akan masuk surga. Oleh karena itu, jangan pernah tertipu dengan kafir Kristen pemuja Yesus yang mengatakan bahwa mereka di jamin pasti masuk surga. Yang mereka katakan itu 1000 persen bohong!      

Adanya suara hati nurani yang mengingatkan akan dosa-dosa yang diperbuat, itu justru sangat bagus. Karena dengan seperti itu, seorang Muslim dapat berhati-hati dalam menjalani hidupnya. Tidak merasa puas dengan sebanyak apa pun amal yang diperbuat dan tidak menganggap diri lebih suci dari pada orang lain. Orang baik itu adalah orang yang merasa dirinya penuh dosa kemudian memperbaiki diri, bukan orang yang merasa dirinya suci kemudian lalai. Selain mengatakan Muslim tidak dapat yakin selamat walaupun beramal Shaleh, Kafir Kristen pemuja Yesus juga mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW ragu-ragu akan keselamatan dirinya. Untuk mendukung tuduhan tersebut, kafir Kristen pemuja Yesus mengutip dua Hadits Shahih, yaitu Shahih Muslim: 5042 dan Shahih Muslim: 5038. Tetapi ada Hadits Shahih lainnya yang memiliki matan lebih lengkap dari pada dua buah hadits yang di kutip oleh kafir Kristen pemuja Yesus. Jika dalam hadits shahih yang di kutip oleh kafir Kristen pemuja Yesus, Nabi Muhammad SAW bersabda hanya sampai kalimat; “tidak juga aku kecuali karena rahmat Allah” atau “kecuali bila Allah melimpahkan ampunan dan rahmat padaku”, maka dalam hadits shahih yang saya kutip, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa Beliau telah memperoleh limpahan ampunan dan rahmat Allah SWT. Perhatikan Hadits Shahih berikut;  

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Salah seorang dari kalian tidak akan dapat diselamatkan oleh amalnya, " maka para sahabat bertanya; 'Tidak juga dengan engkau wahai Rasulullah? ' Beliau menjawab: 'Tidak juga saya, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Maka beramallah kalian sesuai sunnah dan berlakulah dengan imbang, berangkatlah di pagi hari dan berangkatlah di sore hari, dan (lakukanlah) sedikit waktu (untuk shalat) di malam hari, niat dan niat maka kalian akan sampai." (Shahih Bukhari 5982).

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi 'Adiy dari Ibnu 'Aun dari Muhammad dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu 'Aliahi Wasallam, beliau bersabda: "Tidak seorangpun dari kalian dapat diselamatkan oleh amal amalnya." Para sahabat bertanya: "Tidak juga dengan engkau wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ya, begitupun denganku, akan tetapi Rabbku telah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku. Ya, begitupun juga denganku, akan tetapi Rabbku telah melimpah ampunan dan rahmatNya kepadaku." Beliau mengulanginya hingga dua atau tiga kali. (Musnad Ahmad: 6905)

Dalam hadits memang disebutkan bahwa seorang Muslim bahkan termasuk Nabi Muhammad SAW sendiri tidak akan diselamatkan oleh sebab amalnya. Seorang Muslim atau Nabi Muhammad SAW sendiri diselamatkan dengan rahmat Allah SWT. Jikalau Nabi Muhammad saw sudah pasti selamat karena Allah SWT telah melimpahkan ampuan dan rahmat-Nya kepada beliau, bagaimana dengan umatnya? Umat Islam dapat memperoleh keselamatan dengan cara banyak beramal, karena amal inilah yang akan menjadi sebab turunnya rahmat Allah SWT kepada seorang Muslim.

Kafir Kristen pemuja Yesus juga mengatakan bahwa Al-Qur’an menyatakan amal shaleh tidak menyelamatkan. Menurut mereka, dalam Surat 46 Al-Ahqaf ayat 9, Rasulullah SAW mengakui bahwa beliau sendiri belum tahu pasti apa yang akan terjadi dengan dirinya maupun pengikutnya pada hari yang akan datang tersebut.

Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan." (Al Ahqaaf: 9).

Tidak ada hubungan antara ayat di atas dengan keselamatan Nabi Muhammad SAW dan umatnya, seperti yang dikatakan oleh kafir Kristen pemuja Yesus. Ketidaktahuan Nabi yang di maksud dalam Al Ahqaaf: 9 adalah ketidaktahuan atas nasib beliau di dunia, apakah beliau akan di usir atau akan di bunuh oleh orang-orang kafir. Mengenai nasib Nabi Muhammad SAW di akhirat sudah dapat dipastikan tempat kembali Rasulullah SAW adalah surga, seperti yang telah disebutkan dalam dua Hadits Shahih yang sudah saya kutip di atas.

Selebihnya, tulisan kafir Kristen pemuja Yesus hanya berkutat membahas masalah keselamatan menurut dogma gereja atau ajaran Kristen. Ada banyak ayat Bible mereka kutip, yang menyebutkan masalah dosa, penebusan dosa dan keselamatan. Sengaja tidak saya jawab, karena selain hanya akan menambah panjang postingan ini, semua ayat-ayat Bible yang mereka kutip sudah saya jawab di blog ini. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penghapusan Dosa: menurut Al Quran dan Alkitab"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.