Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Akankah Perbuatan Baik Seseorang Melebihi Perbuatan Jahatnya?

Umat Muslim di seluruh dunia selalu berusaha untuk melakukan perbuatan baik. Sebab Al-Quran mengajarkan agar lebih banyak melakukan perbuatan baik dibanding perbuatan jahat. Karena syarat masuk sorga ditentukan banyaknya perbuatan baik seseorang. “Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan” (Qs 23:102). Pada Hari Penghakiman, Allah akan menimbang perbuatan mereka. Jika perbuatan baik lebih banyak, mereka akan masuk ke sorga. Sebaliknya, jika perbuatan jahat lebih banyak, maka akan masuk ke neraka.

Satu Dosa Membuat Anda Penuh dengan Dosa

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Namun yang menjadi masalah adalah, kita tidak pernah tahu, apakah perbuatan baik kita akan melebihi perbuatan jahat, sampai kita ada di hadapan Allah. Seumur hidup, kita tidak akan pernah tahu, apakah perbuatan baik kita sudah cukup untuk membuat kita dapat masuk sorga. Masalah lain yang perlu kita pikirkan, bahwa satu perbuatan jahat akan membuat semuanya “jahat” atau “penuh dosa”

Misalnya seseorang memberi Anda sepiring nasi goreng dengan sepotong kecil daging babi di dalamnya. Apakah Anda akan memakannya? Tentu tidak! Sebab sepotong daging babi membuat satu piring nasi goreng itu haram. Dengan cara yang sama, satu dosa membuat Anda penuh dengan dosa. Allah itu suci, tidak berdosa. Jadi mengapa Dia akan mengijinkan orang-orang yang telah melakukan dosa, walaupun hanya satu dosa, untuk masuk ke dalam sorga-Nya? Sorga harus bebas dari dosa.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa kita tidak pernah tahu apakah perbuatan baik kita akan melebihi perbuatan jahat. Tidak perlu sampai sejauh itu yang harus kita ketahui. Umat Islam hanya cukup menjalankan perintah-perintah agama dan menjauhi yang dilarang dalam agama. Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan satu perbuatan jahat akan membuat semuanya jahat atau penuh dosa. Saya katakan, tidak ada seperti itu di dalam Islam. Kalau dalam agama Kristen mungkin ada seperti itu. Karena dalam Yakobus 2:10 dikatakan; Sebab barang siapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Terserah kafir Kristen pemuja Yesus kalau mereka mau terus dibohongi pakai Yakobus 2:10.

Kafir Kristen pemuja Yesus membuat sebuah analogi nasi goreng dengan sepotong kecil daging babi di dalam. Analogi itu hanya cocok untuk agama mereka sendiri. Yang menganggap satu perbuatan jahat akan membuat semuanya jahat dan penuh dosa. Sedangkan dalam Islam tidak seperti. Itu sebabnya ada mizan yang berfungsi sebagai timbangan amal. Jika amal shalehnya lebih berat maka dia akan masuk surga, kalau amal shalehnya lebih ringan, maka dia akan masuk neraka untuk membersihkan dosanya. Itu dapat di analogikan seperti seorang murid yang diberikan sepuluh soal oleh gurunya. Salah dalam menjawab satu soal, tidak membuat sembilan jawaban dari soal lainnya ikut menjadi salah.

Akankah perbuatan baik seseorang dapat melebihi perbuatan jahatnya? Sangat bisa! Karena dalam Islam amal shaleh seseorang dilipat gandakan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT di bawah ini;

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (An Nisaa': 40)

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (Ar Ruum: 39)

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. (Al Hadiid: 11)

Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (Ath Thalaaq: 5)

Sementara itu Allah SWT tidak melipat gandakan perbuatan dosa seseorang dan membuka pintu ampunan sebesar-besarnya bagi hamba-hambanya. Sebagaimana firman Allah SWT di bawah ini;

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An Nisaa': 48)

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa': 116)

Bagaimana Cara untuk Masuk ke dalam Sorga?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Di dalam Taurat, Allah menetapkan sistem kurban bagi orang-orang Yahudi. Mereka harus memberikan kurban darah untuk membayar perbuatan dosa mereka. Akan tetapi, ada masalah dengan sistem ini. Kurban harus diberikan secara berkala, karena kita melakukan dosa setiap hari! Untuk mengatasi masalah tersebut, maka Allah mengutus Isa Al-Masih. Isa datang ke dunia dan menjalani hidup yang sempurna. Dia tidak pernah berdosa. Oleh sebab itu, Isa akan menjadi Kurban terakhir, guna membayar dosa semua orang. “. . . kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus [Isa Al-Masih]” (Injil, Surat Ibrani 10:10).

Jawaban Saya: Islam tidak mengenal penebusan dosa dengan cara menjadikan hewan sebagai korban penebus dosa. Pengampunan dosa dalam Islam dilakukan dengan cara bertaubat kepada Allah, bukan dengan menjadikan hewan sebagai korban penebus dosa seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi atau menjadikan Tuhan sebagai korban penebus dosa seperti yang dilakukan oleh orang-orang Kristen. Kafir Kristen pemuja Yesus menganggap Yesus tidak pernah berdosa sehingga pantas dikorbankan sebagai penebus dosa. Padahal Injil Kristen menceritakan perbuatan dosa yang dilakukan oleh Yesus. Misalnya ketika satu hari Yesus di ajak oleh saudara-saudaranya untuk menghadiri sebuah pesta, Yesus menolak dengan alasan waktunya belum genap. Tetapi setelah saudara-saudaranya pergi ke pesta, Yesus pun pergi ke pesta tersebut dengan diam-diam (Yohanes 7:10). Perbuatan Yesus tersebut tergolong perbuatan dosa karena melanggar hukum Taurat yang melarang berbohong dan berdusta (Imamat 19:11). Yesus juga pernah menyuruh murid-muridnya untuk mengambil keledai betina milik orang lain tanpa izin pemiliknya (Matius 21:2). Perbuatan Yesus tersebut dapat digolongkan sebagai tindak pencurian, karena definisi mencuri itu adalah mengambil properti milik orang lain tanpa izin pemiliknya. Mencuri termasuk perbuatan dosa karena hukum Taurat melarang perbuatan tersebut (Keluaran 20:15, 17).  

Pilihan Ada di Tangan Anda!

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Allah ingin semua orang ada di sorga bersama-Nya. Tetapi Anda harus menerima pengorbanan Isa. Tanpa hal ini, dosa Anda akan tetap melekat pada Anda. Anda harus membayarnya sendiri. Jadi, yang mana yang Anda akan pilih?

Akankah Anda percaya kepada Isa dan menerima pengorbanan-Nya? Atau Anda akan terus mencoba sendiri untuk menghilangkan perbuatan jahat Anda? Pilihan ada di tangan Anda!

Jawaban Saya: Dosa asal adalah dosa akibat dari ketidaktaatan Adam. Dosa ini hanya dapat ditebus hanya dengan mengkorbankan darah Tuhan yang telah turun dalam rupa manusia Yesus. Orang yang ingin menyucikan dirinya dari dosa asal harus menerima Yesus sebagai Tuhan, penebus dan juru selamat. Oleh karena dalam Islam tidak dikenal yang namanya dosa asal, maka seorang Muslim dapat dikatakan tidak perlu menyucikan dirinya dari dosa asal. Seorang Muslim juga tidak perlu sampai menjadikan Tuhan sebagai korban penebus dosa. Seorang Muslim pun TIDAK BUTUH Yesus sebagai penebus dosa, Tuhan dan juru selamat dirinya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Akankah Perbuatan Baik Seseorang Melebihi Perbuatan Jahatnya?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.