Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Salam Islam 'Assalamualaikum' dan Salam Isa, Mana Lebih Menghibur?

Para Muslim sering mengucapkan salam, Assalaamu’alaikum, di antara mereka. Apakah arti kata Assalaamu’alaikum lebih menghibur daripada salam dari Isa Al-Masih?

Arti Kata Assalaamu’alaikum

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh berarti semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah kepada kalian. Sahabat-sahabat Muslim saya tidak mengucapkan Assalaamu’alaikum kepada saya. Saya bingung, dan bertanya dalam hati. Setelah belajar Islam, saya tahu bahwa haram hukumnya memberi salam kepada non-Muslim. “Jangan kalian mengawali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani . . .” (HR. Muslim no. 2167).

Jawaban Saya: Mengucap salam adalah salah satu dari ajaran dalam Islam. Salam yang dimaksud di sini adalah ucapan Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu, yang artinya semoga selamat, sejahtera, rahmat dan berkah Allah terlimpah atasmu. Mengucap salam kepada sesama Muslim hukumnya sunnah dan menjawabnya adalah wajib. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih;

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Asy'ats bin Sulaim dia berkata; saya mendengar Mu'awiyah bin Suwaid bin Muqarrin dari Al Barra` bin 'Azib radliallahu 'anhuma dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara, beliau melarang kami dari memakai cincin emas, mengenakan sutera, dibaj, istabraq (kain sejenis sutera), qasiy dan misarah (yaitu kain yang terbuat dari campuran sutera), dan memerintahkan kami untuk mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit dan menebarkan salam." (Shahih Bukhari: 5218)

Oleh karena salam merupakan do’a keselamatan, rahmat dan keberkahan, maka tidak boleh bagi umat Islam untuk memulai mengucapkan salam kepada orang-orang kafir, karena mereka telah Allah SWT pastikan menjadi penghuni neraka. Larangan mengucap salam kepada orang-orang kafir terdapat dalam hadits shahih berikut;

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id; Telah menceritakan kepada kami 'Abdul'Aziz yaitu Ad Daraawardi dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mendahului orang-orang Yahudi dan Nasrani memberi salam. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit." (Shahih Muslim: 4030)

Jika orang-orang Yahudi dan Nasrani (Kristen) terlebih dahulu mengucap salam, jawaban salam untuk mereka hanya wa alaikum. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih berikut;

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Marzuq berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dari Anas berkata, "Para sahabat sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada beliau, "Orang-orang ahli kitab memberi salam kepada kami, lalu bagaimana kami memberi jawaban?" beliau menjawab: "Ucapkanlah 'Wa Alaikum (dan atas kalian)." Abu Dawud berkata, "Seperti itu pula riwayat 'Aisyah, Abu 'Abdurrahman Al Juhanni dan Abu Bashrah -maksudnya Abu Bashrah Al Ghifari-." (Sunan Abu Daud: 4531)

Ajaran Al-Quran Tentang “Assalaamu’alaikum”

Qs 59:23 menuliskan "Dialah Allah, tidak ada ilaah (sesembahan) yang layak kecuali Dia . . . Maha Sejahtera . . .”

Dalam ayat ini, As-Salaam (Maha Sejahtera) adalah satu dari nama-nama agung Allah SWT. Menurut Al-Majd Fairuz Abadi makna As-Salam ialah “Engkau tidak akan luput dari semua kebaikan dan berkah dan engkau selamat dari semua yang dibenci dan yang merupakan kejelekan.”

Kesimpulannya, Salam berarti:

1.  Mengingat (dzikr) Allah SWT,
2.  Pengingat diri,
3.  Ungkapan kasih sayang antar sesama Muslim,
4.  Doa yang istimewa, dan
5.  Pernyataan atau pemberitahuan bahwa ‘Anda aman dari bahaya tangan dan lidahmu.’

Isa Al-Masih dan Gelar Alssalam

Kafir Kristen Kristen pemuja Yesus menulis: Isa juga memiliki gelar “Raja Damai” (rayiys alssalam) (Kitab Nabi Yesaya 9:5). Mengapa Isa memiliki gelar yang hanya untuk Allah? Karena hakekat Isa Al-Masih adalah Firman Allah (Injil, Rasul Besar Yohanes 1:1).

Jawaban Saya: Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai(Yesaya 9:5).

Menurut kafir Kristen pemuja Yesus ayat tersebut merupakan nubuat untuk Yesus, tapi coba lihat kalimat “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita”, itu berarti seorang anak yang dimaksud dalam Yesaya 9:6 tersebut bukanlah Yesus, karena anak tersebut telah lahir di zaman Yesaya. Oleh sebab itu menyebut “Raja Damai” sebagai gelar untuk Yesus sangat tidak tepat.

Mengenai Yohanes 1:1 sampai dengan ayat yang ke 14, ayat-ayat tersebut berasal dari hymne Platonis yang diperkenalkan oleh Philo dari Alexandria. Bunyi kalimat pertama adalah:

“Pada mulanya adalah Logos (firman), Logos (firman) itu bersama dengan Tuhan, dan Logos (firman) itu berasal dari Tuhan.”

Penyalin Kitab Yohanes kemudian mengadopsi hymne ini dan menempatkannya sebagai pembukaan Injil Yohanes, lalu merubah kalimat: “Logos itu berasal dari Tuhan” menjadi “Firman itu adalah Tuhan.”

Pencaplokan ajaran Platonis oleh penyalin Injil Yohanes ini, dijelaskan oleh bapa gereja Santo Agustinus dalam bukunya The Confession of St. Augustine di bawah sub judul ‘Kitab Suci dan Filsafat Penyembah Berhala’ sebagai berikut:

“…Book of the Platonis that had been translated ou of Greek into Latin. In then I read, not indeed in these words but much the same thought, enforced by many varied arguments that: In the beginning was the word, and the word was with God and the word was God. All things were made by him, and without gim nothing was made.”

“… Buku filsafat Platonis yang telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. Di dalamnya saya baca, walaupun tidak sama persis tetapi jalan pikirannya sama, didukung dengan berbagai argumen bahwa: Pada mulanya adalah firman, dan firman itu bersama Tuhan, dan firman itu adalah (dari) dari Tuhan. Segala sesuatu dijadikan oleh dia (firman) dan tanpa dia (firman) tidak ada yang dijadikan.”

Catatan kaki Alkitab The New Testament of the New American Bible, 1970 hal. 203, memperkuat pendapat bahwa Yohanes 1:1-18 bukanlah bagian Injil Yohanes, melainkan karya lepas yang kemudian dimasukkan menjadi pembuka kitab Yohanes tersebut:

“John 1:1-18; “The prologue is a hymn, formally poetic in style – perhap originally an independent composition and only later adapted and edited to serve as an overture to the Gospel.”

“Yohanes 1:1-18; pembukaan ini merupakan hymne berbentuk syair – mungkin berasal dari karya bebas, yang kemudian baru dikutip dan diedit untuk berperan sebagai pembuka Injil.

Kaitan Status Manusia dan Pendamaian Isa Al-Masih

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Meskipun taat beragama, orang Islam dan Kristen masih sering berdosa. Kita membenci sesama, sombong, tidak taat, marah, egois dan sebagainya. Dosa-dosa itu menjadikan kita bermusuhan dengan Allah yang Maha Suci. Di mata Allah, kita adalah musuh-musuh-Nya yang harus dihukum. Isa datang ke dunia untuk mendamaikan manusia berdosa dengan Allah. Sehingga oleh Allah, manusia tidak lagi dianggap musuh yang harus dihukum. Melainkan sebagai anak-anak Allah yang dijamin masuk sorga. Injil Allah menegaskan kebenaran itu. ". . . kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya [Isa Al-Masih], lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!" (Injil, Surat Roma 5:10). Melalui kematian-Nya, Isa menanggung hukuman dosa manusia. Ia mengampuni dosa dan menjamin hidup kekal orang yang percaya kepada-Nya. Dengan demikian umat Isa telah berdamai dengan Allah.

Jawaban Saya: Memang benar. Meskipun seorang Muslim taat dalam beragama, terkadang masih dapat melakukan dosa. Menurut Islam jika seseorang ingin diampuni Allah dari dosanya, orang tersebut harus bertaubat dengan sungguh-sungguh, meminta ampun kepada Allah dan tidak mengulanginya lagi (Ali-Imran: 135). Allah telah berjanji akan mengampuni dosa bagaimana pun banyak dan besarnya dosa yang kita lakukan kecuali dosa syirik, yaitu dosa yang timbul akibat menyekutukan Allah dengan makhluknya (An-Nisa 48).

Selain dengan taubat dan permohonan ampun, Allah SWT juga dapat mengampuni dosa seseorang dengan lantaran melakukan amal-amal shaleh. Amal-amal shaleh yang dapat menghapus dosa tersebut di antaranya; puasa Arafah dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang (Shahih Muslim: 1977), Shalat lima waktu dapat menghapus semua kesalahan (Shahih Bukhari: 497), sabar terhadap musibah juga dapat menghapus dosa (Shahih Bukhari: 5209), dan banyak amal shaleh lainnya yang Allah akan mengganjar pengamalnya dengan penghapusan dosa. Itu artinya perbuatan baik dapat menolong dari hukuman Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW telah menggambarkan betapa maha pengampunnya Allah SWT di dalam hadits shahih berikut;

Telah menceritakan kepadaku 'Abdul A'la bin Hammad telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah dari 'Abdurrahman bin Abu 'Amrah dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari apa yang telah dikhabarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, beliau bersabda: "Dahulu, ada seorang yang telah berbuat dosa. Setelah itu, ia berdoa dan bermunajat; 'Ya Allah, ampunilah dosaku! ' Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa atau memberi siksa karena dosa.' Kemudian orang tersebut berbuat dosa lagi dan ia berdoa; 'Ya Allah, ampunilah dosaku! ' Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 'Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa atau menyiksa hamba-Nya karena dosa. Oleh karena, berbuatlah sekehendakmu, karena Aku pasti akan mengampunimu (jika kamu bertaubat).' (Shahih Muslim 4953)

Jadi orang yang berdosa hanya cukup bertaubat untuk menghapus dosanya, tidak perlu mengorbankan korban tebusan, apalagi sampai harus menjadikan Tuhan sebagai tumbal penebus dosa. Dari sini sesungguhnya kami umat Islam benar-benar tidak membutuhkan sosok Tuhan juru selamat yang dijadikan tumbal penebus dosa. Islam memiliki cara untuk di ampuni dosanya. Umat Islam tak butuh Yesus

Manakah Yang Lebih Menghibur?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Assalaamu’alaikum dan amal tidaklah menghibur. Sebab keduanya tidak dapat membebaskan manusia berdosa dari hukuman kekal. Sebaliknya, pendamaian Isa Al-Masih sungguh menghibur. Sebab Isa berkuasa mendamaikan manusia berdosa dengan Allah. Melalui kematian-Nya, Isa mengampuni dosa dan menjamin hidup kekal di sorga.

Jawaban Saya: Amal shaleh dalam Islam dapat menjadi sebab seorang Muslim masuk surga, sebagaimana telah banyak disinggung dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. Amal shaleh juga dapat menghapus dosa seorang Muslim, sebagaimana telah saya jelaskan di atas. Kafir Kristen pemuja Yesus dalam setiap tulisannya memang selalu menafikan amal sebagai sarana seseorang untuk dapat masuk surga. Tujuannya tidak lain agar setiap orang (terutama Muslim) tidak bergantung pada amal saleh sebagai salah satu upaya dalam mencapai keselamatan, sehingga dengan mudah kafir Kristen pemuja Yesus dapat menjerumuskan seorang Muslim ke neraka dengan mengikuti jejak mereka sebagai pemuja Yesus. Menjadikan Yesus sebagi Tuhan dan juru selamat, tidak akan menyelamatkan seseorang dari hukuman kekal, tetapi justru akan memperoleh hukuman kekal karenanya. Sebagaimana firman Allah SWT;

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. (Al Maa'idah: 72)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Al Bayyinah: 6)

Kafir Kristen pemuja Yesus berkata bahwa Yesus berkuasa mendamaikan manusia berdosa dengan Allah, bahwa Yesus mengampuni dosa. Padahal dalam Injil Kristen, Yesus mengajarkan kepada umatnya bangsa Israel untuk memohon ampunan kepada Tuhan;

dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan." (Lukas 11:4)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Salam Islam 'Assalamualaikum' dan Salam Isa, Mana Lebih Menghibur?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.