Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Para Mukmin, Jangan Berputus-Asa Akan Rahmat Allah!

Al-Quran mengingatkan kaum Muslim agar jangan putus asa dari rahmat Allah SWT. Merenungkan tulisan ini kita akan memahami rahasia Rahmat Allah Sejati.

Makna Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah SWT

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Al-Quran menuliskan “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku . . . janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs 39:53). Menurut Ibnu Katsir ayat itu adalah “. . . seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat, baik kekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah . . . bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertaubat dari dosa-dosa tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagaikan buih di lautan.”

Kita terhibur dengan ayat ini. Namun ajaran Al-Quran lainnya nampak berbeda makna dengan ayat ini.

Jawaban Saya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa  semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az Zumar: 53)

Ayat ini merupakan seruan kepada segenap para pendurhaka dari kalangan orang-orang kafir dan lain-lainnya agar bertobat dan kembali kepada-Nya. Juga sebagai pemberitahuan bahwa Allah SWT mengampuni semua dosa bagi orang yang mau bertobat kepada-Nya dan meninggalkan perbuatan-perbuatan dosanya, betapapun banyaknya dosa yang telah dilakukannya dan sekalipun banyaknya seperti buih laut. Ayat tersebut juga menjelaskan bagaimana dosa dapat di ampuni. Yaitu dengan memohon ampunan kepada Allah SWT dengan cara bertaubat kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Orang yang berdosa hanya cukup bertaubat untuk menghapus dosanya, tidak perlu mengorbankan korban tebusan, apalagi sampai harus menjadikan Tuhan sebagai tumbal penebus dosa. Dari sini sesungguhnya kami umat Islam benar-benar tidak membutuhkan sosok Tuhan juru selamat yang dijadikan tumbal penebus dosa. Islam memiliki cara untuk di ampuni dosanya. Umat Islam tak butuh Yesus.     

Qs 19:71 dan Rahmat Allah

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Di bagian lain, Al-Quran menuliskan janji berbeda. “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan” (Qs 19:71). Semua Muslim  melewati shirâth (jembatan di atas neraka) sesuai dengan kadar amal shalehnya. Kemudian Allah menyelamatkan mereka sesuai amalnya (ayat 72). Jika amal seseorang mencukupi untuk masuk sorga, maka Allahnya tidak perlu repot menyelamatkan dia. Sebab dia pasti selamat oleh amalnya itu. Dan itu bukanlah rahmat Allahnya, melainkan hasil usahanya. Jika keselamatan kaum Muslim berdasarkan amal mereka yang tidak sempurna, bukankah itu membuat mereka lebih berputus-asa akan rahmat Allah SWT?

Jawaban Saya: Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. (Maryam: 71).

Ayat ini sering kali di kutip dan dipahami secara serampangan oleh kafir Kristen pemuja Yesus. Makna dari “mendatangi” pada ayat tersebut adalah melintasi atau melewati, bukan memasuki seperti apa yang mereka katakan. Dalam hadits Shahih Muslim: 267 disebutkan bahwa kelak di akhirat nanti Allah SWT akan membentangkan shirath di atas neraka. Untuk masuk surga, semua manusia yang beriman akan melintasi atau melewati shirath tersebut. Kemudian Allah SWT akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa sesuai amal perbuatan mereka masing-masing, sementara itu orang-orang kafir dan pelaku maksiat dibiarkan oleh Allah SWT jatuh masuk ke dalam neraka. Di ayat selanjutnya, Allah SWT berfirman: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (Maryam: 72)

Kafir Kristen pemuja Yesus berkata bahwa jika amal seseorang mencukupi untuk masuk sorga, maka Allahnya tidak perlu repot menyelamatkan dia.

Justru dengan bekal iman dan amal saleh tersebut, Allah SWT menyelamatkan manusia dari neraka. Perhatikan ayatnya; “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa (Maryam: 72). Yang dimaksud orang-orang yang bertakwa pada ayat tersebut adalah orang-orang beriman yang beramal saleh dengan menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi yang dilarang-Nya.

Kafir Kristen pemuja Yesus memang sering kali mengatakan bahwa perbuatan amal yang dilakukan oleh umat Islam belum menjamin masuk surga. Karena keyakinan seorang Muslim terhadap amalnya yang akan menyampaikannya ke surga telah menjadi salah satu faktor penyebab seorang Muslim tidak akan pernah berpikir mencari jalan lain untuk keselamatan dirinya. Keselamatan dalam agama Kristen diperoleh dengan cara menjadikan Yesus sebagai korban penebus dosa. Kalau umat Islam sudah cukup dengan amal saleh yang dilakukannya, untuk apa lagi umat Islam butuh seorang penebus dosa? Inilah yang menyebabkan kafir Kristen pemuja Yesus frustrasi dan selalu mencari jalan agar muncul keraguan dalam hati seorang Muslim terhadap amalnya. Padahal banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan keterkaitan iman dan amal saleh terhadap surga sebagai balasannya.

Siapakah Rahmat Allah Itu?                          

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Bandingkan dengan janji Kitab Allah ini. Allah “. . . telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya . . . yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita” (Injil, Surat Titus 3:4-7). Isa Al-Masih, Sang Kalimatullah adalah rahmat Allah. Melalui kematian-Nya di kayu salib Dia yang menanggung hukuman dosa manusia, yaitu kematian kekal di neraka. Karena hakekat Isa adalah Allah, maka Dia berkuasa mengampuni segala dosa dan menjamin hidup kekal di sorga setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Jawaban Saya: Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita. (Titus 3:5-7)

Itu ayat keluar dari mulut Paulus, sedangkan Yesus sendiri ketika ditanya oleh seseorang; dengan perbuatan baik apakah yang diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal, Yesus tidak mengatakan hidup yang kekal tidak dapat dicapai dengan perbuatan baik. Sebaliknya Yesus justru menjawab pertanyaan tersebut dengan menyebutkan beberapa hukum Taurat (Matius 19:16-18). Di ayat lainnya Yesus juga mendorong murid-muridnya untuk mengumpulkan pahala dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk memperoleh hidup yang kekal (Matius 6:19-20). Itu semua adalah bukti bahwa perbuatan baik ternyata dapat menolong dari hukuman Allah. Kalau hanya dengan perbuatan baik manusia dapat menolong dirinya dari hukuman Allah SWT, lalu kenapa kafir Kristen pemuja Yesus masih saja menjadikan Yesus sebagai korban penebus dosa? Lagi pula darah Yesus tidak dapat menolong dari hukuman Allah karena Yesus Bukan Tebusan Yang Sempurna.

Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa Isa Al-Masih, Sang Kalimatullah adalah rahmat Allah. Melalui kematian-Nya di kayu salib Dia yang menanggung hukuman dosa manusia. Sudah saya katakan di awal. Dalam Islam orang yang berdosa hanya cukup bertaubat untuk menghapus dosanya, tidak perlu mengorbankan korban tebusan, apalagi sampai harus menjadikan Tuhan sebagai tumbal penebus dosa. Dari sini sesungguhnya kami umat Islam benar-benar tidak membutuhkan sosok Tuhan juru selamat yang dijadikan tumbal penebus dosa. Islam memiliki cara untuk di ampuni dosanya. Umat Islam tak butuh Yesus. Lagi pula Nabi Isa AS tidak mati di kayu salib, yang mati di salib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa AS (An Nisaa': 157). Oleh karena itu Nabi Isa AS tidak mampu mengampuni dosa manusia dan tidak dapat menjamin pemujanya masuk sorga. Buktinya Yesus mengusir orang-orang yang menganggap dirinya Tuhan;

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?  Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:22-23)

Pilihlah Rahmat, Bukan Laknat

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Jelas mencapai sorga bergantung amal dan harus melewati sirath, tidak berita yang baik bukan? Masuk sorga dengan melewati sirath dan bergantung pada amal, bukanlah rahmat, melainkan laknat. Ajaran itu membuat kita tetap berputus-asa akan rahmat Allah. Dengan menerima Isa sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, Anda pasti menikmati rahmat Allah sejati. Sebab Isa berkuasa memberikan pengampunan dosa-dosa dan jaminan hidup kekal.

Jawaban Saya: Memang benar dalam Islam ada yang sirat, yaitu semacam jembatan yang membentang di atas neraka. Setiap orang beriman akan di timbang amalnya dan kemudian akan melewati sirath. Seseorang yang di timbang amalnya di mizan dan melewati sirath adalah orang-orang yang berpeluang masuk surga. Tidak seperti mereka yang kafir seperti para pemuja Yesus. Mereka sama sekali tidak memiliki peluang untuk masuk surga. Sedangkan orang-orang kafir, termasuk Kafir Kristen pemuja Yesus tidak akan di timbang amalnya dan tidak akan melewati sirath, mereka akan langsung dilemparkan ke dalam neraka dan abadi di dalamnya. Di dalam hadits sahih Nabi Muhammad SAW bersabda;

...Kemudian beliau berkata: "Lantas ada seorang penyeru memanggil-manggil, "Hendaklah setiap kaum pergi menemui yang disembahnya!" Maka pemuja salib pergi bersama salib mereka, dan pemuja patung menemui patung-patung mereka, dan setiap pemuja Tuhan bersama tuhan-tuhan mereka hingga tinggal orang-orang yang menyembah Allah, entah baik atau durhaka dan ahli kitab terdahulu. Kemudian jahannam didatangkan dan dipasang, ia seolah-olah fatamorgana,...Lantas orang-orang Nashara (Kristen) di seru, "Apa yang kalian dahulu sembah?" Mereka menjawab, "Kami dahulu menyembah Isa al Masih, anak Anak Allah." Mereka dijawab, "Kamu semua bohong! Allah sama sekali tidak mempunyai isteri atau bahkan anak, dan apa yang kalian inginkan?" Mereka menjawab, "Kami ingin agar Engkau memberi kami minuman!" Lalu dijawab, "Minumlah kalian!" Dan langsung mereka berjatuhan di neraka jahannam hingga tersisa manusia yang menyembah Allah, entah yang baik atau berbuat durhaka. (Shahih Bukhari: 6886)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Para Mukmin, Jangan Berputus-Asa Akan Rahmat Allah!"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.