Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr yang Diliputi Misteri

Nabi Muhammad SAW yang buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis. Tetapi Al-Qur’an dapat memuat informasi yang isinya banyak yang sama atau menyerupai Bible, Kitab Suci kafir Kristen. Nabi Muhammad SAW mengetahui nama tokoh-tokoh serta kisah yang ada dalam Bible, tentu memperoleh informasi-informasi tersebut dari orang Kristen di masa jahiliyah, bukan dari membaca Bible karena status Beliau yang buta huruf. Itulah yang terlintas dalam pikiran orang-orang kafir. Kafir Kristen pemuja Yesus yang pada dasarnya membenci Islam, dengan sengaja mengabaikan kemungkinan lain mengapa Al-Qur’an memiliki beberapa kesamaan dengan Bible dalam ajaran, nama tokoh-tokoh serta kisah-kisah di dalamnya. Kafir Kristen pemuja Yesus mengabaikan kemungkinan Nabi Muhammad SAW memperoleh informasi dari Allah SWT, karena mereka tidak beriman terhadap kenabian Muhammad SAW dan menyisakan hanya satu kemungkinan mengapa Al-Qur’an memiliki beberapa kesamaan dengan Bible dalam ajaran, nama tokoh-tokoh serta kisah-kisah di dalamnya, yaitu mengetahui informasi tersebut dari orang Kristen bernama Waraqah bin Naufal bin Asad. Untuk memperkuat tuduhan mereka tersebut, kafir Kristen pemuja Yesus mengutip sebuah hadits shahih berikut;   

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab -dalam riwayat lain- Dan Telah menceritakan kepadaku Sa'id bin Marwan Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Aziz bin Abu Rizmah Telah mengabarkan kepada kami Abu Shalih Salmawaih ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdullah dari Yunus bin Yazid ia berkata, Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Syihab bahwa Urwah bin Zubair Telah mengabarkan kepadanya, bahwa Aisyah radliallahu 'anha isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata; Peristiwa awal turunnya wahyu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah diawali dengan Ar Ru`yah Ash Shadiqah (mimpi yang benar) di dalam tidur. Tidaklah beliau bermimpi, kecuali yang beliau lihat adalah sesuatu yang menyerupai belahan cahaya subuh. Dan di dalam dirinya dimasukkan perasaan untuk selalu ingin menyendiri. Maka beliau pun memutuskan untuk berdiam diri di dalam gua Hira`, beribadah di dalamnya pada malam hari selama beberapa hari dan untuk itu, beliau membawa bekal. Setelah perbekalannya habis, maka beliau kembali dan mengambil bekal. Begitulah seterusnya sehingga kebenaran pun datang pada beliau, yakni saat beliau berada di dalam gua Hira`. Malaikat mendatanginya seraya berkata, "Bacalah." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Beliau menjelaskan: "Lalu Malaikat itu pun menarik dan menutupiku, hingga aku pun merasa kesusahan. Kemudian Malaikat itu kembali lagi padaku dan berkata, 'Bacalah.' Aku menjawab, 'Aku tidak bisa membaca.' Malaikat itu menarikku kembali dan mendekapku hingga aku merasa kesulitan, lalu memerintahkan kepadaku untuk kedua kalinya seraya berkata, 'Bacalah.' Aku menjawab, 'Aku tidak bisa membaca.' Ia menarik lagi dan mendekapku ketiga kalinya hingga aku merasa kesusahan. Kemudian Malaikat itu menyuruhku kembali seraya membaca, 'IQRA` BISMIKAL LADZII KHALAQ, KHALAQAL INSAANA MIN 'ALAQ IQRA` WA RABBUKAL AKRAM ALLADZII 'ALLAMAL BIL QALAM.. -hingga- 'ALLAMAL INSAANA MAA LAM YA'LAM.'" Maka dengan badan yang menggigil, akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kembali kepada Khadijah seraya berkata, "Selimutilah aku..selimutilah aku." Hingga perasaan takut beliau pun hilang. Setelah itu, beliau berkata kepada Khadijah, "Wahai Khadijah, apa yang terjadi denganku, sungguh aku merasa khawatir atas diriku sendiri." Akhirnya, beliau pun menuturkan kejadian yang beliau alami. Khadijah berkata, "Tidak. Bergembiralah engkau. Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu demi selama-lamanya. Sesungguhnya engkau benar-benar seorang yang senantiasa menyambung silaturahmi, seorang yang jujur kata-katanya, menolong yang lemah, memberi kepada orang yang tak punya, engkau juga memuliakan tamu dan membela kebenaran." Akhirnya Khadijah pergi dengan membawa beliau hingga bertemu dengan Waraqah bin Naufal, ia adalah anak pamannya Khadijah, yakni saudara bapaknya. An Naufal adalah seorang penganut agama Nashrani pada masa Jahiliyah. Ia seorang yang menulis kitab Arab. Ia menulis dari kitab Injil dengan bahasa Arab. Saat itu, ia telah menjadi syeikh yang tua renta lagi buta. Khadijah berkata padanya, "Wahai anak pamanku. Dengarkanlah tuturan dari anak saudaramu." Waraqah berkata, "Wahai anak pamanku apa yang telah kamu lihat?" Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun mengabarkan padanya tentang kejadian yang telah beliau alami. Kemudian Waraqah pun berkata, "Ini adalah Namus yang pernah diturunkan kepada Musa. Sekiranya aku masih muda, dan sekiranya aku masih hidup..." ia mengatakan beberapa kalimat. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Apakah mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab, "Ya, tidak ada seorang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa, kecuali ia akan disakiti. Dan sekiranya aku masih mendapati hari itu, niscaya aku akan menolongmu dengan pertolongan yang hebat." Tidak lama kemudian, Waraqah pun meninggal, sementara wahyu terputus hingga membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedih. (Shahih Bukhari: 4572)

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Hadis di atas meriwayatkan saat-saat awal di mana ayat-ayat Al-Qur’an mulai turun atau diterima oleh Rasulullah SAW. Diriwayatkan bahwa karena Rasulullah SAW tidak dapat membaca, beliau mengalami tekanan sampai ketakutan dan minta diselimuti. Memang cukup rumit untuk dibayangkan. Rasulullah SAW dipilih sebagai penerima pewahyuan ; sementara saat malaikat menyuruh beliau membaca (Ikra) beliau tidak dapat membaca. Hal tersebut mengakibatkan rencana turunnya ayat-ayat Al-Qur’an melalui Rasulullah SAW menjadi gagal pada saat itu. Tidak ada catatan atau tulisan atau salinan ayat yang dihasilkan. Itu dikarenakan beliau tidak dapat membaca dan menulis. Kalau tidak ada jalan keluar, dapat terjadi bahwa ayat-ayat Al-Qur’an tidak jadi diwahyukan melalui beliau. Khadijah mencoba mencarikan jalan keluar. Khadijah membawa Rasulullah SAW menemui Warakah bin Naufal, anak dari paman Khadijah. Waraqah pernah memeluk agama Nasrani pada zaman jahiliyah. Waraqah menulis dari Kitab Suci Injil dengan bahasa Arab, seberapa yang dapat disalinnya. Kitab Suci Injil adalah Kitab Suci umat Nasrani.

Kami ingin mengutarakan pemikiran yang kritis dan logis. Berarti dari Waraqah lah Rasulullah SAW mengetahui isi Kitab Suci Injil umat Nasrani. Dari Waraqah lah Rasulullah SAW mengetahui nama tokoh-tokoh yang ada di Kitab Suci umat Nasrani. Dari Waraqah jugalah Rasulullah SAW mengetahui kisah atau peristiwa yang ada dalam Kitab Suci umat Nasrani. Waraqah memiliki salinan dari sebagian ayat-ayat Kitab Suci Injil yang ditulis dengan bahasa Arab.

Jawaban Saya: Malaikat Jibril tidak menyuruh Nabi Muhammad SAW membaca. Yang diingini oleh Malaikat Jibril adalah agar Nabi Muhammad SAW mengikuti apa yang di baca atau mengingatnya. Oleh karena itu pengalaman pertama Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, Beliau menyangka Malaikat Jibril menyuruhnya untuk membaca (iqra’), sehingga Nabi Muhammad SAW berkata bahwa dirinya tidak dapat membaca, padahal itu bagian ayat-ayat Al-Qur’an yang harus disampaikan oleh Malaikat Jibril. Kesalahpahaman di bagian ini, biasanya kafir Kristen pemuja Yesus menganggap Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad SAW dengan membawa sebuah kitab bertuliskan ayat-ayat Al-Qur’an dan menyuruh Nabi Muhammad SAW untuk membacanya.

Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan rencana turunnya ayat-ayat Al-Qur’an gagal. Jika anda membaca hadits yang dikutip oleh kafir Kristen pemuja Yesus di websitenya, mungkin anda akan membenarkan perkataan mereka. Tidak semua isi hadits mereka kutip, agar muncul kesan Malaikat Jibril gagal menyampaikan wahyu karena Nabi Muhammad SAW keburu kabur setelah di minta untuk membaca. Tetapi jika anda membaca hadits yang saya kutip, anda akan tahu kalau Malaikat Jibril tidak gagal menyampaikan wahyu. Malaikat Jibril telah berhasil menyampaikan wahyu, empat ayat dari surah Al-'Alaq dan telah menjadi bagian dari kitab Al-Qur’an sampai dengan sekarang. Kafir Kristen pemuja Yesus yang menganggap Nabi Muhammad SAW gagal menerima wahyu dari Malaikat Jibril, kemudian mengatakan Khadijah mencoba mencarikan jalan keluar dengan membawa Nabi Muhammad SAW menemui Warakah bin Naufal. Itu tuduhan yang tidak benar. Khadijah membawa Nabi Muhammad SAW menemui Warakah bin Naufal agar Beliau dapat menceritakan pengalamannya di gua Hira. Dengan mendengar penjelasan Warakah bin Naufal, Khadijah berharap Nabi Muhammad SAW dapat lebih tenang dan tidak lagi mengkhawatirkan keselamatan dirinya.

Seperti yang dapat anda baca dalam hadits shahih di atas. Warakah bin Naufal sama sekali tidak mengajarkan Bible di hadapan Nabi Muhammad SAW. Yang dilakukan oleh Warakah bin Naufal hanyalah menjelaskan bahwa yang menemui Nabi Muhammad SAW di gua Hira adalah Namus yang juga pernah turun kepada Nabi Musa AS. Warakah bin Naufal juga berjanji akan membela Nabi Muhammad SAW saat di usir oleh kaumnya jika dirinya masih hidup. Hanya itu yang dikatakan oleh Warakah bin Naufal kepada Nabi Muhammad SAW, tidak lebih. Selain itu, tidak ada hadits yang menceritakan Nabi Muhammad SAW bertemu Warakah bin Naufal di lain waktu. Itu artinya Nabi Muhammad SAW hanya sekali bertemu dengan Warakah bin Naufal. Tidak mungkin kitab Bible yang setebal itu dipelajari oleh Nabi Muhammad SAW dari Warakah bin Naufal dalam sekali pertemuan, tidak mungkin.

Kafir Kristen pemuja Yesus menganggap ada keterkaitan antara wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW dengan Warakah bin Naufal. Itu sama sekali tidak benar. Sebab wahyu pertama  turun justru sebelum Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Warakah bin Naufal. Jika Al-Qur’an memang bersumber dari Warakah bin Naufal, maka seharusnya wahyu pertama Nabi Muhammad SAW turun setelah Beliau bertemu dengan Warakah bin Naufal. Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW memang sempat terputus, tetapi itu tidak selamanya. Puluhan tahun setelah Warakah bin Naufal meninggal, Nabi Muhammad SAW masih menerima wahyu dan itu artinya wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW tidak ada sangkut pautnya dengan Warakah bin Naufal. Nabi Muhammad SAW masih bertemu dengan Malaikat Jibril setelah Warakah bin Naufal meninggal. Jika memang Al-Qur’an  bersumber dari Warakah bin Naufal, maka seharusnya wahyu Nabi Muhammad SAW akan berhenti permanen ketika Warakah bin Naufal meninggal dunia.

Penjelasan-penjelasan saya di atas membuktikan tidak ada sesuatu misteri terkait turunnya Al-Qur’an. Kritik kafir Kristen pemuja Yesus terkait turunnya Al-Qur’an tidak logis dan hanya berdasarkan dugaan-dugaan semu yang tidak satu pun terbukti kebenarannya. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr yang Diliputi Misteri"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.