Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Mengapa Terdapat "Dua Bagian" Al-Quran?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Umat Muslim mengakui bahwa Allah telah menurunkan banyak pewahyuan termasuk Perjanjian Lama dan Baru. Mereka juga mempercayai bahwa pewahyuan-pewahyuan tersebut digantikan oleh Al-Quran. Tetapi, orang-orang Muslim hanya mengakui Al-Quran sebagai Firman Allah. Menurut mereka, orang-orang Yahudi telah mengubah isi Alkitab. Semuanya bertentangan dengan Al-Quran. Walaupun Al-Quran sendiri telah menyatakan dengan jelas bahwa Injil dan Taurat adalah “petunjuk, cahaya, serta pengajaran dari Allah” (Qs 5:46) Lalu, bagaimana dengan kedua bagian Al-Quran yang bertolak-belakang?

Jawaban Saya: Umat Islam tidak pernah diperintahkan untuk mengakui Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Yang diimani oleh umat Islam adalah Taurat dan Injil, bukan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Taurat adalah kitab wahyu dari Allah SWT yang diberikan kepada Nabi Musa AS. Sedangkan Injil adalah kitab wahyu dari Allah SWT yang diberikan kepada Nabi Isa AS. Kewajiban umat Islam terhadap Taurat dan Injil, hanyalah mengimani kitab-kitab tersebut. Membenarkan bahwa kitab-kitab tersebut pernah Allah SWT turunkan kepada Bani Israel sebagai petunjuk. Tidak ada kewajiban bagi umat Islam untuk menjalankan syariat agama yang ada di dalam Taurat dan Injil. Umat Islam sekarang ini hanyalah diwajibkan untuk menjalankan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Umat Islam tidak menjalankan syariat yang ada di dalam Taurat dan Injil, bukan semata-mata karena kitab-kitab tersebut sudah tidak asli lagi. Umat Islam tidak menjalankan syariat yang ada di dalam Taurat dan Injil, karena kitab-kitab tersebut hanya terbatas untuk Bani Israel dan terbatas pada waktu tertentu. Dalam hadits Shahih Nabi Muhammad SAW bersabda;

“Keberadaan kalian di antara umat-umat terdahulu seperti permisalan antara antara shalat 'ashar hingga matahari terbenam. Pemeluk taurat diberi taurat dan mereka mengamalkannya hingga pertengahan siang, kemudian mereka tidak bisa lagi mengamalknnya sehingga diberi satu qirath. Kemudian pemeluk injil diberi injil dan mereka mengamalkannya hingga shalat 'ashar didirikan lantas mereka tidak bisa lagi mengamalkannya, dan mereka diberi satu qirath. Kemudian kalian diberi Al Qur'an dan kalian mengamalkannya hingga matahari terbenam, lantas kalian diberi dua qirath dua qirath...” (Shahih Bukhari: 6979) 

Arti perumpamaan tersebut bahwa umat Yahudi diberi Taurat dan mengamalkannya sampai diturunkannya Injil, umat Nasrani diberi Injil dan mengamalkannya sampai diturunkannya Al-Qur’an, sementara itu umat Islam diberi Al-Qur’an dan mengamalkannya sampai matahari terbenam yaitu sampai tiba hari kiamat. Jadi seandainya pun ditemukan Taurat dan Injil isinya utuh tidak ada kerusakan di dalamnya, maka Taurat dan Injil sudah tidak berlaku dan Allah SWT tidak akan memberikan pahala sebab mengamalkannya. Tidak ada pilihan bagi manusia yang hidup di zaman telah turunnya Al-Qur’an agar dapat selamat, kecuali menerima Islam sebagai agamanya. Rasulullah SAW, bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nasrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (Shahih Muslim: 218)

Mekah dan Madinah

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Menurut sumber-sumber Islam, Muhammad pertama kali menerima pewahyuan di Mekah pada 610 M. Pewahyuan ini bernada damai dan agamawi.  “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). . .” (Qs 2:256). Orang Yahudi dan Kristen (penerima pewahyuan Allah mula-mula) juga disebut sebagai “Ahli Kitab.”

Perubahan pun muncul ketika Muhammad hijrah ke Madinah pada satu dekade kemudian. Di sini ia menerima pewahyuan yang kadang kala disebut “Al-Quran kedua.” Dalam pewahyuan ini, orang-orang Yahudi dibandingkan dengan kera dan babi (Qs 2:65; 5:60; 7:166). Muhammad juga salah paham dengan istilah “Anak Allah.”  Walau ini kata kiasan nabi Islam mengartikannya secara literlik. Akibatnya ia mengutuk mereka yang mempercayai Isa Al-Masih sebagai Anak Allah (Qs 9:30). Setelah Muhammad wafat, para pengikutnya menggabungkan kedua pewahyuan tersebut ke dalam satu buku. Tetapi ketiadaan konteks dan kronologi. Jadi ada kesulitan dalam memahami Al-Quran jika tanpa mempelajari Sunah. Bagaimana orang-orang Muslim mengatasi kedua bagian yang bertentangan itu?

Jawaban Saya: Banyak tulisan kafir Kristen pemuja Yesus di atas yang salah dan perlu untuk diluruskan. Mereka mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Mekkah bernada damai dan agamawi. Contoh ayat yang mereka anggap diturunkan di Mekkah dan bernada damai adalah firman Allah SWT;

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. (Al-Baqarah: 256)

Ayat tersebut diturunkan ketika ada seorang wanita yang bersumpah bila ia mempunyai anak maka anaknya tersebut akan dijadikannya Yahudi. Kemudian ketika Bani Nadhir diusir dari Madinah, di antara mereka ada anak-anak dari kalangan Ansar. Lalu mereka berkata, "Kami tidak akan meninggalkan anak-anak kami (untuk masuk Islam)”. Di usirnya Bani Nadhir dari Madinah terjadi setelah Nabi Muhammad SAW dan umatnya hijrah. Itu artinya Al-Baqarah: 256 diturunkan di Madinah, bukan di Mekkah seperti yang dikatakan oleh kafir Kristen pemuja Yesus.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata; terdapat seorang wanita yang tidak memiliki anak karena terus meninggal, kemudian ia bersumpah atas dirinya bahwa apabila ia memiliki anak yang hidup maka ia akan menjadikannya seorang Yahudi. Kemudian tatkala Bani Nadhir diusir, diantara mereka terdapat anak-anak orang anshar, kemudian mereka mengatakan; kita tidak akan meninggalkan anak-anak kita. Kemudian Allah menurunkan ayat: "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat." Abu Daud berkata; Miqlat adalah wanita yang tidak memiliki anak yang hidup. (Sunan Abu Daud: 2307)

Kafir Kristen pemuja Yesus juga mengatakan wahyu yang diterima pertama kali oleh Nabi Muhammad SAW di Mekkah menyebut orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai ahli kitab. Ini juga salah. Karena dalam seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, baik yang turun di Mekkah atau turun di Madinah, menyebut Yahudi dan Nasrani dengan sebutan ahli kitab.     

Doktrin Pembatalan

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Jika ada dua bagian bertentangan, bagian yang lebih baru “membatalkan” atau “mengesampingkan” bagian yang awal. Doktrin ini membuat lebih banyak permasalahan daripada penyelesaian. Contoh, satu ayat dalam Al-Quran menegaskan doktrin pembatalan (Qs 2:106), tetapi ayat lain sebelumnya mengatakan “tidak terdapat perubahan dalam Firman Allah.”

Sebagian orang Muslim mendebat bahwa Alkitab juga mengajarkan pembatalan. Contohnya, hukum Musa yang memerintahkan untuk merajam seorang pezina (Taurat, Imamat 20:10). Tetapi  Yesus membebaskan seorang wanita yang tertangkap berzinah (Injil, Rasul Besar Yohanes 8:2-11).

Jawaban Saya: Yang dimaksud oleh kafir Kristen pemuja Yesus di atas mungkin Nasikh dan Mansukh. Saya akan jelaskan Nasikh dan Mansukh dengan singkat saja. Nasikh yaitu menghapuskan hukum dari dalil syar’i atau lafazhnya dengan dalil Al-Kitab dan As-Sunnah yang datang sesudahnya. Mansukh yaitu hukum dalil syar’i atau lafazhnya yang dihapuskan. Nasikh dan Mansukh bukanlah dua bagian dari dalil yang bertentangan, karena ke dua dalil diturunkan tidak bersamaan. Nasikh dan Mansukh dalam Islam bukanlah doktrin, karena bersumber dari firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an;

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (Al-Baqarah: 106)

Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa Al-Qur’an menegaskan adanya Nasikh dan Mansukh (Al-Baqarah: 106), tetapi di ayat lainnya Al-Qur’an menyatakan tidak ada perubahan dalam firman Allah. Saya tidak tahu dengan pasti ayat mana yang di maksud kafir Kristen pemuja Yesus. Mereka sama sekali tidak menyebut ayat Al-Qur’an mana yang menyatakan “tidak ada perubahan dalam firman”. Mungkin ayat yang mereka maksud adalah ayat ini;

Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. (Al Fath: 23)   

Konteks ayat di atas membicarakan peperangan yang terjadi antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir. Anda dapat mengetahui konteks ayat tersebut dengan membaca ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Sunnatullah yang di maksud pada ayat tersebut adalah hukum-hukum dan peraturan  yang Allah SWT tetapkan terhadap makhluk-Nya, yaitu tidak sekali-kali kekafiran dan keimanan berhadap-hadapan di suatu medan perang, lalu mereka berperang, melainkan Allah akan menolong pasukan keimanan dan mengalahkan pasukan kekafiran, serta meninggikan perkara yang hak dan merendahkan perkara yang batil. Jadi singkat kata, ayat tersebut tidak ada hubungannya dengan Nasikh dan Mansukh.

Jadi tidak benar kalau kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan Al-Qur’an terdapat dua bagian. Yang mempunyai dua bagian ya Bible kitab mereka sendiri. Ada Bible Perjanjian Lama dan Bible Perjanjian Baru. Perjanjian Lama terbagi menjadi banyak kitab-kitab dan Perjanjian Baru juga terbagi menjadi banyak kitab-kitab. Bahkan Tuhan mereka pun terbagi menjadi tiga Tuhan.

Sifat Alkitab dan Al-Quran Berbeda

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Sifat dari Alkitab tidak sama dengan Al-Quran. Alkitab adalah pewahyuan Allah yang progresif. Setiap ayat, bagian, dan buku saling berhubungan dan saling memberikan pengertian. Pemakaian kata-kata figuratif dalam Alkitab, terkadang membuat orang yang membacanya salah mengerti. Untuk itu, seorang yang membaca Alkitab, perlu memperhatikan konteks dari ayat yang sedang dibacanya.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan Bible adalah pewahyuan Allah yang progresif. Setiap ayat, bagian, dan buku saling berhubungan dan saling memberikan pengertian. Padahal kalau saya membaca Bible sering bingung karena banyaknya ayat-ayat yang bertentangan satu dengan lainnya. Misalnya pada Injil Yohanes penulisnya mengatakan Yesus satu-satunya orang yang naik ke sorga, padahal Elia juga naik ke sorga dengan kereta berapi (2 Raja-raja 2:11). Penulis Injil Matius mengatakan Yesus mengutuk pohon ara yang seketika itu menjadi kering (Matius 21:19), tetapi menurut penulis Injil Markus pohon ara baru kering di pagi ke esokkan harinya (Markus 11:20). Kisah Para Rasul 9:7 menyatakan teman-teman Paulus mendengar suara Yesus, tetapi menurut Kisah Para Rasul 22:9 teman-teman Paulus tidak mendengar suara Yesus. Itu hanya sebagian kecil contoh amburadulnya Bible, masih ada banyak yang seperti itu.         

Otoritas Isa Al-Masih Mengampuni Dosa

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Pada contoh di atas kita membaca bahwa menurut hukum Musa, seorang wanita yang kedapatan berzinah harus dirajam. Tapi mengapa Isa Al-Masih justru membebaskannya dari hukuman? Hal ini dikarenakan Isa Al-Masih benar-benar mengerti maksud hukum Musa – menjadi penuntun sampai Ia datang. Sebagaimana Kitab Suci Injil menuliskan, “Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” (Injil, Surat Galatia 3:24). Sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Penyelamat dunia, Isa Al-Masih memiliki otoritas berdaulat untuk mengampuni dosa. Dia adalah penebus jiwa.

Jawaban Saya: Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.  Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?". Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. (Yohanes 8:3-6)

Ketika Yesus sedang mengajar di Bait Allah, datanglah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina. Mereka kemudian meminta Yesus untuk menghukum pezina tersebut menurut hukum Taurat. Di zaman itu, orang yang kedapatan berbuat jahat harus dihadapkan ke pengadilan untuk menerima putusan hukuman oleh wali negeri. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi bermaksud agar dapat mempersalahkan Yesus. Menghukum sendiri orang yang berbuat jahat tanpa melalui pengadilan wali negeri adalah pelanggaran dan dapat dikenakan hukuman. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi bermaksud menjebak Yesus agar berbuat salah dengan menghukum sendiri perempuan pezina. Tetapi Yesus mengetahui niat jahat Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada dirinya. Yesus kemudian meminta Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang tidak berdosa untuk melemparkan batu kepada perempuan itu. Tentu saja tidak satu pun dari mereka yang mau melakukannya, karena mereka sendiri tahu akan resiko yang mereka tanggung kalau berbuat seperti itu.

Jadi tujuan Yesus tidak mau menghukum perempuan yang berbuat zina bukanlah karena Yesus mengerti maksud hukum Musa – menjadi penuntun sampai Ia datang, akan tetapi karena tidak mau masuk perangkap yang telah disiapkan oleh Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: “Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” (Galatia 3:24), itu menurut Paulus, sedangkan Yesus sendiri mengatakan hukum Taurat berlaku sampai lenyap langit dan bumi; Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (Matius 5:18). Saya yang Muslim sepertinya jauh lebih paham dari pada mereka yang kafir Kristen, ya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengapa Terdapat "Dua Bagian" Al-Quran?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.