Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Bagaimana Menghindari Disebut "Fasik"?

Ketika masih muda, saya dipanggil dengan nama yang kurang sopan. Bahkan anak-anak sering memakai nama jelek untuk melukai anak lain.  Dari mana mereka mendapat kebiasaan ini?  Dari orang dewasa?  Atau orang tuanya?  Memberi sebutan jelek pada orang lain merupakan kebiasaan setiap orang di dunia.

Sebutan-sebutan Jelek yang Dipakai Umat Manusia

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Lihatlah sebutan yang sering diberikan: Si Sombong, Si Tolol, Si Bodoh, Si Lambat, Si Iri, Si Gemuk, Si Rakus dll.  Bukankah kita ahli dalam bidang ini?  Dan berapa banyak orang terluka karena sebutan ini. Mungkin satu sebutan yang paling tidak disukai bila dipanggil “Si Fasik”.  Kata fasik dipakai untuk menggolongkan orang-orang ateis yang tidak bertuhan. Orang Indonesia tidak senang dipanggil dengan sebutan ini.

Jawaban Saya: Kata fasik berasal dari bahasa Arab al-Fisq atau al-Fusuq yang bermakna keluarnya sesuatu dari sesuatu yang lain dalam keadaan rusak. Adapun dalam pengertian syariat maka artinya adalah keluar dari ketaatan. Ketaatan yang dimaksud mencakup segala perbuatan, baik yang bila ditinggalkan menyebabkan kufur maupun jika ditinggalkan tidak menyebabkan kufur. Ada dua jenis kefasikan. Kefasikan jenis pertama pertama adalah Kefasikan besar yang bersifat menyeluruh. Kefasikan pada jenis ini membuat orangnya keluar dari Islam secara keseluruhan dan ini sama dengan kufur. Sehingga orang kafir bisa disebut fasik. Seseorang masuk dalam kategori ini jika melakukan salah satu bentuk kufur besar. Seperti menyembah selain kepada Allah SWT, misalnya menyembah Yesus, maka orangnya dapat disebut fasik yang menyebabkannya menjadi kafir. Kefasikan jenis kedua adalah kefasikan kecil yang bersifat sebagian. Kefasikan pada jenis ini terjadi ketika seorang Muslim keluar dari sebagian ajaran Islam dengan melakukan dosa besar. Dari pengertian ini seorang mukmin yang melakukan dosa besar disebut fasiq atau al-fasiqul milli (orang fasiq yang masih dalam agama Islam) atau mu’min naqishul iman (mukmin yang imannya kurang) atau mu’min bi imanihi fasiq bi kabiratihi (mukmin dengan imannya, fasiq dengan dosa besarnya).

Jadi, kafir Kristen pemuja Yesus yang mengatakan kata fasik dipakai untuk menggolongkan orang-orang ateis yang tidak bertuhan adalah salah.

Orang Fasik Adalah Pengikut Injil yang Tidak Mengikuti Injil

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Al-Quran dengan jelas menekankan siapa-siapa yang tidak boleh disebut “fasik”!  Juga dijelaskan bagaimana menghindari julukan jelek ini.  Perhatikanlah Qs 5:47: ”Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.

Ayat ini menekankan jika seorang tidak mendasarkan kehidupannya pada Injil, ia akan disebut “fasik.” Injil yang ada sekarang juga ada pada masa nabi Islam.  Bahkan naskah-naskah Injil ada yang disalin ratusan tahun sebelum nabi Islam lahir.  Umat percaya wajib mengikuti seluruh isi Injil.  Dengan demikian mereka tidak akan digolongkan dengan orang fasik.

Jawaban Saya: Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al Maa'idah: 47)

Firman Allah SWT; “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya”, maksudnya pengikut pengikut Injil itu diharuskan memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalam Injil itu, sampai pada masa diturunkan Al Quran.

Sedangkan firman Allah SWT; “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”, maksudnya siapa saja yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah SWT, yaitu kitab Taurat dan kitab Injil di masanya masing-masing dan tidak memutuskan perkara menurut kitab Al-Qur’an setelah di utusnya Nabi Muhammad SAW, maka mereka adalah orang-orang fasik. Sebagaimana firman Allah SWT lainnya di dalam Al-Qur’an;

Katakanlah, "Hai Ahli Kitab, kalian tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kalian menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian.” (Al Maa'idah: 68)

Kewajiban memutuskan perkara menurut kitab Injil, hanya dibebankan kepada orang-orang yang lahir sebelum Nabi Muhammad SAW di utus sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT. Setelah Al-Qur’an diturunkan dengan di utusnya Nabi Muhammad SAW, maka tidak ada lagi kewajiban bagi manusia untuk memutuskan perkara menurut hukum yang ada dalam kitab-kitab terdahulu.

Allah SWT telah menurunkan Taurat dan Injil khusus bagi bangsa Israel dalam batas waktu yang Allah SWT kehendaki. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab wahyu Allah SWT yang terakhir, yang terjaga dan diperuntukkan bagi seluruh manusia sebagai petunjuk sampai dengan hari kiamat nanti. Dalam hadits Shahih Nabi Muhammad SAW bersabda;

“Keberadaan kalian di antara umat-umat terdahulu seperti permisalan antara antara shalat 'ashar hingga matahari terbenam. Pemeluk taurat diberi taurat dan mereka mengamalkannya hingga pertengahan siang, kemudian mereka tidak bisa lagi mengamalknnya sehingga diberi satu qirath. Kemudian pemeluk injil diberi injil dan mereka mengamalkannya hingga shalat 'ashar didirikan lantas mereka tidak bisa lagi mengamalkannya, dan mereka diberi satu qirath. Kemudian kalian diberi Al Qur'an dan kalian mengamalkannya hingga matahari terbenam, lantas kalian diberi dua qirath dua qirath...” (Shahih Bukhari: 6979) 

Hadits di atas adalah perumpamaan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wasallam buat untuk menjelaskan kedudukan umat Islam. Arti perumpamaan tersebut bahwa umat Yahudi diberi Taurat dan mengamalkannya sampai diturunkannya Injil, umat Nasrani diberi Injil dan mengamalkannya sampai diturunkannya Al-Qur’an, sementara itu umat Islam diberi Al-Qur’an dan mengamalkannya sampai matahari terbenam yaitu sampai tiba hari kiamat. Jadi seandainya pun ditemukan Injil yang sejati atau kitab-kitab lainnya yang isinya utuh tidak ada kerusakan di dalamnya, maka Injil atau kitab-kitab tersebut sudah tidak berlaku dan Allah SWT tidak akan memberikan pahala sebab mengamalkannya. Tidak ada pilihan bagi manusia yang hidup di zaman telah turunnya Al-Qur’an agar dapat selamat, kecuali menerima Islam sebagai agamanya. Rasulullah SAW, bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nasrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (Shahih Muslim: 218)

Al-Quran Meminta Umat Beragama Agar Menerima Isa Al-Masih Sebagai Penebus dari Dosa

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Al-Quran menulis “…apa yang diturunkan Allah di dalamnya.”  Apa  intisari Injil? Pertama Injil adalah kabar baik tentang keselamatan.  Berikut adalah ayat suci dari bibir Isa Al-Masih sendiri: “Karena Anak Manusia[Isa Al-Masih] juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Injil, Rasul Markus 10:45).  Untuk “. . . memutuskan perkara menurut . . .”  Menerima Injil berarti menerima Isa Al-Masih sebagai Penebus dari perbudakan dosa!

Jawaban Saya: Injil yang di maksud Al-Qur’an adalah kitab wahyu yang diberikan kepada Nabi Isa AS untuk umatnya dari Bani Israel. Sebagaimana firman Allah yang artinya; Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa (Al Maa'idah: 46).

Sedangkan Injil Kristen bukanlah kitab wahyu yang diberikan kepada Nabi Isa AS atau Yesus. Injil Kristen hanyalah kitab hasil karya tangan-tangan manusia yang ditulis jauh setelah Nabi Isa AS atau Yesus di angkat ke langit. Sekalipun pada suatu hari ditemukan kitab Injil asli yang pernah Allah turunkan kepada Nabi Isa AS, umat Islam dan bahkan seluruh manusia sudah tidak memiliki kewajiban untuk mengamalkan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya. Karena dengan telah diturunkannya Al-Qur’an dan diutusnya Nabi Muhammad SAW, kewajiban dalam mengamalkan ajaran-ajaran yang ada dalam Injil telah dihapuskan. Kadaluwarsanya kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an, dapat anda baca dalam hadits sahih yang telah saya kutip di atas.

Hidup Sesuai Dengan Injil Berarti Mengikuti Etika Tertinggi di Dunia

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Orang Islam mengutamakan kewajiban menaati hukum Syariah.  Isa Al-Masih merangkum semua hukum agama dalam dua hukum utama.  Dua hukum ini diturunkan dari Allah sebagai hukum-hukum terpenting bagi umat manusia, ribuan tahun sebelum nabi Islam hadir di dunia.  Dua hukum ini ditekankan oleh Isa Al-Masih, Kalimat Allah, sebagai hukum inti Injil dan agama Allah. Agar terhindar dari julukan “fasik”, seseorang harus memperhatikan dua hukum ini, yaitu:  "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.   Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Injil, Rasul Besar Matius 22:37-40).

Jawaban Saya: Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40)

Dari ayat-ayat di atas dapat kita simpulkan. Menurut Yesus, hukum yang terutama dalam hukum Taurat ada dua, yaitu pertama: mengasihi Allah dengan segenap hati, dan kedua: mengasihi sesama manusia. Kedua hukum tersebut, oleh Kristen dipahami sebagai “merangkum seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”, berbeda dengan Yesus di Matius 22:40 yang menyebut di kedua hukum tersebut “tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”. Oleh karena itu, seorang Kristen tidak merasa perlu bersusah-payah menjalankan hukum Taurat dengan sempurna yang menurut mereka mustahil dapat dijalankan. Bagi mereka, cukup hanya dengan menjalankan dua hukum kasih sudah sama dengan menjalankan seluruh hukum Taurat dengan sempurna. Padahal yang di maksud Yesus di Matius 22:40 adalah kedua hukum kasih tersebut sebagai pokok atau pondasi dari seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Lagi pula, kafir Kristen pemuja Yesus tidak dapat disebut menjalankan hukum kasih pada ayat tersebut. Khususnya hukum kasih yang pertama; “mengasihi Allah dengan segenap hati”. Bagaimana kafir Kristen pemuja Yesus dapat di anggap mengasihi Tuhan, kalau yang mereka sembah bukan Tuhan. Jadi kalau kafir Kristen pemuja Yesus merasa diri mereka terhindar dari julukan fasik karena menjadi pemuja Yesus, mereka salah besar.  

Kunci Menghindari Julukan Fasik

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Maukah saudara menghindari julukan “fasik”?  Ikutilah Injil seperti orang percaya! Langkah pertama menerima Isa Al-Masih sebagai Penebus dari perbudakan dosa.  Langkah kedua hidup sesuai dengan Hukum Pertama dan Hukum Kedua!  Bila seseorang mengikuti pedoman ini Saudara tidak boleh disebut “fasik”.

Jawaban Saya: Menjadikan Yesus sebagai penebus dosa dan Tuhan, tidak akan menjadikan seseorang terhindar dari julukan fasik. Menjadikan Yesus sebagai penebus dosa dan Tuhan bukan hanya  dapat menjadikan seseorang memperoleh julukan fasik, bahkan akan menjadikan seseorang menjadi kafir. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an;

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam." Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?." Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Maa'idah: 17)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. (Al Maa'idah: 72)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bagaimana Menghindari Disebut "Fasik"?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.