Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Puasa – Taat Perintah Allah Atau Mengharap Pahala?

Sebelum saya menikah, saya tinggal di rumah seorang haji. Walau saya hanya kost di sana dan agama kami berbeda, tetapi kami mempunyai hubungan baik. Saya sangat senang bila Ramadhan tiba. Suasana di rumah berbeda dengan bulan-bulan biasanya. Setiap sore ibu kost memasak berbagai makanan untuk berbuka. Kadang juga saya ikut membantu menyediakannya. Walau saya bukan seorang Muslim, tetapi di bulan Ramadhan kadang saya juga ikut berpuasa. Tentunya sesuai dengan ajaran kepercayaan saya.

Perintah Puasa di Al-Quran

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Mengapa orang Islam wajib puasa di bulan Ramadhan? Inilah ayatnya, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa” (Qs 2:183). Bila ayat di atas kita baca dengan teliti, maka timbul pertanyaan. Siapakah sebenarnya yang berbicara pada ayat tersebut? Benarkah Allah mewajibkan umat Muslim, Yahudi, dan Nasrani untuk berpuasa? “...sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu...” (Qs 2:183). Bukankah puasa Ramadhan hanya diwajibkan bagi umat Muslim?

Jawaban Saya: Ayat dari surah Al-Baqarah: 183 memang sering disalahpahami oleh orang-orang kafir Kristen pemuja Yesus. Kemampuan mereka hanya terbatas copas ayat-ayat Al-Qur’an, namun tidak memiliki kemampuan untuk mengerti maknanya. Allah dalam Al-Baqarah: 183 menyatakan “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.”

Ayat tersebut di atas bukan dimaksudkan bahwa syariat puasa yang diwajibkan kepada umat Islam adalah syariat puasa yang sama dengan umat-umat terdahulu. Bukan, bukan itu maksudnya. Kesamaan yang dimaksud pada ayat di atas adalah kesamaan dalam hal “diwajibkannya berpuasa”. Umat Islam diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan, sementara umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa di bulan tertentu. Umat Islam dengan umat terdahulu sama-sama diwajibkan berpuasa dengan syariat (aturan) puasa yang berbeda. Jika umat Islam diwajibkan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, maka umat Nabi Musa AS diwajibkan berpuasa selama satu hari di tanggal sepuluh di bulan ke tujuh, sebagaimana ayat Bibel sendiri menyatakan “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel” (Imamat 16:29)

Kafir Kristen pemuja Yesus bertanya; puasa itu taat kepada Allah SWT atau mengharap pahala? Jawabannya adalah kedua-duanya, taat kepada Allah SWT dan mengharap pahala. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadits shahih;

"Barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya". (Shahih Bukhari: 1875)

Puasa Kristen dan Islam Berbeda

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Umat Muslim sering berkata, orang Kristen bukan pengikut sejati Nabi Isa sebab mereka tidak berpuasa. Jelas hal ini salah! Tentang berpuasa, Islam dan Kristen mempunyai ajaran yang berbeda. Di antaranya:

Pertama: Umat Kristen tidak pernah diwajibkan berpuasa seperti yang diajarkan Muhammad. Tidak ada puasa-wajib dalam ajaran Isa, yang dilaksanakan dengan ritual tertentu. Bila dilaksanakan mendapat pahala berlimpah dan jika dilalaikan berdosa. Tujuan orang Kristen berpuasa adalah mencari wajah dan belas kasih Tuhan. Juga karena adanya kerinduan untuk mempunyai hubungan yang lebih intim dengan Sang Pencipta.

Kedua: Puasa dalam Islam sepertinya hanya “memindahkan jam makan” dari pagi-sore menjadi sore-subuh. Kwalitas dan kwantitas makan-minum ketika puasa juga jauh lebih tinggi dibanding hari-hari biasa. Dalam ajaran Kristen, puasa meliputi siang dan malam. Bahkan kadang berjalan beberapa hari tanpa makan.

Ketiga: Islam ketika puasa lebih menonjolkan aktivitas lahiriah, atau ibadah jasadiyyah. Yaitu aktivitas berkorban dengan cara meninggalkan, membatasi, dan menjauhi nafsu kedagingan. Harapannya agar mendapat ridho dan pahala dari Allah. Puasa Kristiani pada dasarnya berakar dari “suasana perkabungan”, jeritan atau keprihatinan yang sangat serius. Pelaksana harus mencari tangan dan wajah Tuhan dalam kerendahan hati yang sangat dalam.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus memang sering mengklaim diri mereka sebagai pengikut Yesus, tetapi tidak satu pun ajaran Yesus yang mereka lakukan. Orang Kristen lebih tepat jika mereka disebut sebagai pengikut Paulus dari pada pengikut Yesus. Karena mereka lebih suka mendengarkan dan melakukan ajaran Paulus dari pada harus mendengar dan melakukan ajaran Yesus. Dalam Injil Yesus menyatakan bukan datang untuk menghapus hukum Taurat, tetapi hanya untuk menggenapinya dan hukum Taurat akan berlaku sampai kiamat (Matius 5:17) dan Yesus juga memerintahkan untuk menjalankan hukum Taurat (Matius 5:19). Salah satu hukum Taurat adalah adalah kewajiban untuk menjalankan puasa. Kitab Taurat telah mewajibkan berpuasa di bulan ke tujuh di tanggal sepuluh;

Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu (Imamat 16:29)

Serta mengancam siapa pun yang tidak berpuasa akan di bunuh;

Karena setiap orang yang pada hari itu tidak merendahkan diri dengan berpuasa, haruslah dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya. (Imamat 23:29)

Yesus memerintahkan untuk menjalankan hukum Taurat (Matius 5:19), salah satu hukum Taurat adalah adanya kewajiban berpuasa di bulan dan pada tanggal tertentu, tetapi kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa agama Kristen tidak mewajibkan mereka berpuasa. Kalaupun kafir Kristen pemuja Yesus berpuasa, mereka melakukannya dengan cara yang mereka ingin. Itu artinya agama Kristen bukanlah agama yang diajarkan oleh Yesus dan orang-orang Kristen bukanlah pengikut-pengikut Yesus.

Kafir pemuja Yesus rupanya hanya sanggup mengkritik puasa Islam yang mereka anggap hanya menggeser jam makan, tanpa memberikan solusi puasa yang mereka anggap lebih baik dari pada puasa Islam. Saya sendiri tidak yakin kalau mereka lupa. Saya lebih yakin, mereka sengaja tidak memberikan solusi puasa yang lebih baik karena agama Kristen tidak memiliki konsep puasa yang lebih baik dari pada puasa Islam. Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa puasa Islam bukanlah puasa karena hanya menggeser jam makan dan minum.

Lalu bagaimanakah cara orang-orang kafir Kristen pemuja Yesus berpuasa? Ada tiga jenis puasa menurut Bibel. Puasa jenis pertama adalah puasa tidak makan dan tidak minum selama empat puluh hari empat puluh malam berturut-turut. Puasa jenis ini pernah dilakukan oleh Nabi Musa dan Yesus. Walaupun jenis puasa ini sering digembar-gemborkan lebih baik dari puasanya umat Islam, tapi tidak ada seorang kafir Kristen pemuja Yesus yang mampu melakukannya. Konon katanya puasa jenis ini butuh kuasa ilahi. Puasa jenis kedua adalah puasa tidak makan dan tidak minum selama tiga hari. Puasa ini pernah dilakukan bangsa Israel di masa Ester hidup. Puasa jenis ini masih tergolong berat, oleh karenanya tak ada satu pun yang mau dan sanggup melakukannya. Puasa jenis ketiga adalah puasa dengan cara mengubah menu makanan sehari-hari. Puasa jenis ini pernah dilakukan oleh Daniel. Dari sekian banyak puasa yang ada Puasa dalam Bibel, hanya puasa jenis inilah yang biasanya dilakukan oleh orang-orang kafir Kristen pemuja Yesus, karena puasa jenis ini adalah puasa yang paling gampang, ringan dan lebih enak dijalankan.

Tujuan Muslim Berpuasa

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Dari uraian di atas dapat disimpulkan, tujuan umat Muslim berpuasa agar mendapat ridho dan pahala dari Allah. Selain itu, secara tidak langsung juga menuntut penghormatan atas dirinya dari orang lain serta lingkungannya. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya kasus pemukulan dan penganiayaan yang terjadi di bulan Ramadhan, terhadap “orang kafir” yang kebetulan makan-minum di sekitarnya. Alasannya, “orang kafir” tersebut telah melecehkan dirinya yang sedang berpuasa. Kedai-kedai makan dan restoran “dihimbau” (bahkan diwajibkan) untuk tutup atau setidaknya setengah tertutup.

Jawaban Saya: Puasa Ramadhan diwajibkan kepada umat Islam. Meninggalkan puasa Ramadhan tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syariat agama adalah dosa besar, maksiat kepada Allah. Orang yang menjual makanan dan minuman di siang hari pada bulan Ramadhan, sejatinya membantu atau menolong orang yang memiliki kewajiban berpuasa Ramadhan untuk bermaksiat dengan makan atau minum di bulan Ramadhan. Tolong menolong dalam perbuatan dosa adalah haram hukumnya. Firman Allah: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al Maa'idah: 2). Jika seorang mukmin dapat memperoleh pahala puasa karena memberi makan orang yang sedang berbuka puasa, maka ikut berdosa pula orang yang memberi makan dan minum seorang Muslim di siang hari. Jadi, alasan pelarangan membuka kedai-kedai makanan bukanlah karena ingin dihormati atau alasan-alasan lainnya, melainkan untuk mencegah kemungkaran.

Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan di bulan Ramadhan banyak terjadi kasus pemukulan dan penganiayaan yang terjadi terhadap orang kafir yang makan-minum di sekitar seorang Muslim yang sedang berpuasa. Itu adalah tuduhan palsu kafir Kristen pemuja Yesus. Saya sama sekali tidak pernah menemukan kejadian seperti itu. Kalau pun kejadian seperti itu pernah terjadi, hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk mempersalahkan semua orang Islam yang berpuasa Ramadhan. Kesalahan yang dilakukan satu atau dua orang Muslim tidak dapat ditimpakan ke semua orang Islam.

Tujuan Kristen Berpuasa

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: “Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit” (Kitab Nabi Nehemia 1:4). Menurut Alkitab, tujuan pengikut Isa berpuasa adalah merendahkan diri, mencari wajah Tuhan dan membangun satu hubungan khusus dengan-Nya.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus berkata bahwa tujuan mereka berpuasa adalah untuk merendahkan diri, mencari wajah Tuhan dan membangun satu hubungan khusus dengan-Nya. Tetapi tidak satu pun tujuan mereka berpuasa akan dapat mereka peroleh. Percuma mereka berpuasa sementara mereka masih menyembah selain Allah. Bangsa Israel di zaman Yesaya berpuasa, tapi puasa mereka itu tidak diperhatikan Tuhan dan mereka merendahkan diri, tapi tidak juga diindahkan Tuhan, anda tahu kenapa? Karena mereka berpuasa sambil berbuat aniaya kepada buruh, berkelahi dan memukul orang lain, anda dapat membacanya di Yesaya 58:3-4. Jika dengan berbuat dosa kecil seperti itu saja bangsa Israel tidak diterima puasa dan perendahan dirinya, maka bagaimana dengan puasa dan perendahan diri kafir Kristen pemuja Yesus yang mereka masih melakukan dosa besar menyembah selain Allah? Pasti lebih tidak diterima Tuhan!

Puasa Pengikut Isa Tidak Boleh Diketahui Orang Lain

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Inilah sebabnya mengapa orang Islam tidak pernah tahu bahwa sebenarnya orang Kristen juga berpuasa. Pengikut Isa yang sedang berpuasa tidak memerlukan perlakuan istimewa, yaitu dengan menjauhkan setiap makanan-minuman dari hadapanya. Ia juga tidak menganiaya orang yang sedang makan dihadapannya karena tidak menghargai dia yang sedang puasa. Puasa adalah hubungan rohani dengan Allah. Cukup Allah saja yang mengetahuinya!

“Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. . . . . ." (Injil, Rasul Besar Matius 6:17-18).

Jawaban Saya: “Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi (rendah hati, tidak menuntut) akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:17-18).

Apa yang diucapkan Yesus di atas dimaksudkan untuk mendidik bangsa Israel agar tulus, ikhlas dan tidak ada yang di maksud dalam ibadah selain Tuhan. Tidak ada yang berbeda dengan Islam dalam hal ini. Dalam Islam, ibadah harus karena Allah, bukan karena lain-lainnya, seperti ingin di puji orang (Riya) atau ingin di dengar orang (sum’ah). Orang yang beramal karena Riya dan Sum’ah, maka ibadahnya akan tertolak dan menjadi orang yang merugi kelak di akhirat. Amal ibadah memang tidak boleh ditampakkan atau diperlihatkan kepada orang lain, namun bukan berarti orang lain harus tidak tahu kita beramal atau beribadah. Letak niat orang beribadah itu ada di hati, sedangkan hati hanya Allah dan orang yang bersangkutan yang tahu. Jadi menurut saya, sangat berlebihan apabila berpuasa kita harus meminyaki kepala dan terus menerus mencuci muka. Niat ibadah itu di hati, selama dalam hati tidak ada maksud lain dalam beribadah selain Allah, maka tidak mengapa seribu orang mengetahui kita beribadah. Apalagi jika ibadah itu adalah puasa. Puasa bukanlah ibadah yang dapat diketahui orang dari melihat perubahan fisik, karena yang tidak berpuasa sekali pun, dapat memperlihatkan fisik sebagaimana fisik orang yang berpuasa.

Apakah Tujuan Anda Berpuasa?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Demikianlah tujuan orang Kristen berpuasa. Yaitu mendekatkan diri pada Sang Khalik. Bukan untuk mendapat pahala berlimpah agar layak masuk sorga. Sebab, seseorang yang menerima Isa Al-Masih sebagai Juru selamat, telah menerima 'jaminan' keselamatan sorgawi dari-Nya. Kitab Suci berkata, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Isa Al-Masih], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Injil, Kisah Para Rasul 4:12).

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus menyangka puasa yang mereka lakukan akan mendekatkan diri kepada Tuhan. Padahal sama sekali tidak. Orang-orang kafir apabila mereka beramal, maka amal mereka tidak akan diperhitungkan oleh Allah SWT. Jangankan dapat mendekatkan diri kepada Tuhan, amal mereka diperhitungkan saja tidak. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an; Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Al Furqaan: 21). Segala amal yang dilakukan oleh kafir Kristen pemuja Yesus, tidak akan pernah mendekatkan mereka kepada Tuhan. Itu karena mereka tidak menyembah kepada Allah, satu-satunya Tuhan yang benar, tetapi justru menyembah Yesus yang menjadi utusan-Nya (Yohanes 11:41-42).

Dalam Injil Kristen Yesus berkata, Domba domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku”(Yohanes 10:27-28). Domba dalam Bible Perjanjian Baru sering digunakan sebagai kiasan untuk menyebut bangsa Israel. Sedangkan untuk orang non-Israel Yesus menggunakan istilah anjing(Matius 10:6, Markus 7:26-27). Yang dimaksud domba pada ayat di atas adalah umat Yesus dari bangsa Israel. Jika mereka semua beriman kepada Allah Yang Esa dan beriman kepada Yesus utusannya, mendengar dan menjalankan ajaran Yesus (Yohanes 14:21), Yesus menjamin mereka akan selamat. Itu untuk umat Yesus dari bangsa Israel, bukan untuk bangsa lain yang mengaku domba dan pengikut Yesus seperti kafir Kristen. Itulah alasan mengapa saya sangat yakin Umat Kristen Pasti Masuk Neraka jika mereka tidak segera bertaubat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puasa – Taat Perintah Allah Atau Mengharap Pahala?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.