Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Permohonan Al-Fatihah Yang Mulia - Ihdina S-Sirat Al-Mustaqim

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Hampir semua pakar Islam mengajarkan bahwa “jalan yang lurus” adalah jalan amal dan perbuatan yang dikemukakan Al-Quran dan Hadith. Kita perlu mempertimbangkan tafsiran mereka. Pertama, melakukan “amal dan perbuatan” sesuai dengan ajaran agama Islam tidak menjamin Mukmin masuk sorga. Sebaliknya Al-Quran mengajarkan bahwa setiap Mukmin akan masuk neraka. “Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan” (Qs 19:71). Mungkinkah Allah memimpin kita ke salah satu “jalan lurus” yang menuju neraka?

Kedua, bila “jalan lurus” terdapat dalam Al-Quran, lebih baik ayat enam berbunyi, “Tolonglah kami menjalankan perintah-perintah dalam Al-Quran dan Hadith.” Tetapi permohonan dalam ayat enam memberi kesan bahwa pendoa tidak tahu dimana harus mencari “jalan lurus.”

Jawaban Saya: Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Fatihah: 6-7)

Kafir Kristen pemuja Yesus hanya berani mengutip Al-Qur’an surah Al-Fatihah sampai ayat 6; “Tunjukilah kami jalan yang lurus” dan tidak memiliki keberanian untuk mengutip juga ayat setelahnya. Itu karena pada ayat tersebut (Al-Fatihah: 7) terdapat penjelasan “jalan yang lurus” yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Allah SWT berfirman;

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatihah: 7)

Firman Allah swt yang mengatakan: Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka. (Al-Fatihah: 7) berkedudukan menafsirkan makna siratal mustakim (jalan yang lurus). Menurut kalangan ahli nahwu menjadi badal. dan boleh dianggap sebagai 'ataf bayan. Orang-orang yang memperoleh anugerah nikmat dari Allah Swt. adalah mereka yang disebutkan di dalam surat An-Nisa melalui firman-Nya:

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. (An-Nisa: 69-70)

Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna firman Allah SWT; "(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka" (Al-Fatihah: 7) ialah orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka berupa ketaatan kepada-Mu dan beribadah kepada-Mu; mereka adalah para malaikat-Mu, para nabi-Mu, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. istiqamah, dan taat kepada Allah serta Rasul-Nya, dengan cara mengerjakan semua yang diperintahkan-Nya dan menjauhi semua yang dilarang-Nya.

Sedangkan firman Allah SWT; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatihah: 7)

Bukan jalan orang-orang yang dimurkai. Mereka adalah orang-orang yang telah rusak kehendaknya; mereka mengetahui perkara yang hak, tetapi menyimpang darinya. Bukan pula jalan orang yang sesat. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu agama. Akhirnya mereka bergelimang dalam kesesatan. tanpa mendapatkan hidayah kepada jalan yang hak (benar). Pembicaraan dalam ayat ini dikuatkan dengan huruf la untuk menunjukkan bahwa ada dua jalan yang kedua-duanya rusak, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi dan oleh orang-orang Nasrani.

Jadi ketika umat Islam membaca surah Al-Fatihah sampai dengan selesai. Kami berdoa kepada Allah SWT supaya diberikan taufik untuk dapat mengikuti jalan orang-orang yang telah diberi nikmat, yaitu jalan para malaikat, para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan dalam surah Al-Fatihah ini kami juga berdoa kepada Allah SWT supaya diberikan taufik untuk dapat menjauhi jalan orang-orang Yahudi yang dimurkai dan jalan orang-orang Nasrani yang sesat.

Kafir Kristen pemuja Yesus memang sering kali mengatakan bahwa perbuatan amal yang dilakukan oleh umat Islam belum menjamin masuk surga. Karena keyakinan seorang Muslim terhadap amalnya yang akan menyampaikannya ke surga telah menjadi salah satu faktor penyebab seorang Muslim tidak akan pernah berpikir mencari jalan lain untuk keselamatan dirinya. Keselamatan dalam agama Kristen diperoleh dengan cara menjadikan Yesus sebagai korban penebus dosa. Kalau umat Islam sudah cukup dengan amal saleh yang dilakukannya, untuk apa lagi umat Islam butuh seorang penebus dosa? Inilah yang menyebabkan kafir Kristen pemuja Yesus frustrasi dan selalu mencari jalan agar muncul keraguan dalam hati seorang Muslim terhadap amalnya. Padahal banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan keterkaitan iman dan amal saleh terhadap surga sebagai balasannya.

Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan(Maryam: 71).

Ayat ini sering kali di kutip dan dipahami secara serampangan oleh kafir Kristen pemuja Yesus. Makna dari “mendatangi” pada ayat tersebut adalah melintasi atau melewati, bukan memasuki seperti apa yang mereka katakan. Dalam hadits Shahih Muslim: 267 disebutkan bahwa kelak di akhirat nanti Allah SWT akan membentangkan shirath di atas neraka. Untuk masuk surga, semua manusia –baik dia beriman atau kafir- akan melintasi atau melewati shirath tersebut. Kemudian Allah SWT akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa sesuai amal perbuatan mereka masing-masing, sementara itu orang-orang kafir dan pelaku maksiat dibiarkan oleh Allah SWT jatuh masuk ke dalam neraka. Di ayat selanjutnya, Allah SWT berfirman: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut(Maryam: 72)

Telah saya jelaskan bahwa “siratal mustakim”  yang selalu di minta umat Islam adalah jalannya orang-orang yang diberi nikmat, yaitu jalannya para malaikat, para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Tujuan umat Islam berdoa “ihdinasha siratal mustakim” adalah supaya Allah SWT berkenan memberikan taufik  agar dapat istiqamah pada jalannya orang-orang yang diberi nikmat.

Semestinya “Jalan yang Lurus” Memimpin ke Sorga

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Ada satu setengah milyar Mukmin di dunia. Sebagian mengucapkan dalam bentuk permohonan Al-Fatihah sampai 17 kali sehari. Kebanyakan mereka serius, penuh iman dan tulus. Mereka sungguh ingin tahu “jalan yang lurus.”

Berulang kali saya bertanya pada teman Muslim, yakinkah mereka masuk sorga setelah meninggal. Saya belum pernah mendengar Mukmin menjawab, “Saya pasti ke sorga sesudah mati.” Apa yang saya dengar? Biasanya, “Mudah-mudahan ke sorga.”

Jadi kelihatan Allah tidak membalas doa, “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Jawaban Saya: Setiap Muslim pasti yakin agamanya akan membawa kepada keselamatan, itu karena agama Islam adalah agama satu-satunya yang di terima Allah SWT (Ali ‘Imran: 19, 85, 102, Al Maa’idah: 3). Di tambah banyaknya hadits shahih dari Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang kepastian umat Beliau pasti masuk surga, menambah keyakinan seorang Muslim bahwa dirinya kelak akan masuk surga. Tetapi kenapa jika seorang Muslim di tanya tentang apakah dia masuk surga selalu berkata belum tahu? Karena walaupun seorang Muslim tahu agamanya menjamin dirinya masuk surga, itu tidaklah membuat dirinya lekas sombong dan puas diri. Karena bagaimana pun, untuk masuk surga juga tergantung sepenuhnya bagaimana cara Muslim menjalani hidup, bukan hanya berbekal iman.

Kekhawatiran seorang Muslim mengenai nasib dirinya di akhirat sangatlah wajar. Karena kami bukanlah orang yang telah di jamin akan masuk surga dan tidak ada seorang pun dari kami yang dapat memastikan dirinya akan selamat. Yang dapat kami lakukan hanyalah beramal, serta berharap agar Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya dan berkenan menutupi kekurangan-kekurangan kami dengan lantaran amal tersebut. Bagaimana pun juga kami lebih suka menjadi seorang Muslim. Walaupun kami tidak pasti masuk surga, tetapi paling tidak kami masih mempunyai kesempatan untuk masuk surga. Dari pada menjadi seorang pemuja Yesus (Kristen) yang Allah SWT sendiri telah memastikan mereka pasti masuk neraka;

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" tetapi kamu adalah manusia(biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (Al Maa'idah: 18).

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Al Bayyinah: 6)

Mungkinkah Artikel Ini, yang Anda Baca, Balasan Doa Anda?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Nabi yang dihargai para Mukmin berkata, “Akulah Jalan . . .” Ia tidak mengatakan Ia tahu jalan ke sorga. Ia tidak mengatakan Ia akan menunjukkan jalan ke sorga. Tapi dengan berani Ia berkata “Aku inilah Jalan.”

Juga Ia menekankan bahwa orang yang menerima Dia sebagai “Jalan” ke sorga pasti tidak akan binasa. Mereka akan hidup selama-lamanya. Jadi orang yang menerima Dia sebagai “Jalan” bukan “mudah-mudahan selamat” tetapi “pasti selamat.”

Jawaban Saya: Yesus yang menyebut dirinya jalan, ternyata juga memerintahkan untuk menyembah hanya kepada Allah SWT (Al Maa'idah: 117), kami mengikuti perintahnya dengan hanya menyembah Allah SWT semata. Yesus yang menyatakan dirinya jalan, juga menyebut diri hanya seorang hamba yang dijadikan Nabi (Maryam: 30), kami mengakui Nabi Isa AS hanyalah seorang hamba dan Nabi Allah. Yesus yang menyatakan dirinya jalan, juga mengabarkan akan datangnya seorang Nabi bernama Ahmad (Muhammad) setelah dirinya (Ash Shaff: 6), kami telah beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan mengikuti agama yang dibawanya. Yesus yang menyatakan dirinya jalan, kelak di akhir zaman akan turun kembali ke dunia untuk memerangi manusia sampai mereka menerima Islam,  menghancurkan salib, membunuh Dajjal, hidup empat puluh tahun di dunia dan meninggal sebagai seorang Muslim. Perhatikan hadits shahih berikut ini;

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada Nabi antara aku dan dia -maksudnya Isa-. Sungguh, kelak ia akan turun, jika kalian melihatnya maka kenalilah. Ia adalah seorang laki-laki yang sedang (tidak tinggi ataupun pendek), berkulit merah keputih-putihan, mengenakan kain berwarna kekuningan. Seakan rambut kepala menetes meski tidak basah. Ia akan memerangi manusia hingga mereka masuk ke dalam Islam, ia memecahkan salib, membunuh babi dan membebaskan jizyah (pajak). Pada masanya Allah akan membinasakan semua agama selain Islam, Isa akan membunuh Dajjal, dan akan tinggal di dunia selama empat puluh tahun. Setelah itu ia meninggal dan kaum muslimin menshalatinya." (Sunan Abu Daud: 3766

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Permohonan Al-Fatihah Yang Mulia - Ihdina S-Sirat Al-Mustaqim"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.