Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Hikmah Wafat Muhammad Dan Isa Al-Masih

Kematian merupakan akhir kehidupan setiap makhluk. Artinya, tidak ada yang kekal di dunia. Cepat atau lambat, semua pasti mengalaminya. Demikian juga Muhammad dan Isa Al-Masih. Sebagai nabi terbesar dalam ajaran Islam dan Kristen, adakah hikmah dibalik wafat mereka? Adakah perbedaan misi dan pengharapan dalam kematian keduanya? Memahami hikmah wafat mereka, membuat Anda mengerti kuasanya masing-masing!

Adakah Nubuat Bagi Kematian Muhammad dan Isa Al-Masih?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Baik dalam Al-Quran maupun hadist, kita tidak pernah menemukan ada nubuat tentang wafat Muhammad. Kematiannya yang mendadak, meninggalkan duka mendalam bagi pengikutnya. Berbeda dengan Isa Al-Masih. Tujuh ratus tahun sebelumnya, nabi Allah telah menubuatkan bagaimana Isa menghadapi kematian-Nya. “ . . . dalam matinya ia [Isa Al-Masih] ada di antara penjahat-penjahat, . . .” (Taurat, Kitab Nabi Yesaya 53:9). Tahun 33 Masehi, nubuat tersebut digenapi. “. . .  prajurit-prajurit  itu [Romawi] menyalibkan Yesus [Isa Al-Masih]” (Injil Rasul Besar Yohanes 19 :23).

Jawaban Saya: Kitab Taurat sudah ada jauh sebelum Injil di tulis. Maka sangat mudah bagi penulis-penulis Injil untuk menuliskan kisah Yesus agar berkesesuaian dengan ayat-ayat yang ada dalam kitab Taurat. Tujuannya tentu saja untuk membuat orang-orang Yahudi mau menerima Yesus karena melihat seolah Yesus telah dinubuatkan. Singkatnya, penulis-penulis Injil memang sengaja menulis kisah-kisah Yesus sesuai dengan gambaran ayat-ayat Taurat, agar muncul persepsi Yesus telah dinubuatkan di banyak tempat dalam Taurat.

Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. (Yesaya 53:9). Ayat ini dikatakan oleh kafir Kristen pemuja Yesus sebagai nubuat akan kematian Yesus, padahal kalau dibaca ayat selanjutnya, akan terlihat bahwa perkataan mereka itu tidak benar. Kalaupun Yesaya 53:9 adalah nubuat, tidak mungkin nubuat tersebut untuk Yesus, karena di ayat selanjutnya dikatakan bahwa orang yang di maksud Yesaya 53:9 adalah orang yang memiliki keturunan dan Yesus tidak pernah menikah apalagi memiliki keturunan. Perhatian ayat ini;

Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. (Yesaya 53:10).

Kematian Muhammad dan Isa Fakta Bahwa Keduanya Manusia?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Dari penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kematian Muhammad karena mengikuti siklus hidup manusia umumnya. Yaitu: Lahir, bertumbuh, hingga akhirnya meninggal dunia. Bagaimana dengan Isa Al-Masih? Bukankah Ia juga mengalami kematian dan hal itu menandakan bahwa Ia manusia? Benar! Tapi Kitab Suci Allah memberi kesaksian  “ . . . Ia [Isa Al-Masih], yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, . . .” (Injil, Surat 1 Petrus 3:18). Jadi yang disalibkan dan mati adalah tubuh kemanusiaan Isa Al-Masih. Bukan ke-Ilahian-Nya, sebab Tuhan tidak dapat mati.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus beranggapan bahwa dalam diri Yesus terdapat dua entitas yang berbeda yaitu Tuhan dan manusia. Entitas Tuhan lebih kuat daripada entitas manusia. Kalau memang Yesus memiliki dua entitas tersebut, maka entitas Tuhan-lah yang akan lebih dominan karena entitas Tuhan lebih kuat daripada entitas manusia. Jadi jika benar Yesus itu Tuhan sekaligus manusia, maka Yesus tidak akan memperlihatkan kelemahan sebagaimana manusia, termasuk tidak akan pernah mati. Fakta bahwa Yesus memperlihatkan kelemahan sebagaimana manusia bahkan sampai mati di salib adalah bukti Yesus hanyalah manusia biasa, bukan Tuhan.

Makna Kematian Isa Al-Masih

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Setelah tiga hari berada dalam kubur-Nya, Isa bangkit dan hidup lagi. Ini fakta bahwa sebenarnya tujuan kematian Isa Al-Masih ialah menanggung hukuman dosa dan mengampuni dosa manusia. “Sebab inilah darah-Ku, . . . . ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. (Injil, Rasul Besar Matius 26:28). Misi kematian dan kebangkitan-Nya untuk menjamin sorga bagi para pengikut-Nya. Isa berkata, “Di rumah Bapa-Ku [di sorga] banyak tempat tinggal . . . Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu . . . Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:2-3).

Jawaban Saya: Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa (Matius 26:28). Penulis Injil Matius menyandarkan ucapan itu kepada Yesus. Ada banyak hal yang harus menjadi bahan pertimbangan bagi siapa pun orang yang mempercayai ayat itu sebagai ucapan Yesus. Yang saya ketahui, Injil baru ditulis puluhan hingga ratusan tahun setelah Yesus di angkat ke langit, itu artinya Yesus tidak dapat mengkonfirmasi kebenaran ucapan di Matius 26:28 sebagai ucapannya dirinya. Menurut pengakuan orang Kristen yang ketika itu berdebat dengan saya, Injil Matius ditulis mulai tahun 40 Masehi sampai abad ke 2 Masehi. Menurut saya tidak masuk akal, masak untuk menulis satu kitab saja butuh waktu hampir 200 tahun. Selain itu penulis Injil Matius ternyata bukanlah Matius murid langsung Yesus. Injil Matius ditulis oleh orang lain yang bernama Matius, dia hidup di 200 tahun setelah Yesus. Penulis Injil Matius siapa pun orangnya, tidak mungkin mendengar langsung ucapan Yesus karena penulis Injil Matius lahir jauh setelah Yesus di angkat ke langit. Jadi tidak mungkin penulis Injil Matius dapat mengutip ucapan Yesus kecuali melalui saksi-saksi. Jika Injil Matius ditulis berdasarkan pengakuan saksi-saksi, siapa sajakah saksi-saksi itu? Bagaimanakah kejujuran mereka? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan mungkin terjawab walau sampai kiamat sekalipun.    

Sedikit tambahan. Semua Injil, termasuk Injil Matius, pada mulanya tidak pernah di anggap sebagai kitab suci. Orang Kristen periode awal tidak pernah menganggap Injil sebagai kitab suci yang berisi firman Allah. Mereka menganggap Injil hanya sebatas kisah rakyat atau dongeng. Oleh karenanya, orang Kristen periode awal tidak pernah mensejajarkan Injil dengan Taurat dan tidak pernah Injil dibacakan dalam rumah ibadah. Baru di tahun 300 Masehi mulai ada upaya menjadikan Injil sebagai kitab suci untuk kemudian disejajarkan dengan Taurat. Dengan fakta-fakta yang telah saya terangkan tadi, rasanya tidak mungkin menerima Injil menjadi sumber informasi yang tepercaya. 

Siapa Dapat Memberi Jaminan Hidup Kekal?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Dalam Qs 46:9 nabi umat Islam mengaku " . . . aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadapmu . . .”. Bahkan menjelang kematiannya dia berdoa, “Ya Allah! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkanlah saya dengan Teman Yang Maha Tinggi . . .” (Hadis Shahih Bukhari 1573). Kita menemukan hal berbeda dalam diri Isa Al-Masih. Ia tidak pernah meminta ampun. Qs 19:19 berkata Ia suci adanya. Sejak dalam kandungan hingga wafat. Sebab itu Isa tidak minta syafaat untuk diri-Nya. Lagi Isa berkuasa memberi syafaat bagi orang lain, yaitu orang berdosa. Isa berjanji, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka [para pengikut-Nya] dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 10:28) Sungguh indah bukan jika ada yang menjamin hidup kekal Anda!?

Jawaban Saya: : Firman Allah SWT, Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan." (Al Ahqaaf: 9).

Abu Bakar Al-Huzali telah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan makna firman-Nya: dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. (Al-Ahqaf: 9) Adapun di akhirat, maka mendapat pemaafan dari Allah, dan telah diketahui bahwa hal itu berarti dimasukkan ke dalam surga. Tetapi Nabi SAW mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apakah yang akan dilakukan terhadap dirinya dan tidak (pula) terhadap diri mereka di dunia ini. Apakah beliau SAW akan diusir sebagaimana para nabi sebelumnya diusir dari negerinya? Ataukah beliau akan di bunuh sebagaimana para nabi terdahulu banyak yang dibunuh? Nabi SAW bersabda, "Aku tidak mengetahui apakah kalian akan dibenamkan ke dalam bumi ataukah dilempari batu-batuan dari langit?"

Pendapat inilah yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Jarir, dan bahwa tiada takwiI lain selain ini.

Dan memang tidak diragukan lagi pendapat inilah yang sesuai dengan takwil ayat, karena sesungguhnya mengenai nasib di akhirat sudah dapat dipastikan tempat kembali Rasulullah SAW adalah surga, begitu pula orang-orang yang mengikutinya. Ada pun apa yang dilakukan terhadap dirinya (Nabi SAW) di dunia ini, maka beliau tidak mengetahui apakah akibat dari urusannya dan urusan orang-orang musyrik Quraisy, bagaimanakah kesudahannya nanti, apakah mereka akan beriman ataukah mereka tetap pada kekafirannya yang akibatnya mereka akan diazab dan dimusnahkan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Jadi ketidaktahuan Nabi yang di maksud dalam Al Ahqaaf: 9 adalah ketidaktahuan atas nasib beliau di dunia, apakah beliau akan di usir atau akan di bunuh oleh orang-orang kafir. Mengenai nasib Nabi Muhammad SAW di akhirat sudah dapat dipastikan tempat kembali Rasulullah SAW adalah surga, karena Allah SWT telah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya (Shahih Bukhari 5982). Umatnya pun di jamin pasti masuk surga, selagi mereka beriman kepada Allah SWT dengan keimanan yang benar dan taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan telah menceritakan kepada kami Fulaih telah menceritakan kepada kami Hilal bin Ali dari 'Atha bin Yasar dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, " Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?" Nabi menjawab: "Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang membangkang aku berarti ia enggan." (Shahih Bukhari: 6737).

Kafir Kristen pemuja Yesus mengutip sebuah hadits yang disebutnya dari Shahih Bukhari 1573. Namun hadits dengan isi persis seperti kutipan kafir Kristen di atas tidak dapat saya temukan, tetapi ada hadits yang memiliki makna sama, Telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad Telah menceritakan kepada kami Abdul 'Azid bin Mukhtar Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah dari Abbad bin Abdullah bin Zubair bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya; dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata sebelum beliau wafat di pangkuan Aisyah dan ia pun mendengar ucapan beliau; "Ya Allah, Ampunilah aku, berikanlah rahmat kepadaku dan pertemukanlah aku dengan kekasihku!" (Shahih Bukhari: 4086).


Kafir Kristen pemuja Yesus memang sering memahami sesuatu dengan pola sebab akibat. Misalnya kalau Nabi Muhammad SAW berdoa untuk di ampuni dosanya, berarti Nabi Muhammad SAW pernah melakukan maksiat, padahal tidak harus demikian. Jika pola mereka itu di pakai, maka Yesus pun dapat di asumsikan pernah bermaksiat. Yesus dalam Injil memang tidak pernah doa agar dosanya di ampuni, tetapi dalam Injil Yesus diceritakan pernah dibaptis (Matius 3:13). Baptis itu tanda bahwa orang itu telah bertaubat. Orang yang melakukan taubat biasanya karena telah melakukan perbuatan dosa dan ingin agar dosanya di ampuni oleh Tuhan melalui pembaptisan. Kalau Yesus dibaptis itu berarti Yesus pernah melakukan perbuatan dosa dan ingin agar dosanya di ampuni Tuhan melalui pembaptisan. Nabi Isa memang di sebut Al-Qur’an sebagai seorang anak yang suci, tetapi bukan hanya Nabi Isa saja yang suci, karena semua manusia lahir dalam keadaan suci (Shahih Muslim: 4804). Jadi sangat salah kalau orang kafir pemuja Yesus menjadikan Yesus sebagai tumbal penebus dosa, karena Yesus Bukan Tebusan Yang Sempurna.      

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hikmah Wafat Muhammad Dan Isa Al-Masih"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.