Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Rahasia Berkah Idul Adha

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Mengenai peringatan hari raya Idul Adha, Al-Quran mencatat sebuah ayat yang menarik.  Ayat ini tentang pengurbanan Nabi Ibrahim AS.  Ia mengurbankan seekor domba jantan sebagai pengganti anak lelaki yang disayanginya. “Kami tebusi anaknya itu sembelihan yang besar (seekor kambing / domba).” (QS 37:107).

Al-Quran Menggambarkan Sembelihan Dengan “Adzim” (Besar)

“Adzim” (Besar) adalah nama yang digunakan bagi Allah. Tapi ayat di atas juga menggunakan nama tersebut bagi korban sembelihan yang nilainya lebih kecil dibandingkan anak Ibrahim. Apa maksud Al-Quran dengan ayat tersebut? “Sembelihan besar” ini adalah sebuah simbol yang melambangkan keagungan. “Sembelihan besar” menjadi alat penebusan Allah bagi anak lelaki Ibrahim.  Inilah merupakan kemurahan hati Allah. Kematian domba jantan itu telah menebus manusia dan memberikan hidup kepadanya.

Jawaban Saya: Firman Allah SWT: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash-Shaffat: 107).

Sufyan As- Sauri telah meriwayatkan dari Jabir Al-Ju'fi, dari Abut Tufail dari Ali r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash-Shaffat: 107). Yakni dengan kambing gibasy yang berbulu putih, gemuk, lagi bertanduk yang telah diikat di pohon samurah. Abut Tufail mengatakan bahwa mereka (berdua) menemukannya dalam keadaan telah terikat di pohon samurah yang ada di Bukit Sabir. Jadi pengertian yang benar dari “sembelihan yang besar” pada ayat tersebut adalah sembelihan yang besar dalam arti harfiah, yakni kambing gibasy yang besar dan gemuk, tidak ada makna simbolis seperti yang dikatakan oleh kafir Kristen pemuja Yesus. Mereka mengatakan demikian karena bermaksud menyesatkan umat Islam dari jalan yang lurus.    

Allah yang Menebus dan Menyediakan

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Karena Allah yang menebus anak lelaki Ibrahim melalui sembelihan. Sembelihan yang Allah sediakan ialah sebuah domba jantan yang benar-benar murni dan tanpa cacat sedikit pun. Al-Quran tidak bicara mengenai tempat penyembelihan tersebut.  Namun Kitab Taurat, Kejadian 22:3 menulis: Allah memerintahkan Ibrahim untuk pergi ke Gunung Moria. Ratusan tahun kemudian, Raja Sulaiman membangun Bait Allah di atas gunung yang sama.

Jawaban Saya: Tidak ada sesuatu yang harus saya jawab.

Apa Tujuan Berkurban Pada Idul Adha?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Beberapa orang berpendapat tujuan berkurban supaya orang miskin dapat mengambil manfaat dengan makan dagingnya. Pendapat itu tidak salah.  Tetapi benarkah tujuan Allah atas kurban semata-mata hanya itu? Tidak ada perintah dalam Al-Quran untuk berkurban saat Idul Adha. Satu-satunya alasan adalah meneladani ketaatan Nabi Ibrahim saat berkurban (QS 37:100-113). Dan saat itu dia tidak berada di antara orang-orang miskin. Karena dia takut kepada Allah dan menyadari dosa-dosanya, maka dia memerlukan tebusan dari Allah. Al-Quran mencatat “Dan yang amat kuinginkan (Nabi Ibrahim) akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat" (QS 26:82). Maka seharusnya tujuan seseorang berkurban adalah karena percaya kepada Allah, pada apa yang telah dilakukan-Nya serta memohon pengampunan dan penebusan-Nya.

Jawaban Saya: Firman Allah SWT: dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat. (Asy Syu'araa': 82). Ayat itu memang ucapan Nabi Ibrahim AS kepada kaumnya yang sengaja Allah SWT abadikan di dalam Al-Qur’an. Tetapi salah jikalau kafir Kristen pemuja Yesus menganggap ayat tersebut sebagai alasan Nabi Ibrahim AS memerlukan tebusan dari Allah. Nabi Ibrahim AS bermaksud menyembelih anaknya yang kemudian di ganti dengan sembelihan yang besar bukan karena beliau merasa berdosa dan ingin di ampuni dosanya, melainkan sekedar menjalankan perintah Allah SWT yang dimaksudkan sebagai ujian kepada Nabi Ibrahim AS dan anaknya Ismail. Ayat Al-Qur’an dengan sangat jelas menyatakan demikian,

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab, "Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, "sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash-Shaffat: 102-107).

Hukum penebusan dosa dengan mengorbankan hewan tebusan merupakan syariat Nabi Musa AS yang terdapat dalam Taurat. Sangat aneh kalau kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan Nabi Ibrahim AS memerlukan tebusan untuk dosa-dosanya, sementara Nabi Ibrahim AS hidup jauh sebelum Nabi Musa AS dan Taurat diturunkan. Coba periksa sekali lagi, apakah Bible menyebut penebusan dosa dengan mengorbankan hewan tebusan terdapat pada zaman Nabi Ibrahim AS masih hidup.

Kafir Kristen pemuja Yesus berkata bahwa tidak ada perintah Al-Qur’an untuk berkurban saat Idul Adha. Jelas itu pernyataan yang sangat salah. Karena dengan sangat gamblang Al-Qur’an menyebutkan Allah SWT mensyariatkan penyembelihan kurban;

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (Al Hajj: 34).

Dalam Hadits Shahih Rasulullah SAW juga bersabda, "Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada hari ini adalah melaksanakan shalat ('iedul adlha) kemudian kembali pulang dan menyembelih binatang kurban, barang siapa melakukan hal ini, berarti dia telah bertindak sesuai dengan sunnah kita, barang siapa menyembelih binatang kurban sebelum (shalat ied), maka sembelihannya itu hanya berupa daging yang ia berikan kepada keluarganya, tidak ada hubungannya dengan ibadah kurban sedikitpun." (Shahih Bukhari: 5134).

Kurban Seperti Apakah Yang Layak Menggantikan Kita Dihadapan Allah?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Sapi Kurban“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.  . . . ” (QS 22:37). Kurban yang layak menggantikan kita dihadapan Allah haruslah lebih tinggi dari seekor hewan. Karena Allah hanya menerima ketaqwaan yang hanya dimiliki oleh manusia, maka kurban yang dapat diterima Allah hanyalah kurban seorang manusia.

Jawaban Saya: Firman Allah SWT, Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah. Tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya. (Al-Hajj: 37). Maksudnya, Dialah Allah SWT Yang Maha Kaya lagi Maha Pemberi Rezeki, tiada sesuatu pun dari daging atau darah hewan-hewan kurban itu yang dapat mencapai ridha Allah. Yang diterima oleh Allah SWT dalam ibadah kurban adalah ketakwaan dari hamba-Nya yang ikhlas menjalankan perintah Allah SWT untuk menyembelih hewan kurban. Untuk mencapai keridhaan Allah SWT, cukup bagi seorang hamba untuk mengorbankan hewan sembelihan, tidak perlu sampai harus menjadikan seorang manusia menjadi kurban sembelihan. Menjadikan manusia menjadi kurban adalah tindakan keji dan biadab yang hanya dilakukan oleh para pemuja syaitan.   

Ciri-ciri “Kurban Besar”

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Jelas, harus manusia suci, tanpa dosa, dan dikirim Allah. Beberapa orang berpendapat bahwa semua nabi tidak berdosa. Benarkah demikian?  Al-Quran mencatat: Adam dan Hawa berdosa (QS 7:23 ); Nuh berdosa (QS 11:47 ); Ibrahim berdosa (QS 26:82; 14:41 ); Musa berdosa (QS 28:15-16); Harun berdosa (QS 20:93); Daud berdosa (QS 38:24 ); Sulaiman berdosa (QS 38:32,35 ); Yunus berdosa (QS 21:87 ); Muhammad berdosa (QS 48:2; 47:19). Bagaimana dengan Isa Al-Masih? Tidak ada ayat dalam Al-Quran yang mengatakan Isa Al-Masih berdosa. Sebaliknya Al-Quran mencatat: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci."  Kata “suci” hanya ditujukan kepada Isa Al-Masih. Kedatangan-Nya disebut ajaib karena Dia satu-satunya yang dilahirkan oleh seorang perawan (QS 21:91; 66:12), juga memiliki Kebesaran  (QS 3:45; 4:171) dan disebut “Kalimat-Nya dan roh dari pada-Nya”.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan Isa Al-Masih tidak berdosa sehingga pantas dijadikan tumbal penebus dosa. Al-Qur’an memang tidak pernah menyebut Nabi Isa AS berbuat dosa, tetapi Bible Perjanjian Baru menyebutkannya.

Suatu hari Yesus di ajak oleh saudara-saudaranya untuk menghadiri sebuah pesta, Yesus menolak dengan alasan waktunya belum genap. Tetapi setelah saudara-saudaranya pergi ke pesta, Yesus pun pergi ke pesta tersebut dengan diam-diam (Yohanes 7:10). Perbuatan Yesus tersebut tergolong perbuatan dosa karena melanggar hukum Taurat yang melarang berbohong dan berdusta (Imamat 19:11). Yesus juga pernah menyuruh murid-muridnya untuk mengambil keledai betina milik orang lain tanpa izin pemiliknya (Matius 21:2). Perbuatan Yesus tersebut dapat digolongkan sebagai tindak pencurian, karena definisi mencuri itu adalah mengambil properti milik orang lain tanpa izin pemiliknya. Mencuri termasuk perbuatan dosa karena hukum Taurat melarang perbuatan tersebut (Keluaran 20:15, 17).

Telah terbukti, bahwa Yesus bukanlah manusia suci yang dapat hidup tanpa berbuat dosa. Hukum Taurat menghendaki korban tebusan haruslah tidak bercacat, seperti timpang atau buta (Ulangan 15:21). Yesus yang dapat berbuat dosa atau berdosa adalah bukti bahwa Yesus bukanlah korban yang sempurna untuk tebusan dosa. Ibarat hewan tebusan, Yesus itu cacat;  timpang atau buta. Menjadikan Yesus sebagai korban penebus dosa tidak akan pernah membuat orang Kristen tertebus dosanya, karena Yesus yang mereka jadikan korban penebus dosa tidak sempurna sehingga tidak berkenan kepada Allah.

Isa Al-Masih “Kurban” yang Besar

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Dengan demikian Isa Al-Masih adalah satu-satunya yang dapat menjadi kurban yang sebenarnya. Mengapa? Karena Dia suci, datang ke dunia dengan cara ajaib, dan dikirim Allah. Seperti halnya kurban yang harus terlebih dahulu hidup lama sebelum siap dikurbankan, demikian juga Isa Al-Masih. Ia hidup cukup lama sebelum mengurbankan diri-Nya sebagai tebusan. Kematian-Nya di kayu salib telah membuat darah-Nya tertumpah. Dia adalah lambang tebusan Allah seperti yang dikatakan oleh Nabi Yahya, anak Zakaria: “Ini adalah Anak Domba Allah, yang akan dikurbankan untuk menebus dosa-dosa dunia.” Kematian-Nya telah memberikan hidup kepada manusia.  Ia membangkitkan orang dari kematian sebelum Dia sendiri mati. Dia, yang tidak berdosa telah menyerahkan diri-Nya bagi orang berdosa. Dan menjadi tebusan serta memberi hidup bagi orang berdosa.

Jawaban Saya: Telah saya jawab di atas, bahwa Yesus bukanlah manusia suci yang bebas dari perbuatan dosa. Menjadikan Yesus sebagai tumbal penebus dosa, sama dengan menjadikan hewan cacat, buta atau timpang sebagai korban penebus dosa. Menjadikan Yesus sebagai korban penebus dosa tidak akan pernah membuat orang Kristen tertebus dosanya, karena Yesus yang mereka jadikan tumbal penebus dosa tidak sempurna sehingga tidak berkenan kepada Allah. Oleh karena itu, sudah saatnya orang Kristen mulai berpikir lebih serius tentang keselamatan dirinya. Jangan mau lagi tertipu dengan berbagai doktrin gereja tentang keselamatan yang sudah terbukti salah. Mulailah dari sekarang mempelajari agama Islam. Buang jauh-jauh gengsi, rasa iri dan dengki dalam hati. Hidup kalian hanya sekali, kesempatan untuk memperbaiki diri juga hanya sekali. Manfaatkanlah dengan baik hidup kalian yang hanya sekali itu untuk mencari kebenaran. Kami umat Islam pasti akan selalu mendoakan kalian agar secepatnya memperoleh hidayah. Amiiin.

Rahasia Berkah Idul Adha!!

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Isa Al-Masih bukan hanya satu-satunya yang dapat menjadi kurban, tetapi Dia adalah “kurban besar” itu karena menggambarkan semua sifat kurban itu. Dengan demikian kita dapat mengerti dalam pengertian yang lebih luas arti rahasia dari ayat “Kami tebusi anaknya itu dengan sembelihan yang besar (seekor domba)” (QS 37:107). Mengapa dia “besar?” Karena pengurbanan besarnya mencakup seluruh umat manusia.

Jawaban Saya: Tidak perlu lagi saya ulangi jawaban saya, silakan baca kembali jawaban-jawaban saya di atas.

Kesimpulan

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Kematian domba jantan itu telah menebus dan memberikan hidup bagi anak lelaki Nabi Ibrahim. Tujuan berkurban karena percaya kepada Allah, pada apa yang telah dilakukan-Nya, memohon pengampunan dan penebusan-Nya. Kurban yang dapat diterima Allah adalah kurban seorang manusia yang suci dan tanpa dosa. Isa Al-Masih satu-satunya yang dapat menjadi kurban 'kurban besar'. Karena Dia suci, datang ke dunia dengan cara ajaib, dikirim Allah dan kematian-Nya memberikan hidup kepada manusia sebagai tebusannya. Jelas, Isa Al-Masih mengorbankan diri-Nya bagi seluruh manusia termasuk Saudara.  Hari ini, dengan menerima Isa Al-Masih sebagai Juruselamat, Saudara dapat menikmati hidup yang kekal. Kiranya Saudara mendoakan doa keselamatan dalam “Tindakan Ke-Enam” pada seksi tentang Jalan Keselamatan di situs ini.

Jawaban Saya: Dosa asal adalah dosa akibat dari ketidaktaatan Adam. Dosa ini hanya dapat ditebus hanya dengan mengkorbankan darah Tuhan yang telah turun dalam rupa manusia Yesus. Orang yang ingin menyucikan dirinya dari dosa asal harus menerima Yesus sebagai Tuhan, penebus dan juru selamat. Oleh karena dalam Islam tidak dikenal yang namanya dosa asal, maka seorang Muslim dapat dikatakan tidak perlu menyucikan dirinya dari dosa asal. Seorang Muslim juga tidak perlu sampai menjadikan Tuhan sebagai korban penebus dosa. Seorang Muslim TIDAK BUTUH Yesus sebagai penebus dosa, Tuhan dan juru selamat dirinya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rahasia Berkah Idul Adha"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.