Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Warisan Sorga: Untuk "Hamba Allah" (Islam) Atau "Anak Allah" (Kristen)?

Joyo Darsono, sangat bangga menjadi abdi dalem/pelayan di Keraton Yogyakarta. Sebab dia dipercayai Sultan Keraton Yogyakarta dan mendapatkan kepuasan batin. Tentu, boleh bangga menjadi abdi dalem, namun tidak ada abdi dalem yang mewarisi tahta kerajaan. Hanya anak (atau keluarga)Sultan yang pasti mewarisinya. Buktinya, Sultan Hamengku Buwono VII, VIII, IX dan ke X, adalah satu keturunan. Manakah lebih baik, menjadi “hamba” Allah atau “anak” Allah?

Makna Manusia Menjadi “Hamba Allah” Menurut Al-Quran

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Islam percaya bahwa relasi manusia dan Allah SWT adalah hubungan seorang hamba/’abid dengan tuannya. Hamba harus senantiasa taat dengan ikhlas sepenuh hati pada tuannya. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah  . . .” (Qs 4:125). Padahal selama kita masih mengharapkan sorga, ketundukan kita tidak dapat ikhlas sepenuhnya.

Jawaban Saya: Mengharapkan pahala dari Allah swt, mengharapkan surga-Nya serta takut akan murka dan adzab-Nya tidaklah bertentangan dengan keikhlasan sama sekali bahkan hal itu sudah menjadi kebiasaan orang-orang shaleh, ibadahnya orang-orang yang dekat dengan Allah swt dari kalangan para Nabi dan Rasul serta orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari akhir. Hal seperti itu terdapat di dalam Al Qur’an dan Sunnah, seperti firman Allah swt tatkala bercerita tentang bapak para Nabi, Ibrahim as di beberapa doa-doanya yang banyak:

“dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan,” (QS. Asy Syuara : 85)

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.” (QS. Al Anbiya : 85)

Dalam sebuah Hadits shahih, seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah saw; “wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke surga”. Pertanyaan tersebut di jawab oleh Rasulullah saw dengan sabdanya, "Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya, menegakkan shalat, dan membayar zakat serta menjalin tali silaturrahmi." (Shahih Bukhari: 5524). Hadits ini merupakan bukti bolehnya beramal dengan tujuan memperoleh surga dan sama sekali tidak merusak keikhlasan ibadah kepada Allah swt.

Hamba Allah” Tidak Pasti Mendapat Warisan Sorga

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Karena relasi tuan-hamba, para Mukmin dinilai berdasarkan amalnya. Jika perbuatan baik mereka lebih banyak dari dosa-dosanya, maka masuk sorga. Sebaliknya, jika dosa mereka lebih banyak daripada kebaikannya, maka masuk neraka (Qs 18:48-49,103-106). Akibat relasi tuan-hamba, para Mukmin tidak pasti mendapat warisan sorga. Itulah sebabnya para Mukmin selalu berkata “insya Allah”, “mudah-mudahan”, “semoga” dan “allahu alam/hanya Allah SWT yang tahu.” Tepatlah Kitab Allah menuliskan bahwa “hamba” tidak memperoleh warisan sorga (Injil, Surat Galatia 4:7).

Jawaban Saya: Setiap Muslim pasti yakin agamanya akan membawa kepada keselamatan, itu karena agama Islam adalah agama satu-satunya yang di terima Allah SWT (Ali ‘Imran: 19, 85, 102, Al Maa’idah: 3). Di tambah banyaknya hadits shahih dari Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang kepastian umat Beliau pasti masuk surga, menambah keyakinan seorang Muslim bahwa dirinya kelak akan masuk surga.

Tetapi kenapa jika seorang Muslim di tanya tentang apakah dia masuk surga selalu berkata: “insya allah”, “mudah-mudahan”atau“semoga”? Itulah sikap Tawadhu’nya seorang Muslim, hal inilah yang tidak pernah di mengerti oleh kafir Kristen pemuja Yesus. Walaupun seorang Muslim tahu agamanya menjamin dirinya masuk surga, itu tidaklah membuat dirinya lekas sombong dan puas diri. Karena bagaimana pun, untuk masuk surga atau neraka juga tergantung sepenuhnya bagaimana cara Muslim menjalani hidup, bukan hanya berbekal iman. Ini sangat baik, karena dengan keyakinan yang demikian, seorang Muslim akan sangat berhati-hati dalam menjalani hidup. Jangan sampai dia berbuat sesuatu yang akan menggugurkan iman dan amal shalehnya hingga kelak akan merugi di akhirat. Dan pada akhirnya, keyakinan seorang Muslim bahwa dirinya belum pasti masuk surga, benar-benar akan membawanya masuk surga. Bagaimana pun juga kami lebih suka menjadi hamba Allah swt walaupun tidak pasti masuk surga, dari pada menjadi anak-anak Allah tetapi telah dipastikan masuk neraka;

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" tetapi kamu adalah manusia(biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (Al Maa'idah: 18).

Makna “Anak Allah”, Menurut Kitab Allah

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Injil mengajarkan konsep anak Allah. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Isa mengangkat setiap orang yang percaya kepada-Nya menjadi anak Allah. “… semua orang yang menerima-Nya [Isa Al-Masih] diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, … yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah” (Injil, Rasul Besar Yohanes 1:12-13).

Jawaban Saya: Memang betul Injil Yohanes 1:12-13 menyebut orang yang percaya kepada Yesus akan diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, tetapi dalam Injil Matius 5:9, Yesus mengatakan yang akan menjadi anak-anak Allah adalah mereka yang membawa damai, bukan hanya yang percaya Yesus saja. Yang patut dipikirkan kemudian, apakah cukup dengan percaya Yesus dan menjadi anak-anak Allah maka akan pasti masuk surga? Saya yakin, tidak!

“Anak Allah” Pasti Mendapat Warisan Sorga

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Tujuan pengangkatan anak ini ialah agar umat-Nya “… menjadi ahli waris Kerajaan [sorga] yang telah dijanjikan-Nya kepada barang siapa yang mengasihi Dia” (Injil, Surat Rasul Besar Yakobus 2:5). Bukankah orang tua kita membagikan warisannya kepada anak-anaknya, dan bukan kepada pembantunya? Terlebih lagi Allah, memberikan warisan sorga dan hidup kekal hanya kepada anak-anak-Nya. Karena penilaian seorang hamba Allah SWT adalah amalnya, maka para Mukmin tidak pasti mendapat warisan sorga. Sebaliknya, anak Allah beroleh pengampunan dosa dan warisan sorga karena karya penyelamatan Isa Al-Masih. Saudara dapat berdoa mohon pengampunan dosa kepada Isa Al-Masih, supaya menjadi anak Allah secara rohani dan mewarisi kehidupan kekal di sorga.

Jawaban Saya: Seperti di ceritakan dalam Injil. Ada seseorang sambil berlari-lari menemui Yesus. Sambil berlutut, orang tersebut bertanya kepada Yesus apa yang harus di perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus menjawab bahwa untuk memperoleh hidup yang kekal ia harus melakukan segala perintah Allah. Orang ini berkata bahwa dirinya telah melakukan segala perintah Allah sejak mudanya. Agar sempurna, orang ini diperintah Yesus untuk menjual apa yang dimilikinya dan memberikannya kepada orang miskin untuk menutupi kekurangannya. Orang ini pergi meninggalkan Yesus, merasa berat hati untuk melakukan perintahnya menjual apa yang dimilikinya dan memberikannya kepada orang miskin, sebab dia orang yang banyak hartanya. Setelah orang ini pergi, Yesus berkata kepada murid-muridnya, "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Markus 10:17-23).

Nah, dari cerita di atas dapat kita ketahui bahwa tidak cukup bagi seseorang hanya percaya Yesus atau tidak cukup bagi seseorang hanya menjadi “anak Allah” untuk dapat memperoleh hidup yang kekal. Coba anda perhatikan, kurang percaya bagaimana orang tersebut kepada Yesus?! Dia datang kepada Yesus sambil berlutut-lutut. Kurang apa coba dia sebagai “anak Allah”, semua perintah “Bapanya” telah dia turuti. Tetapi semua itu tidak kemudian menjaminnya masuk surga. Satu saja perintah Yesus tidak dilakukannya, orang ini dikatakan oleh Yesus tidak akan masuk ke dalam surga.

Saya kasih satu contoh lagi untuk mencairkan akal kafir Kristen yang telah lama membeku.

Anda tahu bangsa Israel? Kurang apa coba bangsa Israel?! Di dalam Bible mereka di sebut sebagai “umat-Ku” oleh Tuhan sendiri. Setiap kali bangsa Israel di timpa kesulitan, maka Tuhan pasti akan menolong mereka. Jika mereka di perangi oleh bangsa lain, Tuhan sendiri yang menjadi panglima perangnya. Al-Qur’an menyebut bangsa Israel itu adalah bangsa pilihan Tuhan, bangsa Israel itu bangsa yang telah dilebihkan dari bangsa-bangsa lainnya di dunia (Al Jaatsiyah: 16). Tetapi apa yang Tuhan lakukan ketika mereka berubah menjadi pemuja berhala? Tuhan menghukum dengan menyerahkan mereka kepada bangsa-bangsa lain. Kerajaan Israel menjadi hancur dan semua penduduknya diangkut keluar dari Israel dan menjadi tawanan di Babel.  Umat Israel harus menyandang status sebagai orang-orang buangan.

Memang betul apa yang dikatakan kafir Kristen pemuja Yesus, orang tua itu akan memberikan warisannya kepada anak-anaknya, bukan kepada pembantunya. Tapi anak-anak yang memperoleh warisan dari orang tua itu anak-anak seperti apa? Anak-anak yang selalu menuruti semua perintah orang tuanya tidak perlu di tanya lagi, mereka pasti memperoleh warisan. Tapi kalau anak-anak yang selalu membangkang dan bersikap kurang ajar kepada orang tuanya, anak-anak yang seperti ini bukan hanya tidak akan memperoleh warisan, tapi nama mereka juga dapat di hapus dari silsilah keluarga. Itu untuk anaknya sendiri lho...bagaimana kalau ada orang lain yang mengaku-ngaku anak kemudian minta warisan, apa enggak gedek tuh orang yang punya harta warisan? Seperti itulah keadaan kafir Kristen. Bukan berasal dari bangsa Israel dan tidak melakukan perintah-perintah Allah, tapi merasa jadi “anak-anak Allah” dan merasa mendapat warisan surga, kira-kira apa enggak gedek tuh Tuhan melihat tingkah kafir Kristen pemuja Yesus?!      

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Warisan Sorga: Untuk "Hamba Allah" (Islam) Atau "Anak Allah" (Kristen)?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.