Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Isa Al-Masih, Bukan Muhammad, Hakim Dan Pembela Di Pengadilan Akhir

Allah telah memberikan perintah-Nya kepada Nabi Musa sebagai aturan, norma dan etika yang harus diikuti manusia. Empat perintah pertama adalah relasi dengan Tuhan. Dan enam perintah berikutnya adalah relasi dengan manusia (Taurat, Keluaran 20:1-17). Dua contoh konkret dari perintah itu adalah jangan membunuh dan jangan mengingini istri sesamamu. Musa pernah membunuh sebelum dia diangkat menjadi nabi (Taurat, Keluaran 2:12). Daud membunuh dan berzinah dengan istri Uria. Tetapi Daud menyesali perbuatannya dan bertobat (2 Samuel 12:1-25). Para nabi di atas telah berdosa, tetapi mereka bertobat. Nah, muncul keinginan untuk mengetahui tentang kehidupan Muhammad dan semua tindakannya.

Muhammad Sang Nabi

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Muhammad dipandang sebagai nabi umat Islam. Perhatikanlah tindakannya di ayat berikut. “Dan ketika kamu berkata kepada orang . . . . "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah"...Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. . . . ” (Qs. 33:37). Tentu ini menjadi pertanyaan kita bersama. Siapa pun pasti tidak rela memberikan istrinya kepada orang lain, apalagi memberikan kepada orang tua angkatnya, bukan? Bila Allah memandang bersalah perbuatan Nabi Daud, tidakkah Allah memandang bersalah tindakan Muhammad yang mengambil istri Zaid? Adakah Muhammad menyesali perbuatannya dan bertobat seperti Nabi Daud? Tidak ada sumber tertulis yang menyebutkan hal tersebut. Karena itu, bila kita tidak mengakui kesalahan dan bertobat, maka kita akan berhadapan dengan Hakim yang adil.

Jawaban Saya: Dengan maksud menyesatkan umat Islam, kafir Kristen pemuja Yesus mengutip sebuah ayat dengan sepotong-sepotong. Agar jelas duduk masalahnya saya kutip ayat yang mereka permasalahkan;

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. (Al Ahzab: 37)

Ayat di atas berhubungan dengan Zaid bin Haritsah yang berkeinginan untuk menceraikan istrinya setelah menjalani satu tahun pernikahan. Zaid bin Haritsah adalah mantan budak yang dibebaskan oleh Rasulullah saw kemudian di angkat sebagai anak. Rasulullah saw menikahkan Zaid bin Haritsah dengan putri bibinya yang bernama Zainab bin Jahsy al-Asadiyyah. Zaid dan Zainab hidup berumah tangga kurang lebih satu tahun. Kemudian terjadi sesuatu di antara keduanya. Maka Zaid mengeluhkan hal tersebut kepada Rasulullah saw, maka beliau berkata kepada Zaid: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”. Nabi Muhammad saw memperoleh kabar dari Allah swt bahwa Dia akan menikahkannya dengan Zainab setelah bercerai dengan Zaid. Memperoleh kabar dari Allah swt seperti ini, Rasulullah saw menyembunyikannya dalam hati karena takut akan di cemooh oleh orang-orang, sebab tabu dalam tradisi Arab zaman itu menikahi janda anak angkat sendiri.

Dari penjelasan di atas, sangat terlihat Nabi Muhammad saw tidak mempunyai keinginan sedikit pun untuk mengambil istri anak angkatnya sendiri. Ketika Zaid mengeluhkan pernikahannya dengan Zainab, Rasulullah saw justru menghimbau Zaid untuk tetap mempertahankan pernikahannya dengan Zainab. Sikap Nabi Muhammad saw tersebut tidak mungkin muncul jika Nabi saw memang mempunyai keinginan untuk mengambil istri anak angkatnya. Nabi Muhammad saw tidak ingin Zaid dan Zainab bercerai, tetapi Allah swt  memiliki kehendak-Nya sendiri. Nabi Muhammad saw tidak dapat dikatakan mengambil istri orang lain karena Zainab saat dinikahi Rasulullah saw telah berstatus janda. Perceraian yang terjadi antara Zaid dan Zainab pun terjadi karena ketidakcocokan keduanya, bukan karena rekayasa Nabi Muhammad saw. Sama sekali tidak dapat disama-samakan dengan kisah Daud dalam Bible.

Dalam Bible, Daud yang diceritakan ngiler karena melihat perempuan istri orang lain mandi, mengutus seseorang untuk mengambil perempuan tersebut. Perempuan itu datang dan tidur dengan Daud. Setelah diketahui perempuan tersebut hamil, Daud bingung kalang kabut. Kemudian Daud memerintahkan suami dari perempuan yang dihamilinya tersebut untuk pergi berperang dengan kondisi mabuk dengan maksud agar dia mati di medan perang. Setelah suami dari perempuan yang dihamilinya tersebut mati, perempuan tersebut telah menjadi milik Daud seutuhnya. Perbuatan cabul Daud yang demikian tentu saja tidak dapat di sama-samakan dengan pernikahan Rasulullah saw dengan Zainab. Rasulullah menikahi Zainab ketika Zainab telah resmi bercerai dengan Zaid, sedangkan Daud menzinai perempuan yang masih berstatus istri orang sampai bunting. Zaid dan Zainab berpisah karena ketidakcocokan, bukan karena rekayasa Nabi Muhammad. Berbeda dengan Daud yang mencoba membunuh suami dari perempuan yang dihamilinya tersebut agar istri orang tersebut menjadi miliki Daud seutuhnya dan usaha Daud tersebut berhasil.

Jadi, tuduhan kafir Kristen pemuja Yesus yang menyatakan Nabi Muhammad saw mengambil istri orang lain adalah tuduhan keji yang sama sekali tidak berdasar. Tuduhan ini muncul karena kekafiran dan kedengkian mereka terhadap Nabi Muhammad saw. Semoga Allah swt menghukum mereka dengan azab yang pedih.           

Pengakuan Muhammad bahwa Isa Al-Masih-lah Hakim

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Kitab Suci Injil menulis, “Aku [Isa Al-Masih] datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barang siapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barang siapa yang dapat melihat, menjadi buta” (Injil, Rasul Besar Yohanes 9:39). Bila saat itu tiba, Al-Masih akan datang sebagai hakim untuk melaksanakan tugas-Nya. Yaitu mengadili setiap manusia. Nabi Islam berkata, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya telah dekat masanya 'Isa anak Maryam akan turun di tengah-tengah kamu. Dia akan menjadi Hakim yang adil..." (Hadits Shahih Muslim 127). Pembela Dinyatakan Di awal kita bertanya, siapakah pembelanya? Dalam satu kesempatan Isa Al-Masih bersabda, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6). Setiap orang yang hendak diselamatkan harus percaya kepada Isa Al-Masih. Oleh karena itu, Isa Al-Masihlah "yang akan menjadi Pembela bagi kita" (Injil, Surat Roma 8:34). Demikian Isa Al-Masih adalah hakim dan pembela kita. Pertanyaannya, maukah kita dibela Isa Al-Masih?

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus mengutip ayat dari Injil Yohanes; Kata Yesus: "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barang siapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barang siapa yang dapat melihat, menjadi buta." (Yohanes 9:39). Sekarang bagaimana dengan ayat ini; Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yohanes 3:17). Yohanes 9:39 menyatakan Yesus datang untuk menghakimi dunia, sementara Yohanes 3:17 menyatakan Yesus datang bukan untuk menghakimi dunia. Kedua ayat tersebut mana yang benar, Yesus menghakimi dunia atau tidak menghakimi dunia? Tidak mungkin benar kedua-duanya, jadi tolong di jawab terlebih dahulu pertentangan kedua ayat tersebut.  

Dalam hadits memang ada keterangan Isa Al-Masih akan menjadi hakim yang adil, tetapi itu bukan satu-satunya tugas Isa Al-Masih setelah turun ke dunia. Selain menjadi hakim yang adil, Isa Al-Masih juga akan menghancurkan salib, mengharamkan babi dan menghapuskan jizyah. Perhatikan hadits shahih di bawah ini:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak akan terjadi qiyamat hingga Isa bin Maryam turun sebagai hakim yang adil yang dia menghancurkan salib, membunuh babi, membebaskan jizyah dan harta melimpa ruah sampai tidak ada seorang pun yang mau menerimanya". (Shahih Bukhari: 2296).   

Hadits shahih menyebutkan Isa Al-Masih akan menjadi hakim yang adil, itu benar, tetapi yang dimaksud menjadi hakim yang adil di sini adalah menjadi pemutus perkara umat Islam yang hidup di dunia, bukan menghakimi manusia setelah kiamat kemudian menentukannya masuk surga atau masuk neraka seperti tertulis dalam Bible Perjanjian Baru.

Pembela Dinyatakan

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Di awal kita bertanya, siapakah pembelanya? Dalam satu kesempatan Isa Al-Masih bersabda, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6).

Jawaban Saya: Yesus dipercaya oleh kafir Kristen tidak mungkin melakukan perbuatan dosa atau berdosa. Doktrin ini diterima dan dipercayai kebenarannya oleh orang Kristen dengan sepenuh hati. Tetapi fakta membuktikan bahwa kepercayaan kafir Kristen pemuja Yesus tersebut sangat salah karena Yesus pun ternyata bukan manusia yang bebas dari dosa. Misalnya ketika satu hari Yesus di ajak oleh saudara-saudaranya untuk menghadiri sebuah pesta, Yesus menolak dengan alasan waktunya belum genap. Tetapi setelah saudara-saudaranya pergi ke pesta, Yesus pun pergi ke pesta tersebut dengan diam-diam (Yohanes 7:10). Perbuatan Yesus tersebut tergolong perbuatan dosa karena melanggar hukum Taurat yang melarang berbohong dan berdusta (Imamat 19:11). Yesus juga pernah menyuruh murid-muridnya untuk mengambil keledai betina milik orang lain tanpa izin pemiliknya (Matius 21:2). Perbuatan Yesus tersebut dapat digolongkan sebagai tindak pencurian, karena definisi mencuri itu adalah mengambil properti milik orang lain tanpa izin pemiliknya. Mencuri termasuk perbuatan dosa karena hukum Taurat melarang perbuatan tersebut (Keluaran 20:15, 17). Nah, kalau Yesus sendiri berdosa, bagaimana dia mau jadi hakim dan pembela?


Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Penjelasan saya: Yesus adalah nabi pengganti alamiah Yohanes Pembaptis, saat Yohanes Pembaptis masih hidup, Yesus mengakui Beliau sebagai juru selamat, ini dapat di lihat dari bagaimana Yesus mendatangi Yohanes Pembaptis untuk di baptis (Matius 3:13). Tetapi pada saat Yohanes Pembaptis telah wafat dan tidak ada utusan selain dirinya, maka sebagai pengganti Yohanes Pembaptis, Yesus menegaskan dengan ucapannya: ”... Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”, ini Yesus ucapkan lantaran memang tidak ada lagi utusan (Nabi) selain dirinya pada saat itu, sampai kapan? Sampai utusan berikutnya, Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam. Lebih jelasnya, silakan baca  Benarkah Yesus Satu-Satunya Jalan Kebenaran?

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Isa Al-Masih, Bukan Muhammad, Hakim Dan Pembela Di Pengadilan Akhir"

  1. Isa datang yg pertama kali adalah sebagai penolong umat manusia agar paham dengan kasih Allah. Dan Isa Al Masih di angkat Allah ke surga.....dan akan datang di hari akhir utk menghakimi......jadi tidak ada ayat yg bertentangan....paham kronologisnya?....harus urut dalam menjelaskan....tidak dibolak balik kerangka waktunya....

    ReplyDelete

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.