Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Kelemahan-kelemahan Konsep Tauhid

Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa Konsep Tauhid dalam Islam menggambarkan Allah yang jauh dari sempurna. Menurut mereka, Allah SWT hanya dapat dilihat sempurna jika diteropong di dalam konsep bahwa Allah itu Maha Esa yang beroknum tiga. Kafir Kristen pemuja Yesus menyatakan bahwa dalam konsep Tauhid Islam, Allah SWT sendiri dalam kekekalan. Sedangkan dalam konsep Tri Tunggal, Tuhan Kristen yang memiliki tiga pribadi yang selalu ada dan di dalam kekekalan ketiga pribadi itu saling mengasihi satu sama lain. Allah tidak sendirian dalam kekekalan. Ada lingkaran kasih dalam Tri Tunggal. Dalam Tri Tunggal ada interaksi kekal antara tiga pribadi ini. Allah tidak sendirian dan tidak akan mengalami kebosanan seperti Allah SWT dalam konsep Tauhid dalam Islam.

Kafir Kristen pemuja Yesus juga menyatakan bahwa sifat kasih sejati hanya dapat dinyatakan jika ada pribadi lain untuk dikasihi karena kasih berarti memberi. Maka menurut nalar, jikalau tidak ada seseorang untuk dikasihi maka kasih tidak dapat dinyatakan. Jika Allah dalam kekekalan sendirian, siapakah yang dikasihi-Nya? Tidak ada! Dengan demikian dari kekekalan, yaitu dalam diri pribadi Allah, sifat kasih tidak mungkin ada. Jika Allah SWT perlu menciptakan malaikat atau manusia supaya Dia dapat menyatakan sifat kasih itu, berarti sifat kasih Allah bergantung pada ciptaan-Nya. Dengan demikian Allah SWT tidak sempurna di dalam diri-Nya. Artinya, sebelum ciptaan-Nya ada, sifat kasih-Nya tidak ada. Dalam konsep Allah Tri Tunggal, dapat dimengerti bahwa Allah yang kekal memiliki sifat kasih yang sama kekalnya. Jadi Allah tidak bergantung pada ciptaan-Nya untuk memungkinkan adanya sifat kasih-Nya. Dalam Allah Tri Tunggal, Roh Allah mengasihi Allah Bapa dan Kalimat Allah. Kalimat Allah mengasihi Roh Allah dan Allah Bapa. Allah Bapa mengasihi Roh Allah dan Kalimat Allah. Sehingga Allah Maha Esa yang beroknum tiga selalu berada dalam lingkaran kasih yang kekal adanya.


Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus menganggap Allah SWT dalam konsep Tauhid jauh dari sempurna. Mereka menganggap Allah SWT dalam konsep Tauhid kekal dalam kesendirian, sehingga dapat mengalami kebosanan. Allah SWT mereka nilai sebagaimana mereka melihat manusia, yang kesepian jika sendirian, butuh kasih-kasihan dan sayang-sayangan. Mereka menganggap Allah SWT juga butuh teman bicara, teman ngobrol atau teman curhat seperti ABG labil zaman sekarang. Ini adalah anggapan konyol dan kekanak-kanakan para kafir Kristen pemuja Yesus, sebagai tanda akal mereka tidak pernah tersentuh oleh wahyu Allah SWT. Allah SWT dalam Islam bukan hanya Esa dan Kekal, tetapi juga berbeda dengan makhluk-Nya. Firman Allah SWT yang artinya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Asy Syuura: 11). Tidak berbeda dengan Tuhan dalam Bible Perjanjian Lama. Tuhan yang dikenal oleh bangsa Israel adalah Tuhan Yang Esa (Ulangan 6:4) dan berbeda dengan makhluk-Nya (1Samuel 15:29, Hosea 11:9). Itulah sebabnya, walaupun Allah SWT itu Esa dalam kekekalan, Dia tidak akan pernah mengalami kebosanan walaupun tidak punya temen bicara, temen ngobrol dan temen curhat. Itu semua sifat-sifat manusia, yang hanya manusia yang dapat mengalaminya, bukan Allah SWT.

Bagaimana dengan ucapan kafir Kristen pemuja Yesus yang mengatakan bahwa Allah SWT tidak memiliki sifat kasih karena tidak pernah menyatakan sifat-Nya tersebut? Saya jawab: sifat Allah SWT itu kekal sebagaimana Dzat-Nya, di nyatakan atau tidak di nyatakan.

Sama sekali tidak ada sesuatu yang istimewa dalam tulisan kafir Kristen pemuja Yesus di atas. Apa yang mereka tulis tersebut tidak lebih dari pembenaran dari konsep Tri Tunggal. Berniat menunjukkan kekurangan konsep Tauhid dalam Islam, mereka justru menunjukkan bahwa Tuhan yang mereka puja adalah Tuhan yang punya sekutu, bukan Tuhan Yang Esa. Tulisan kafir Kristen pemuja Yesus di atas, juga menunjukkan pada kita bahwa Tuhan yang mereka puja adalah jauh dari kata sempurna, Tuhan yang lemah, yang bisa bosan karena kesepian, butuh teman ngobrol dan curhat seperti ABG labil. Bagi mereka yang percaya Tuhan memiliki sekutu, marilah kita kabarkan kepada mereka kabar gembira dari Allah SWT:

Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka." (Ibrahim: 30)

Dengan Konsep Tauhid, Orang Islam Terpaksa Harus Menolak Kekekalan Al-Quran

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Dalam abad ke sembilan Imam Hanbal dianiaya oleh orang Islam lain karena ia mengatakan bahwa Al-Quran kekal. Akhirnya pihak Imam Hanbal menang. Pada umumnya orang Islam setuju dengan Iman Hanbal dan juga Imam Shaafi’ee yang berkata, “Al-Quran tidak diciptakan Allah”. “Siapa yang mengatakan Al-Quran diciptakan adalah orang kafir.” (Ash-Shariah) Sering dikutip ayat ini sebagai bukti “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh (batu tulisan abadi)”. (QS Al-Buruj, 85:21-22) Jikalau kita menerima konsep bahwa Al-Quran kekal adanya berarti Al-Quran tidak mempunyai permulaan sama seperti Allah tidak mempunyai permulaan. Jikalau Al-Quran tidak mempunyai permulaan berarti ada dua yang kekal adanya, dan ini berarti Allah mempunyai saingan.

Jawaban Saya: Mungkin yang di maksud dari tulisan kafir Kristen pemuja Yesus di atas adalah perselisihan antara Imam Ahmad bin Hanbal dengan khalifah Al-Ma’mun. Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah seorang Imam dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berpendapat Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk, sedangkan khalifah Al-Ma’mun beraliran mu’tazilah yang berpendapat Al-Qur’an adalah Makhluk. Khalifah Al-Ma’mun memaksa umat Islam untuk mengatakan “Al-Qur’an itu makhluk”, hingga ia menguji para ulama dan membunuh mereka jika tidak menjawab pertanyaan tentang apakah Al-Qur’an itu makhluk. Ketika itu kebanyakan ulama memandang bahwa mereka berada dalam keadaan uzur, sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh rahimahumallah memilih sikap untuk tetap mengucapkan, “Al-Qur’an Kalamullah yang diturunkan dan bukan makhluk. Jadi yang jadi permasalahan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Mu’tazilah adalah masalah Al-Qur’an itu kalamullah (bukan makhluk) atau makhluk, bukan kekal atau tidak kekal. Masalah yang di alami oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan umat Islam pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun, sama sekali tidak ada hubungannya dengan konsep Tauhid dan berlebihan jika kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa dengan konsep Tauhid orang Islam terpaksa harus menolak kekekalan Al-Qur’an.

Konsep Tauhid Menyebabkan Orang Bersembahyang Pada Kuburan Orang Sakti

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Kita perlu bertanya, “Mengapa banyak orang Mukmin di seluruh dunia berziarah ke kuburan orang sakti (tempat keramat)”? Walaupun Islam sudah berada di Indonesia, Pakistan, Afghanistan, Iran, Iraq berabad-abad lamanya, mengapa banyak pengikut Islam berfokus pada sembahyang di depan orang yang mati? Bukankah ini karena ajaran Tauhid meyakinkan umat bahwa Allah terpisah jauh dari manusia. Allah tersendiri, terpisah dari kita. Allah tidak dikenal oleh manusia. Dia tersendiri. Orang Sufi berusaha mengatasi doktrin ini dengan mengatakan “Allah lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya.” (QS 50:16). Tetapi pada umumnya Allah SWT dianggap tersendiri, jauh nun di sana dan terpisah dari manusia. Konsep Allah Tri Tunggal mengatasi masalah ini. Kalimat Allah, yaitu satu oknum dari Allah Maha Esa yang Beroknum Tiga, menjelma menjadi manusia. Ia tinggal di antara kita. Kita tahu siapa Dia, yaitu Isa Al-Masih. Ketika Ia kembali ke sorga, Roh Allah turun dan memenuhi hati setiap orang percaya, “. . . Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ‘Ya Abba, ya Bapa!’” (Injil, Galatia 4:6). Orang yang sudah menerima keselamatan melalui Isa Al-Masih tidak mungkin bersembahyang ke kuburan! Mengapa? Karena Allah sudah berkomunikasi dengan mereka setiap hari melalui Roh Allah yang mendiami hati mereka.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus menyebut banyak orang Islam di seluruh dunia berziarah ke kuburan orang sakti, tapi yang mereka sebut cuma lima negara; Indonesia, Pakistan, Afghanistan, Iran, Iraq. Istilah “orang sakti” itu hanya ada di Indonesia, tidak ada di negara lainnya. Jadi harusnya hanya Muslim Indonesia yang boleh mereka sebut banyak sembahyang di depan kuburan orang sakti, tidak termasuk Muslim yang ada di Pakistan, Afghanistan, Iraq. Sedangkan Iran adalah negara dengan mayoritas penganut Syi’ah dan Syi’ah bukan Islam. Negara Iran tidak masuk hitungan karena bukan Islam. Ya, saya akui. Di Indonesia memang masih banyak “orang Islam” yang sembahyang di depan kuburan orang yang di anggap sakti dengan tujuan untuk mencari berkah, pelaris, kenaikan pangkat dan lain-lain. Tetapi sangat keliru kalau penyimpangan sebagian kecil “orang Islam” di Indonesia tersebut, dikatakan oleh Kafir Kristen pemuja Yesus terjadi karena konsep Tauhid dalam Islam. Mengapa? Karena mustahil seorang Muslim yang benar-benar bertauhid akan sembahyang pada kuburan orang sakti. Keislaman mereka yang sembahyang pada kuburan orang sakti hanya terbatas pada kartu berukuran 85mm x 55mm yang bernama KTP, tetapi aqidah dan amaliah mereka sangat jauh dari Islam. Jadi yang salah di sini adalah manusianya, bukan konsep Tauhid dalam Islam yang salah.


Kesimpulan: Apa yang di tulis oleh kafir Kristen pemuja Yesus di atas hanyalah pembenaran dari konsep Tri Tunggal, sama sekali tidak membuktikan kelemahan konsep Tauhid. Konsep Tri Tunggal tidak pernah di kenal di zaman Yesus. Yesus tidak pernah mengajarkannya dan membicarakannya. Demikian pula dengan para Nabi sebelum Yesus, mereka juga tidak pernah  mengenal konsep Tri Tunggal dan mengajarkannya kepada umatnya dari bangsa Israel. Itu semua dapat terjadi karena Tuhan tidak pernah mewahyukan kepada para Nabi-Nya tentang konsep Tri Tunggal. Jika Tuhan itu Tri Tunggal, maka Tuhan akan menyampaikannya kepada para Nabi-Nya. Konsep Tri Tunggal akan dikenal jauh sebelum Yesus lahir ke dunia, bukan setelah ratusan tahun Yesus lahir baru di kenal konsep Tri Tunggal. Tri Tunggal tidak lebih dari konsep sesat yang menyimpang dari keyakinan para Nabi Tuhan. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kelemahan-kelemahan Konsep Tauhid"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.