Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Adakah Naik Haji Menjamin Keselamatan Sorgawi?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam. Hal ini wajib dilakukan bagi mereka yang mampu. Seseorang yang sudah menunaikan ibadah haji disebut sebagai “Haji/Hajjah”. Bagi seorang Muslim, sebutan “Haji/Hajjah” mempunyai arti tersendiri. Itulah sebabnya tidak sedikit umat Muslim setiap tahunnya berlomba-lomba menunaikan ibadah haji. Mereka sangat menghargai ritual ibadah naik haji.

Jawaban Saya: Sebutan Haji atau Hajjah bagi Muslim atau Muslimah yang sudah melaksanakan ibadah Haji adalah kebiasaan masyarakat kita. Haji merupakan kewajiban sekali seumur hidup yang dibebankan syariat agama Islam kepada seorang Muslim yang mampu dalam mengadakan perjalanan. Niat ibadah Haji harus ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala semata, bukan karena ingin memperoleh gelar Haji atau Hajjah. Jika niat ibadah Haji bukan ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala, maka ibadah Hajinya akan sia-sia dan menjadi orang yang sangat merugi kelak di akhirat.  

Ritual Saat Menunaikan Ibadah Haji

Dalam menunaikan ibadah haji, seseorang diwajibkan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. Selain itu juga mencium batu hitam yang disebut Al-Hajr al-Aswad. Mereka juga diharuskan berlari bolak-balik antara bukit As-Safa dan Al-Marwa. Sebagai ritual, mereka juga harus melemparkan tujuh batu pada tiga tiang (jamarat). Tiap tiang diyakini merupakan Setan.

Jawaban Saya: Semua ritual dalam ibadah Haji bertujuan untuk mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, tidak terkecuali Thawaf, Sa’i dan lempar jumrah. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

Telah menceritakan kepada Kami Musaddad, telah menceritakan kepada Kami Isa bin Yunus, telah menceritakan kepada Kami 'Ubaidullah bin Abu Ziyad dari Al Qasim dari Aisyah, ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya dijadikannya thawaf di Ka'bah, antara Shafa dan Marwah serta melempar jumrah adalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah." (Sunan Abu Daud: 1612)

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami dan Ali bin Khasyram berkata; telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dari 'Ubaidullah bin Abu Ziyad dari Al Qasim bin Muhammad dari 'Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya disyari'atkannya melempar jumrah dan sa'i dari Shafa ke Marwah untuk berdzikir kepada Allah." Abu 'Isa berkata; "Ini merupakan hadits hasan shahih." (Sunan Tirmidzi: 826).

Telah berkata keapada kami Abu Nu'aim dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ubaidillah bin Abi Ziyad berkata; Saya telah mendengar Al-Qasim berkata; Aisyah berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Sesungguhnya thawaf disyareatkan di Ka`bah dan sa`i antara shofa dan marwah serta melempar jumroh untuk menegakkan dzikir kepada Allah." (Musnad Ahmad: 23215).

Sebagian orang memang beranggapan bahwa melempar jumrah sama dengan melempar setan yang sedang diikat di tugu jamroh. Mereka berdalih dengan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma saat menceritakan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

Dari Ibnu Abbas radhiyallallahu’anhuma, beliau menisbatkan pernyataan ini kepada Nabi, “Ketika Ibrahim kekasih Allah melakukan ibadah haji, tiba-tiba Iblis menampakkan diri di hadapan beliau di jumrah’Aqobah. Lalu Ibrahim melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itu pun masuk ke tanah . Iblis itu menampakkan dirinya kembali di jumrah yang kedua. Lalu Ibrahim melempari setan itu kembali dengan tujuh kerikil, hingga iblis itu pun masuk ke tanah. Kemudian Iblis menampakkan dirinya kembali di jumrah ketiga. Lalu Ibrahim pun melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itu masuk ke tanah“.

Ibnu Abbas radhiyallallahu’anhuma  juga berkata, “Kalian merajam setan, bersamaan dengan itu (dengan melempar jumrah) kalian mengikuti agama ayah kalian Ibrahim“.

Dari sisi sanad riwayat di atas tidak ada masalah; status sanadnya shahih. Kisah di atas diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, beliau berdua menshahihkan riwayat ini. Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib (2/17), hadits nomor 1156.

Hanya saja orang-orang keliru dalam memahami perkataan Ibnu Abbas di atas. Menurut mereka makna “merajam” dalam perkataan tersebut adalah melempari setan secara konkrit. Artinya saat melempar jumrah, setan benar-benar sedang terikat di tugu jumrah dan merasa tersiksa dengan batu-batu lemparan yang mengenai tubuhnya.

Padahal bukan demikian yang dimaksudkan oleh Ibnu Abbas dalam perkataan beliau. Merajam setan di sini tidak dimaknai makna konkrit, akantetapi yang benar adalah makna abstrak. Artinya setan merasakan sakit dan terhina bila melihat seorang mukmin mengingat Allah dan taat menjalankan perintah Allah. Dalam pernyataan Ibnu Abbas diungkapkan dengan istilah “merajam setan”. Demikianlah yang dimaksudkan Ibnu Abbas dalam perkataannya tersebut. (muslim.or.id).

Ritual Haji Dan Agama Pra-Islam

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Ritual mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali bukanlah ritual pertama yang dilakukan oleh umat Muslim. Ritual ini sudah dilakukan oleh penyembah berhala di Arab, jauh sebelum Muhammad mendirikan agama Islam. Saat itu, mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali bertujuan untuk menyembah Hubal dan Shams (dewa bulan dan matahari). Sedangkan mencium batu hitam merupakan acuan kepada Hubal. Mereka meyakini, para Dewa dan Dewi mempunyai batu khusus yang akan menggantikan perwujudan diri mereka. Sementara melempar batu, juga merupakan ritual yang berhubungan dengan dewa-dewa palsu. Sedangkan bukit-bukit kecil yang disebut bukit As-Safa dan Al-Marwa, dipercaya merupakan tempat dewa Isaf dan Naila. Sering orang bertanya, mengapa pengikut haji harus berlari bolak-balik di antara bukit itu. Bukankah ini juga dilakukan para penyembah Isaf dan Naila di zaman Jahiliah?

Menurut pakar Islam, Yusuf Ali, “Keseluruhan ziarah penyembah berhala dirohanikan dalam Islam” (Yusuf Ali, catatan kaki no 223, hal. 80, terjemahan Al-Quran dalam Bahasa Inggris).

Jawaban Saya: Memang benar jauh sebelu Islam datang, ritual ibadah Haji seperti Thawaf juga dilakukan oleh para penyembah berhala. Namun ritual ibadah haji tersebut bukan berasal dari penyembah berhala. Ibadah Haji berasal dari agama Ibrahim yang lurus, kemudian secara berlahan muncul banyak penyimpangan-penyimpangan di dalam pelaksanaannya. salah satu bentuk penyimpangan tersebut adalah Thawaf dalam keadaan telanjang. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam datang membawa agama Islam, bukan untuk meneruskan penyimpangan-penyimpangan dalam ibadah Haji. Islam datang untuk memurnikan ibadah Haji dan menghilangkan penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan ibadah Haji. Sedangkan ritual ibadah Haji seperti Thawaf dan lain-lain yang memang bersumber dari agama Ibrahim, tetap dipertahankan.

Tentang Isaf dan Naila. Isaf dan Naila itu nama-nama berhala, bukan nama dewa. Dewa tidak pernah dikenal oleh orang Arab jahiliyah, mereka memuja berhala bukan dewa. Berhala Isaf dan Naila ditempatkan oleh orang Arab jahiliyah di sumur Zamzam dan menyembelih hewan qurban di samping keduanya. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya antara Sa’i di bukit As-Safa dan Al-Marwa dengan berhala Isaf dan Naila. Penjelasan tentang Isaf dan Naila terdapat dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, silakan download jika anda mau.

Terjemahan Al-Qur’an pertama milik Yusuf Ali sebelum di revisi, banyak sekali catatan kaki yang berisi sanjungan-sanjungan dirinya terhadap Hasan dan Husain. Dia juga terlihat sering sekali menghubung-hubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan peristiwa Karbala. Hal tersebut membuktikan bahwa Yusuf Ali adalah seorang Syi’ah dan Syi’ah bukanlah Islam. Maka tidak aneh kalau kemudian dalam terjemahan Al-Qur’an miliknya, dia mengatakan “Keseluruhan ziarah penyembah berhala dirohanikan dalam Islam”. Islam yang di maksud oleh Yusuf Ali di sana adalah Islam versi dirinya, yaitu Syi’ah. Pernyataan Yusuf Ali tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan Haji dalam Islam. Tentang Yusuf Ali, anda dapat memperoleh penjelasannya di sini.

Apakah Naik Haji Dapat Menyelamatkan?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Bila dilihat dari sisi lain, naik haji merupakan ritual ziarah ke makam Muhammad. Pertanyaannya, dapatkah orang yang sudah mati dapat memberikan keselamatan? Jelas ritual menunaikan ibadah haji tidak dapat memberi jaminan keselamatan bagi seseorang. Walaupun tidak sedikit haji/hajjah merasa dirinya sudah layak untuk mendapatkan keselamatan.

Jawaban Saya: Ziarah ke makam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam bukan bagian dari rukun Haji. Ziarah ke makam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dapat kapan saja dilakukan, tidak seperti Haji. Kafir Kristen pemuja Yesus bertanya, dapatkah orang yang sudah mati dapat memberikan keselamatan? Jawaban: keselamatan sepenuhnya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala, bukan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam atau dari Yesus. Tetapi sangat salah kalau kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan menunaikan Ibadah Haji tidak dapat memberi jaminan keselamatan, karena dalam hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: "Umrah demi 'umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga". (Shahih Bukhari: 1650). Yang memberikan balasan surga bagi Muslim yang Hajinya mabrur adalah Allah subhanahu wa ta’ala, bukan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.

Keselamatan Menurut Injil Terpisah dari Ritual

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Seseorang yang merindukan keselamatan hanya perlu memintanya kepada Allah, bukan melalui ritual-ritual. Keselamatan yang diterima umat percaya berdasar pada iman akan Isa Al-Masih. Keselamatan itu merupakan anugerah (pemberian cuma-cuma) dari Allah, bukan upah. Anugerah adalah “. . . kemurahan Allah . . . dan kasih-Nya kepada manusia … bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya . . . .” (Injil, Surat Titus 3:4-5).

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus berkata bahwa keselamatan merupakan anugerah Tuhan, bukan upah. Tetapi itu menurut Paulus bukan menurut Yesus. Menurut Yesus keselamatan juga dapat diperoleh dengan beramal, itulah sebabnya Yesus berpesan kepada murid-muridnya agar mengumpulkan pahala, sebagaimana sabdanya, "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. (Matius 6:19-20). Sebagai orang yang yang mengaku pengikut Yesus (Kristen), mereka harusnya lebih mendengar dan melakukan perkataan Yesus bukan ucapan Paulus. Jika mereka lebih mendengar dan melakukan ucapan Paulus daripada perkataan Yesus, harusnya mereka menyebut diri Paulusen bukan Kristen.

Keselamatan Bukti Kasih Allah

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Isa Al-Masih mengajarkan berita yang sempurna. Ia mati tersalib untuk menggantikan dan membayar hukuman dosa manusia. Allah melakukan ini karena Dia mengasihi manusia. Dia ingin manusia menikmati kekekalan bersama dengan Dia di sorga! “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya [Kalimat-Nya] yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:16).


Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus menganggap Yesus mati tersalib untuk membayar dan menebus dosa mereka. Padahal Yesus yang mereka anggap sebagai korban tebusan dosa, bukanlah korban tebusan yang sempurna. Oleh karena Yesus bukan korban tebusan yang sempurna, maka dosa mereka akan tetap ada dan mereka akan menanggungnya dengan hidup abadi di neraka.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Adakah Naik Haji Menjamin Keselamatan Sorgawi?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.