Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Wajibkah Umat Kristen dan Islam Merayakan Natal?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: kata ”Natal” berasal dari bahasa Latin, artinya ”lahir”. Secara istilah, Natal berarti perayaan hari kelahiran Isa Al-Masih. Baik Injil maupun Al-Quran tidak pernah mencatat tanggal berapa pastinya Isa Al-Masih lahir. Injil juga tidak pernah memerintahkan umat Kristen untuk merayakan Natal. Walaupun demikian, kenyataannya mereka selalu merayakan Natal setiap 25 Desember. Pada setiap 25 Desember ada perayaan hari kelahiran Dewa Matahari di Roma. Tanggal ini juga merupakan penutup festival Saturnalia (17-24 Desember) di mana matahari mulai kembali menampakkan sinarnya dengan kuat pada akhir salju. Perayaan tersebut tidak hanya dirayakan oleh orang-orang kafir saja tetapi juga oleh orang-orang Kristen keturunan yang belum bertobat. Kenyataan ini mendorong para pemimpin gereja kala itu mengalihkan penyembahan Dewa Matahari, menjadi perayaan “Matahari Kebenaran” yaitu Isa Al-Masih. Perayaan “Matahari Kebenaran” ini sekarang dikenal dengan sebutan “Natal.” Sejak tahun 336, secara resmi, perayaan Natal dilakukan setiap tanggal 25 Desember. Ketentuan ini diresmikan oleh Kaisar Konstantin yang kala itu menjadi lambang Raja Kristen. Natal kemudian dirayakan di Anthiokia, Syria pada Tahun 375, Konstantinopel, Turki tahun 380, dan Aleksandria, Mesir (tahun 430). Kemudian menyebar ke tempat-tempat lain termasuk Indonesia.


Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus mengakui bahwa Injil tidak pernah mencatat tanggal berapa pastinya Yesus lahir. Mereka juga tahu kalau Injil tidak pernah memerintahkan untuk merayakan Natal. Lalu dengan alasan apa mereka masih merayakannya?!

Telah di akui juga oleh Kafir Kristen pemuja Yesus bahwa tanggal 25 Desember adalah hari di mana orang-orang Romawi pemuja berhala merayakan hari kelahiran Dewa Matahari. Agar agama Kristen mudah diterima oleh orang-orang Romawi, maka para pemimpin gereja pada waktu itu memperingati hari lahirnya Yesus sama dengan hari lahirnya Dewa Matahari. Sejak tahun 336 secara resmi peringatan kelahiran Yesus dirayakan sama dengan peringatan hari lahirnya Dewa Matahari. Langkah para pemimpin gereja ini di nilai berhasil, karena sejak saat itu orang-orang pagan pemuja matahari “bertobat” menjadi pemuja Yesus. Dengan fakta sejarah yang demikian gamblang, kafir pemuja Yesus masih saja berkilah dengan mengatakan bahwa Natal bukanlah perayaan Dewa Matahari. Mereka mengatakan bahwa Natal adalah usaha untuk mengalihkan orang Roma dari perayaan Dewa Matahari ke arah “Matahari Kebenaran” yaitu Yesus. Padahal mereka tahu kalau tanggal 25 Desember bukanlah tanggal kelahiran Yesus, tetapi tanggal lahirnya Dewa Matahari. Jika tanggal 25 Desember bukan tanggal lahirnya Yesus, lalu peringatan Natal untuk merayakan kelahiran siapa kalau bukan merayakan kelahiran Dewa Matahari, kecuali kalau memang terbukti Yesus lahir di tanggal yang sama.

Sebagian umat Islam memang ikut-ikutan merayakan Natal, tapi itu bukan pandangan mayoritas ulama. Jangankan ikut-ikutan merayakan Natal, mengucap selamat Natal saja haram kok. Kenapa, karena perayaan Natal adalah bagian dari syiar-syiar agama pemuja Yesus. Allah tidak meridhoi adanya kekufuran terhadap hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya di dalam pengucapan selamat kepada mereka adalah tasyabbuh (menyerupai) dengan mereka dan ini diharamkan. Para ulama juga berpendapat wajib menjauhi berbagai perayaan orang-orang kafir, menjauhi dari sikap menyerupai perbuatan-perbuatan mereka, menjauhi berbagai sarana yang digunakan untuk menghadiri perayaan tersebut, tidak menolong seorang muslim di dalam menyerupai perayaan hari raya mereka, tidak mengucapkan selamat atas hari raya mereka serta menjauhi penggunaan berbagai nama dan istilah khusus di dalam ibadah mereka. Oleh karena Natal adalah perayaan lahirnya Dewa Matahari dan haram hukumnya bagi umat Islam menyerupai kekafiran mereka, maka tidak pantas bagi umat Islam untuk merayakan Natal atau merayakan hari lahirnya Dewa Matahari di tanggal 25 Desember.

Kafir Kristen pemuja Yesus mengutip sebuah ayat Al-Qur’an yang artinya, Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." (Maryam: 33). Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa ayat tersebut menyatakan Isa Al-Masih yang telah meninggal telah dibangkitkan hidup kembali. Mereka telah berbohong. Ayat tersebut adalah doa Nabi Isa AS agar dirinya dilimpahkan kesejahteraan pada saat dilahirkan, pada saat meninggal dan pada saat dirinya dibangkitkan kelak setelah kiamat. Bagaimana mungkin Nabi Isa AS dibangkitkan dari mati dua ribu tahun yang lalu, kalau di salib dan mati saja tidak. Firman Allah SWT yang artinya, dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (An Nisaa': 157).


Nabi Isa AS tidak mati dan tidak di salib, tetapi yang dibunuh dan di salib itu adalah orang lain yang diserupakan dengan Nabi Isa AS. Nabi Isa AS diselamatkan oleh Allah SWT dengan mengangkatnya. Kelak di akhir zaman dia akan turun, selain untuk menjadi hakim yang adil, beliau juga akan menghancurkan salib dan menolong umat Islam dari fitnah Dajjal. Menjadikan Yesus sebagai korban tebusan dosa tidak akan dapat menyelamatkan anda, sebab Darah Yesus tidak dapat menyelamatkan karena Yesus bukan korban tebusan yang sempurna. Bertaubatlah kalian wahai para pemuja Yesus, sebelum segalanya terlambat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wajibkah Umat Kristen dan Islam Merayakan Natal?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.