Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Berkenankah Allah Pada Dosa Suci Atau Taqiyyah?

Taqiyyah, secara sederhana, berarti ‘menyembunyikan kebenaran dengan alasan keselamatan’. Dalam Islam, memang ada praktik semacam itu, yaitu rukhshah yang diberikan Nabi s.a.w kepada sahabatnya ‘Ammar bin Yasir r.a. Ketika itu, ‘Ammar r.a sekeluarga disiksa dengan sangat kejam. Mereka sekeluarga dipaksa mengucapkan kata-kata kekufuran. Turunlah Qs. An-Nahl: 106 yang memperbolehkan seorang Muslim menyelamatkan jiwanya dengan berpura-pura kafir. Bunyinya sebagai berikut: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (Qs. An-Nahl: 106) Tentu saja, aturan ini harus dipandang sebagai rukhshah (dispensasi/keringanan), bukan aturan dasar. Jika tak ada yang mengancam, kita tak boleh ucapkan kata-kata kekufuran. Itu aturan dasarnya. Akan tetapi, bagi kalangan Syi’ah, taqiyyah bahkan dijadikan sebagai salah satu doktrin ‘aqidah. Ibnu Babawaih al-Qummi, tokoh Syi’ah mengatakan bahwa taqiyyah itu wajib sebagaimana wajibnya shalat. ‘Kitab hadits’ milik kaum Syi’ah, al-Kafi, menyatakan bahwa 9 dari 10 bagian dalam agama adalah taqiyyah. Bahkan tokoh Syi’ah lainnya mengatakan bahwa meninggalkan taqiyyah adalah dosa yang tak terampuni. Jadi sebelum berbicara lebih banyak masalah taqiyyah, tolong bedakan terlebih dahulu taqiyyah dalam Islam dan taqiyyah dalam agama Syi’ah.


Islam: Allah, Nabi, dan Mukmin Boleh Berdusta?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Orang Muslim mengenal dusta suci atau taqiyyah. Bahkan Allah sendiri pun melakukan dusta taqiyyah tersebut. Tentang hal itu kita dapat membacanya dalam Qs 3:54, “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Bukan hanya Allah saja, tetapi Muhammad juga boleh mendustakan sumpahnya. Sebuah hadistnya mencatat, “Demi Allah, jikalau saya mengucapkan sebuah sumpah dan kelak ternyata saya menemukan sesuatu yang lebih baik dari pada itu, maka saya akan melakukan apa yang lebih baik sambil membatalkan sumpah saya” (H Bukhari No.7,67,427). Bahkan Muhammad berkata: “Taqiyyah akan berlaku hingga hari kebangkitan” (HSB vol.9, book 89).

Demikianlah Al-Quran mengijinkan umat Muslim mendustakan sumpahnya. Sebagaimana Muhammad juga melakukan hal tersebut. Walaupun sumpah itu telah diikat atas nama Allah. Pembatalan ini bukan dengan meminta pengampunan atau pertobatan. Tapi cukup dengan materi. Yaitu memberi makanan atau pakaian untuk sepuluh orang miskin. Bagi orang miskin yang tidak mampu memberi, bisa memilih untuk tiga hari berpuasa (Qs 5:89).

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus berkata bahwa Allah s.w.t melakukan dusta taqiyyah, ayat yang mereka jadikan dalil adalah Ali 'Imran: 54 yang berbunyi, “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” Tuduhan seperti ini sering kali di ulang-ulang, walaupun sudah berkali-kali juga diberikan penjelasan. Kafir Kristen pemuja Yesus memahami ayat tersebut hanya melalui terjemahan bahasa Indonesia. Makar dalam ayat tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi tipu daya. Karena dalam terjemahan bahasa Indonesia terdapat kata tipu, maka mereka menuduh Allah s.w.t berdusta. Kata tipu daya dalam terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia berasal dari kata makar. Sedangkan bohong atau dusta dalam bahasa Arab adalah kadzab. Kata makar sering digunakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan tidak satu pun kata makar dari ayat-ayat tersebut bermakna sebagai dusta atau bohong. Makar adalah rencana buruk tersembunyi yang ditimpakan kepada seseorang yang menjadi objek tanpa diketahuinya. Maka makar Allah adalah rencana buruk tersembunyi yang Allah jalankan terhadap orang-orang kafir yang membuat segala rencana jahat untuk mematahkan kebenaran tanpa mereka sadari.

Selanjutnya, kafir Kristen pemuja Yesus berkata bahwa Nabi Muhammad s.a.w dan umat Islam dibolehkan berdusta dengan asumsi kebolehan membatalkan sumpah dalam ajaran Islam mereka anggap sama dengan kebolehan berdusta atau berbohong. Apa itu bohong? Bohong adalah menyatakan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada atau menyatakan sesuatu berlainan dengan yang sebenarnya. Contoh, misalnya seseorang bertanya kepada anda apakah sudah makan. Anda menjawab belum makan, padahal anda sudah makan, yang anda lakukan itulah yang di maksud dengan bohong atau dusta, yaitu menyatakan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada atau menyatakan sesuatu berlainan dengan yang sebenarnya. Dengan melihat definisi bohong seperti yang sudah saya jelaskan di atas, perbuatan Nabi Muhammad dan umat Islam yang membatalkan sumpah tidak masuk dalam kategori berbuat bohong. Saya sarankan kepada misionaris kafir Kristen pemuja Yesus untuk mengambil kursus bahasa Indonesia, karena kemampuan bahasa Indonesia mereka jeblok di bawah rata-rata anak sekolah dasar.

Semua orang mungkin sepakat kalau berdusta adalah salah satu perbuatan yang sangat tercela. Bukan hanya saja tercela dalam pandangan manusia, tapi juga tercela dalam pandangan Allah subhanahu wata’ala. Banyak sekali dalil-dalil yang menjelaskan tentang larangan atau haramnya berdusta, baik di dalam Al-Qur'an maupun Al-Hadits. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya”. (Al-Israa’: 36)

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Qaaf: 18)

Dalam hadits Shahih, Rasulullah s.a.w mengajarkan agar bersikap jujur, karena kejujuran akan membawa pada kebaikan dan kebaikan akan memperoleh balasan berupa surga. Serta melarang perbuatan dusta, karena kedustaan itu akan membawa  pada kejahatan dan kejahatan akan memperoleh balasan berupa neraka.

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Abu Wa`il dari Abdullah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta." (Shahih Bukhari: 5629)

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan 'Utsman bin Abu Syaibah serta Ishaq bin Ibrahim. Ishaq berkata; Telah mengabarkan kepada kami Sedangkan yang lainnya berkata; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Abu Wail dari 'Abdullah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya kejujuran itu akan membimbing pada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu akan mengantarkan pada kejahatan. Dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Seseorang yang memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta." (Shahih Muslim: 4719)

Walaupun Islam mengajarkan untuk bersikap jujur dan menjauhi dusta, ada beberapa macam dusta yang tidak di anggap dosa. Yaitu kebohongan seseorang yang dimaksudkan untuk mendamaikan manusia lainnya, kebohongan dalam peperangan, dan kebohongan suami terhadap istri atau sebaliknya untuk kebaikan hidup dalam rumah tangga.

Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi' bin Sulaiman Al Jizi berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad dari nafi' -maksudnya Nafi' bin Yazid- dari Ibnul Hadi bahwa Abdul Wahhab bin Abu Bakr menceritakan kepadanya, dari Ibnu Syihab dari Humaid bin 'Abdurrahman dari ibunya Ummu Kultsum binti Uqbah ia berkata, "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi keringanan untuk berbohong kecuali pada tiga tempat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan: "Aku tidak menganggapnya sebagai seorang pembohong; seorang laki-laki yang memperbaiki hubungan antara manusia. Ia mengatakan suatu perkataan (bohong), namun ia tidak bermaksud dengan perkataan itu kecuali untuk mendamaikan. Seorang laki-laki yang berbohong dalam peperangan. Dan seorang laki-laki yang berbohong kepada isteri atau isteri yang berbohong kepada suami (untuk kebaikan)." (Sunan Abu Daud: 4275)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdii telah menceritakan kepada kami Daud bin Abdurrahman dari Ibnu Hutsaim dari Syahr bin Hausyab dari Asma' binti Yazid bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah, kemudian beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, apa yang mendorong kalian ikut-ikutan berdusta sebagaimana anai-anai berebut ke api, setiap perbuatan dusta akan dicatat atas anak adam kecuali tiga hal; seorang suami yang berbohong kepada isterinya supaya isterinya ridla, atau seseorang yang berdusta dalam rangka strategi perang dan seseorang yang berbohong di antara kedua belah pihak dari kaum muslimin untuk mendamaikan keduanya." (Musnad Ahmad: 26289)

Dusta dan Kebohongan Dalam Kristen

Bibel Perjanjian Lama atau Taurat menganjurkan bangsa Israel untuk menjauhkan diri dari perkara dusta (Keluaran 23:7) dan melarang mereka untuk berbohong (Imamat 19:11), seseorang yang melanggarnya harus menyediakan korban penebus salah. Tetapi bagi kafir Kristen pemuja Yesus hukum tersebut sudah tidak harus dipatuhi, karena bagi mereka hukum Taurat sudah digenapi dan dibatalkan dengan mati dan bangkitnya Yesus dari kubur. Oleh sebab itu, janganlah heran jika anda menemukan banyaknya kasus penipuan yang dilakukan oleh kafir Kristen pemuja Yesus, khususnya dalam usaha mereka untuk sebanyak mungkin menyesatkan manusia. Di antaranya mereka membuat pengakuan atau kesaksian-kesaksian palsu seseorang yang mengaku Habib, Kiai, Ustad atau dukun yang dikatakan murtad dan bertaubat setelah berjumpa dengan Yesus dalam mimpi. Mereka juga kerap membayar seseorang untuk berpura-pura sakit untuk kemudian pura-pura disembuhkan oleh pastor dalam sebuah acara kebaktian. Itu semua mereka lakukan -selain karena alasan hukum Taurat sudah dibatalkan- juga karena Paulus telah menyatakan, “Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (Roma 3:7).

Bukan hanya kafir Kristen pemuja Yesus saja yang sering berbohong atau berdusta, Tuhan dalam Bible Perjanjian Lama juga berbohong. Ketika Dia berkata kepada Adam agar jangan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat sebab di hari ketika Adam memakannya pasti akan mati. Adam yang tidak mendengarkan larangan Tuhan dan tetap memakan buah tersebut tidak mati di hari ketika ia memakan buah itu sebagaimana dikatakan oleh Tuhan. Adam mati setelah berumur sembilan ratus tiga puluh tahun (Kejadian 5:5). Untuk menutupi kebohongan Tuhan ini gereja kemudian menafsirkan kata “mati” dengan mati rohani, yaitu terputusnya hubungan manusia dengan Tuhan, bukan mati secara fisik. Itu adalah cara akal-akalan gereja untuk menutupi kebohongan Tuhan mereka. Bahkan Yesus yang di sebut-sebut tidak memiliki natur dosa sebagaimana manusia lainnya, ternyata juga pernah berbohong. Ketika Yesus di ajak oleh saudara-saudaranya untuk datang ke sebuah pesta, Yesus menolak ajakan tersebut dengan alasan waktunya belum genap. Namun ketika saudara-saudaranya sudah pergi ke pesta, dengan diam-diam Yesus pergi juga ke pesta tersebut, padahal sebelumnya Yesus menolak dengan alasan waktunya belum genap (Yohanes 7:8-10).

Terakhir, kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Isa adalah satu-satunya kebenaran dan musuh dari kebohongan. Baik Al-Quran maupun Alkitab tidak pernah menuliskan bahwa Isa pernah berdusta. Sebaliknya, Al-Quran berkata Isa Al-Masih adalah satu-satunya Pribadi yang pernah lahir ke dunia hingga kematian-Nya dalam keadaan suci (Qs 19:19). 


Jawaban saya: Al-Qur’an memang tidak pernah mengatakan Nabi Isa a.s pernah berdusta, tetapi Bible Perjanjian Baru pernah menyebutkan Yesus pernah berdusta kepada saudara-saudaranya (Yohanes 7:8-10), jadi sangat salah kalau mereka bilang Al-Kitab tidak pernah menyebutkan Yesus pernah berdusta. Sangat aneh juga kalau kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan Yesus satu-satunya kebenaran dan musuh kebohongan, sementara Yesus sendiri pernah menipu saudara-saudaranya. Al-Qur’an memang menyebut Nabi Isa a.s lahir dalam keadaan suci (Maryam: 19), ayat tersebut adalah diturunkan sebagai sanggahan terhadap tuduhan orang-orang Yahudi yang menyebut Mariam hamil karena zina (Maryam: 28). Dan, perlu juga diketahui, bukan hanya Nabi Isa a.s saja yang lahir dengan suci, menurut Islam semua manusia yang lahir ke dunia dalam keadaan suci sebagaimana dalam hadits sahih Rasulullah s.a.w bersabda, “Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi” (Shahih Muslim: 4803). Demikian tanggapan saya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Berkenankah Allah Pada Dosa Suci Atau Taqiyyah?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.