Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Al-Quran, Injil, Dan Ilmu Pengetahuan Membenarkan Kematian Isa Al-Masih?

Ada kebodohan yang tersirat dalam postingan kafir Kristen kali ini. Kafir Kristen pemuja Yesus ingin membuktikan tersalibnya Yesus di kayu salib adalah benar dari sisi ilmu pengetahuan. Mereka menyatakan bahwa secara medis, orang yang terluka hingga meninggal, mengalami beberapa bentuk syok pada sistem peredaran darah. Baru kemudian meninggal. Sebab organ dan jaringan tubuhnya tidak mendapatkan aliran darah yang cukup. Ini menyebabkan efusi perikardial (meningkatnya cairan dalam membran yang melingkupi jantung). Juga efusi pleural (meningkatnya cairan dalam membran yang melingkupi paru-paru). Posisi Yesus ketika disalib adalah tegak lurus. Dan secara alami terjadi efusi dalam tubuh-Nya. Cairan dalam tubuh-Nya semakin bertambah banyak. Dan akan mengalir keluar dari tubuh apabila terjadi tusukan. Ini sebuah pertanda bahwa Yesus sudah mati, sebelum prajurit menusuk lambung-Nya dengan tombak. Jika saat itu Yesus belum mati, air dan darah tidak mungkin keluar bersamaan dari lambung-Nya. Jadi, bukti forensik menunjukkan bahwa Yesus sudah mati sebelum lambung-Nya ditusuk. Hal tersebut mereka katakan bersesuaian dengan Injil Yohanes 19:34. Bukti forensik yang mereka sebut sebagai bukti kematian Yesus di kayu salib itu, sebenarnya hanya membuktikan kebenaran telah terjadinya penyaliban dan sama sekali tidak membuktikan atau tidak dapat dijadikan bukti orang yang di salib adalah Yesus.

Perlu di ingat, Al-Qur’an sama sekali tidak pernah membantah terjadinya sebuah penyaliban yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Yang dibantah oleh Al-Qur’an adalah klaim orang Yahudi yang menyatakan bahwa mereka telah membunuh dan menyalibkan Nabi Isa AS. Jadi, yang dibantah oleh Al-Qur’an adalah orang yang mereka salibkan, bukan peristiwa penyalibannya sendiri. Dengan sangat jelas Al-Qur’an membantah penyaliban Nabi Isa AS melalui firman Allah SWT yang artinya, dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (An Nisaa': 157). Allah SWT menyelamatkan Nabi Isa AS dengan cara rahasia, yaitu dengan cara menyerupakan orang lain menjadi sangat mirip dengan Nabi Isa AS. Orang-orang Yahudi menyangka mereka telah berhasil menangkap Nabi Isa AS, padahal itu adalah orang lain yang Allah SWT serupakan dengan Nabi Isa AS. Orang ini di tangkap, di arak oleh banyak orang untuk di adili. Orang ini pula yang kemudian di siksa, dilucuti bajunya, di salib sampai mati dan di tusuk lambungnya dengan tombak oleh prajurit Romawi.

Kejadian penangkapan, penyiksaan dan penyaliban orang yang diserupakan dengan Nabi Isa AS ini disaksikan oleh banyak orang. Mereka menyangka orang yang mereka lihat di siksa dan di salib sampai mati di kayu salib adalah Nabi Isa AS, padahal itu adalah orang lain yang sengaja diserupakan oleh Allah SWT menjadi sangat mirip dengan Nabi Isa AS. Dari kesaksian banyak orang ini, kejadian tersebut dituliskan dalam banyak tulisan-tulisan. Tulisan-tulisan tersebut kemudian di atas namakan murid-murid Nabi Isa AS sebagai penulisnya. Serta dikatakan bahwa murid-murid Nabi Isa AS tersebut di ilhami Roh Kudus saat menulis tulisan-tulisannya. Tujuannya tidak lebih agar tulisan-tulisan yang kemudian mereka sebut Injil tersebut di percaya sebagai firman Tuhan. Karena di percaya sebagai firman Tuhan, maka semua yang tertulis di dalamnya di anggap mutlak benar. Padahal Injil yang mereka percaya sebagai firman Tuhan itu hanyalah tulisan-tulisan yang tidak diketahui nama penulisnya. Salah satu fakta mendasar yang diakui kebenarannya adalah bahwa teks-teks awal, begitu juga rujukan setiap Injil, ditulis sebagai “cerita rakyat yang menghibur jiwa”.Para penulis teks-teks awal itu tidak memikirkan akurasi sejarah dan doktrin-doktrin Kristen, karena manusia pada masa itu, yakni sebelum tahun 200 M, tidak memikirkan hukum dan belum berobsesi menjadikan karya-karya mereka yang telah beredar dan diterima publik sebagai kitab suci. Pada masa umat Nasrani periode pertama, hukum-hukum dari Perjanjian Lama belum sepenuhnya ditinggalkan. Proses penyusunan kitab-kitab Perjanjian Baru berjalan sangat lambat. Dalam rentang waktu yang lama, manusia tidak berpikir bahwa kitab-kitab ini akan dianggap suci. Seiring perjalanan waktu, pembacaan kitab-kitab ini di hadapan publik semakin sering. Meskipun demikian, tiada seorang pun yang menganggap kitab-kitab ini sama dengan kitab-kitab suci di dalam Perjanjian Lama. Setelah polemik yang panjang antara berbagai sekte Kristiani, ketika masing-masing sekte di desak kebutuhan untuk bersandar pada rujukan yang otoritatif, konsep kesucian kitab-kitab Perjanjian Baru pun muncul. Dan sekitar tahun 200 M, secara perlahan-lahan muncullah upaya untuk menjadikan kitab-kitab itu sebagai kitab suci.

Justru karena kisah penyaliban Yesus dalam Injil di tulis berdasarkan kesaksian-kesaksian saksi mata. Maka kisah penyaliban Yesus yang ada dalam Injil tersebut sudah pasti salah, karena saksi-saksi mata tersebut tidak mengetahui jikalau Yesus telah Allah SWT selamatkan dengan menyerupakan wajahnya dengan orang lain.

Al-Quran Mengakui Kematian Isa Al-Masih?

Kafir Kristen pemuja mengatakan bahwa Al-Qur’an mengakui kematian Nabi Isa AS dengan mengutip sebuah ayat Al-Qur’an yang artinya, (Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." (Ali 'Imran: 55).

izqolallahu ya'Isa Inni mutawaffika warofi'uka, Artinya adalah ”Ketika Allah berkata: “Wahai 'Isa, Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepada-Ku”. Qotadah dan ulama lainnya berkata, “ini merupakan kalimat dalam bentuk muqaddam dan muakhkhar (yaitu bentuk kalimat yang mendahulukan apa yang seharusnya ada di akhir, dan mengakhirkan kalimat yang seharusnya didahulukan). Kedudukan sebenarnya adalah Aku mengangkatmu kepada-Ku dan mewafatkanmu setelah itu. Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud kematian pada ayat tersebut adalah tidur, sebagaimana Al-Qur’an juga menggunakan kata “Tawaffa” dalam ayat Wahualladzi yatawaffakum billayli (Dialah yang memegang/menidurkan kamu di malam hari [Al-An’aam: 60]) dan ayat-ayat lainnya. Jadi, kata “Tawaffa” dalam Al-Qur’an tidak selalu bermakna mati dalam arti sesungguhnya, namun juga berarti memegang atau menidurkan. Sekali pun kata “Tawaffa” dalam Ali ‘Imran: 55 diartikan mati atau wafat dalam arti yang sesungguhnya, tetap saja kafir Kristen pemuja Yesus tidak dapat menjadikannya sebagai dalil matinya Nabi Isa AS di kayu salib. Itu karena dalam ayat lainnya Allah SWT telah menyatakan Nabi Isa AS tidak mati di bunuh dan tidak disalibkan (An Nisaa': 157). Makna dari mati atau wafatnya Nabi Isa AS, jika kata “Tawaffa” dalam Ali ‘Imran: 55 diartikan mati atau wafat dalam arti yang sesungguhnya, adalah kematian atau kewafatan Nabi Isa AS secara wajar, yang terjadi setelah Nabi Isa AS diselamatkan oleh Allah SWT dari upaya pembunuhan dan penyaliban orang-orang Yahudi atau kematian atau kewafatan Nabi Isa AS setelah kedatangannya kelak di akhir zaman.  

Kesimpulan


Dari pembahasan yang dapat anda baca di atas, dapat saya simpulkan bahwa bukti forensik dan Al-Qur’an tidak membuktikan sama sekali yang di bunuh dan di salib adalah Nabi Isa AS. Bukti forensik yang di sebut oleh kafir Kristen pemuja Yesus telah membuktikan Nabi Isa AS telah wafat di salib adalah tidak benar, karena itu hanya membuktikan telah terjadinya pembunuhan dan penyaliban, bukan membuktikan siapa yang di bunuh dan disalibkan. Sementara ayat Al-Qur’an (Ali 'Imran: 55) yang mereka sebut telah membuktikan wafatnya Nabi Isa AS juga tidak benar. Mereka hanya menafsirkan ayat Al-Qur’an melalui terjemahannya saja, sehingga membuat cacat kesimpulan mereka. Bukti di bunuh dan disalibkannya Yesus hanya terdapat dalam Injil Perjanjian Baru. Saya sudah menjelaskan hakikat Injil Perjanjian Baru, bisa anda baca kembali penjelasan saya di atas. Dengan kondisi Injil Perjanjian Baru yang demikian buruk, tidak mungkin kita menjadikan Injil Perjanjian Baru sebagai sumber. Apalagi Injil Perjanjian Baru muncul belakangan sehingga Yesus tidak memverifikasi kebenaran isinya. Bukti forensik dan Al-Qur’an tidak membuktikan terbunuh dan disalibkannya Nabi Isa AS, sementara itu Injil Perjanjian Baru tidak dapat di percaya Isinya. Maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menggantungkan keselamatan dirinya pada tebusan dosa ala Kristen.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Al-Quran, Injil, Dan Ilmu Pengetahuan Membenarkan Kematian Isa Al-Masih?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.