Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Puasa: Tiga Kunci Berhasil Menurut Isa Al-Masih

Pada bulan Ramadhan tahun ini kafir Kristen pemuja Yesus kembali menyinggung puasa yang dilakukan umat Islam. Tidak kurang dari tiga artikel tentang puasa yang sudah mereka tulis, salah satunya akan saya berikan tanggapan di posting kali ini. Sama seperti sebagian besar tulisan-tulisan mereka sebelumnya, saya tidak melihat sesuatu yang istimewa dari tulisan mereka kali ini. Sebagian besar hanya bermodal copas terjemahan ayat Al-Qur’an kemudian menafsirkannya seenak udelnya (pusarnya) sendiri. Itu pun masih di tambah dengan segala kebohongan yang mereka harap dapat menipu dan memperdayai umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Usaha mereka akan sia-sia dan pasti sia-sia. Itu karena umat Islam tidak akan bisa di tipu dengan model kebohongan seperti itu. Yang tertipu dan teperdaya dengan model kebohongan seperti itu justru dari kalangan mereka sendiri yang masih buta dan bodoh tentang Islam. Maka dari itu, ada baiknya kaum awam dari kafir pemuja Yesus untuk membaca sampai selesai tulisan saya di sini. Jadikanlah tulisan saya ini sebagai pembanding informasi yang anda peroleh dari situs Kristen. Jangan lagi mau di bodoh-bodohi. Anda yang selama ini sudah berhasil di bodohi dengan berbagai doktrin Kristen oleh gereja, jangan mau lagi di bodohi dengan informasi yang salah tentang Islam oleh saudara anda sendiri yang sebenarnya sama awamnya dengan anda, yang berani menggurui umat Islam seolah-olah mereka lebih paham tentang Islam dari pada umat Islam sendiri. Selamat membaca dan saya tunggu komentarnya.  

Kafir pemuja Yesus mengatakan bahwa menurut mereka di antara tujuan puasa adalah untuk menolong menambah kontrol pada diri sendiri. Mereka menyatakan tujuan seperti itu tidak terjadi pada bulan Ramadhan. Umat Islam menurut mereka justru tidak sanggup menambah kontol diri pada saat menjalankan ibadah puasa. Sumber yang mereka gunakan berasal dari website barat yang menyatakan di Algeria pada bulan Ramadhan kekerasan dalam rumah tangga meningkat 120%, kenaikan kecelakaan 410%. Juga perkelahian dan pertengkaran naik 320%. Sumber yang digunakan kafir Kristen pemuja Yesus tersebut belum dapat dibuktikan validitasnya. Peningkatan tindak kejahatan yang terjadi di Algeria selama bulan Ramadhan -jika itu valid- juga tidak dapat mereka jadikan alasan untuk dapat berkesimpulan semua Muslim tidak dapat berpuasa dengan baik. Umat Islam bukan cuma ada di Algeria, tentu tidak adil menghukum semua umat Islam yang ada di dunia dengan perilaku menyimpang sebagian kecil umat Islam yang ada di sebuah negara. Saya sebagai seorang Muslim yang setiap tahunnya harus berpuasa Ramadhan, merasa tidak pernah melihat peningkatan kejahatan seperti yang dituduhkan. Kehidupan saya sendiri dan orang-orang di sekitar saya yang mayoritas Muslim berjalan normal seperti bulan-bulan lainnya, tidak ada kekerasan dalam rumah tangga, tidak ada perkelahian dan pertengkaran.

Jikalau pun ada tindak kejahatan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam saat bulan Ramadhan, itu sepenuhnya kesalahan manusianya, bukan kesalahan bulan puasa atau agamanya. Karena ibadah puasa yang di tuntut Islam bukanlah puasa yang hanya menahan rasa lapar dan dahaga saja, melainkan juga harus menghindarkan diri dari segala perbuatan yang sia-sia seperti perkataan kotor dan perbuatan kotor. Menghindari sedapat mungkin berperilaku buruk dan perkelahian, sebagaimana hadits Shahih di bawah ini:

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu; Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Shaum itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali). Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta'ala dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuiluh kebaikan yang serupa". (Shahih Bukhari: 1761)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Puasa itu adalah tameng, jika salah seorang dari kalian berpuasa, hendaklah dia tidak berkata kotor dan tidak berperilaku buruk. Jika seseorang memeranginya atau menghinanya hendaklah dia berkata; 'Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa." (Muwatha' Malik: 602)

Apa akibatnya jika seorang Muslim yang sedang berpuasa tetapi masih juga berperilaku buruk, tidak meninggalkan ucapan keji dan perbuatan keji? Jawabnya adalah Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya. Artinya ibadah puasa yang demikian adalah sia-sia, tidak diterima puasanya, tidak memperoleh pahala justru mendapat dosa.

Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza'bi telah menceritakan kepada kami Sa'id Al Maqbariy dari bapaknya dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan keji dan berbuat keji, Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya". (Shahih Bukhari: 1770)

Kafir Kristen pemuja Yesus berkata: Isa Al-Masih pernah berpuasa 40 hari (Injil, Rasul Lukas 4:1-13). Bagaimana Ia berhasil mengalahkan godaan Iblis? Ketika Isa berpuasa, Iblis menggoda Dia agar membuat batu menjadi roti. Isa menunjukkan kontrol pada diri sendiri dengan menolak tawaran Iblis. Ia mengutip ayat suci Taurat, “Manusia hidup bukan dari roti saja” (Taurat, Kitab Ulangan 8:3). Kiranya Anda membaca ayat-ayat suci dari Zabur dan Injil pada bulan puasa. Kutiplah ayat-ayat tersebut tatkala Iblis menggoda. Anda akan dapat menghindari KDRT dan tindakan-tindakan lain yang tidak suci.

Jawaban saya: Kafir Kristen pemuja Yesus berkata bahwa ketika Yesus berpuasa, ia berhasil mengalahkan godaan Iblis dengan cara mengutip atau membaca ayat Taurat di kitab Ulangan. Kafir Kristen pemuja Yesus kemudian mengajak umat Islam yang sedang berpuasa untuk juga mengutip atau membaca ayat-ayat Taurat, Zabur dan Injil seperti Yesus agar dapat berpuasa dengan baik. Saran kafir Kristen pemuja Yesus agar umat Islam yang berpuasa membaca ayat-ayat Taurat, Zabur dan Injil tidak akan banyak membantu. Itu karena yang dihadapi umat Islam dalam berpuasa adalah godaan syaitan yang ada dalam diri masing-masing, berbeda dengan syaitan yang mencobai Yesus saat berpuasa. Godaan syaitan dari dalam diri tidak akan hilang hanya dengan membaca ayat, apalagi jika ayat-ayat yang di baca berasal dari Taurat dan Zabur yang sekarang ini tak jelas mana yang asli firman Allah dan mana yang karangan manusia belaka, dan Injil yang ada di Kristen sekarang tidak lebih dari pada karya sastra yang anggap sebagai firman Tuhan, tidak akan berguna juga membacanya. Jika dengan membaca ayat-ayat dapat menghilangkan godaan syaitan dalam diri orang yang berpuasa, tentu umat Islam akan membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang terjamin sepenuhnya firman Allah dari pada Taurat, Zabur dan Injil yang tidak jelas itu.

Kafir Kristen pemuja Yesus berkata: Iblis juga menggodai supaya orang yang kuat berpuasa menjadi angkuh. Kadang-kadang mereka memamerkan diri, mencari perhatian, dan pujian karena amalnya. Bagaimana nasihat Isa Al-Masih  tentang masalah tersebut? Orang yang berpuasa tidak boleh kelihatan muram mukanya, mengubah air mukanya, supaya orang tahu mereka berpuasa. Umat Kristen dianjurkan berpuasa, tetapi tidak terang-terangan. Orang lain tidak perlu mengetahuinya. Akibatnya orang Islam jarang tahu kalau orang Kristen berpuasa. Ayat suci Injil berbunyi, “. . . apabila engkau berpuasa . . . . jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa . . .” (Injil, Rasul Besar Matius 6:16-18).

Jawaban saya: Mengenai keikhlasan dalam menjalankan ibadah, kafir Kristen pemuja Yesus tidak perlu sampai repot-repot menggurui umat Islam. Apa yang diucapkan Yesus di atas dimaksudkan untuk mendidik bangsa Israel agar tulus, ikhlas dan tidak ada yang di maksud dalam ibadah selain Tuhan. Tidak ada yang berbeda dengan Islam dalam hal ini. Dalam Islam, ibadah harus karena Allah, bukan karena lain-lainnya, seperti ingin di puji orang (Riya) atau ingin di dengar orang (sum’ah). Orang yang beramal karena Riya dan Sum’ah, maka ibadahnya akan tertolak dan menjadi orang yang merugi kelak di akhirat. Amal ibadah memang tidak boleh ditampakkan atau diperlihatkan kepada orang lain, namun bukan berarti orang lain harus tidak tahu kita beramal atau beribadah. Letak niat orang beribadah itu ada di hati, sedangkan hati hanya Allah dan orang yang bersangkutan yang tahu. Jadi menurut saya, sangat berlebihan apabila berpuasa kita harus meminyaki kepala dan terus menerus mencuci muka. Niat ibadah itu di hati, selama dalam hati tidak ada maksud lain dalam beribadah selain Allah, maka tidak mengapa seribu orang mengetahui kita beribadah. Apalagi jika ibadah itu adalah puasa. Puasa bukanlah ibadah yang dapat diketahui orang dari melihat perubahan fisik, karena yang tidak berpuasa sekali pun, dapat memperlihatkan fisik sebagaimana fisik orang yang berpuasa.

Kafir pemuja Yesus berkata: Al-Quran mencatat, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa . . .” (Qs 2:183). Namun ajaran agama Islam tidak menjamin seorang masuk sorga karena berpuasa. Demikian juga Injil. Suatu waktu Isa menyampaikan perumpamaan kepada para Pakar Agama yang menyombongkan diri karena ia berpuasa dua kali seminggu. Dekat Bait Allah ada seorang Pemungut Cukai yang sangat korup. Dia menyesali kejahatannya. Ayat suci berkata, “. . . pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh dan tidak berani menengadah ke langit. Sambil memukul-mukul dada tanda menyesal ia berkata, 'Ya Allah, kasihanilah aku, orang yang berdosa!'” (Injil, Rasul Lukas 18:9-14 KSI).

Isa berkata bahwa Allah membenarkan Pemungut Cukai (Petugas Pajak), tetapi Pakar Agama tidak. Artinya, walau seseorang berpuasa bahkan melebihi yang diwajibkan, ia tidak mengalami keselamatan. Kitab Allah menekankan, “Oleh anugerahlah kamu telah diselamatkan melalui iman: Itu bukan berasal dari dirimu sendiri, melainkan pemberian Allah(Injil, Surat Efesus 2:8 KSI). Puasa maupun amal apapun tidak menyelamatkan seseorang dari api neraka. Allah menyediakan keselamatan bagi kita lewat penyaliban Kalimat Allah. Ia menanggung hukuman dosa kita di kayu salib. Jadi kita tidak perlu ke neraka.

Jawaban saya: Kafir Kristen pemuja Yesus berkata bahwa ajaran Islam tidak menjamin seorang Muslim masuk surga karena berpuasa. Ini adalah pernyataan mereka yang paling lucu. Jika kafir Kristen pemuja Yesus menganggap puasa tidak menjamin seorang Muslim masuk surga, mengapa mereka sampai harus berbusa-busa menjelaskan kunci puasa yang berhasil menurut Isa Al-Masih pada umat Islam? Bukankah dengan demikian mereka membuat segala penjelasan mereka di awal menjadi sia-sia?

Kafir Kristen pemuja Yesus dalam setiap tulisannya memang selalu menafikan amal sebagai sarana seseorang untuk dapat masuk surga. Tujuannya tidak lain agar setiap orang (terutama Muslim) tidak bergantung pada amal saleh sebagai salah satu upaya dalam mencapai keselamatan, sehingga dengan mudah kafir Kristen pemuja Yesus dapat menjerumuskan seorang Muslim ke neraka dengan mengikuti jejak mereka sebagai pemuja Yesus. Amal saleh tidak menjamin seorang Muslim untuk masuk surga, itu kata para kafir Kristen pemuja Yesus. Sedangkan menurut Al-Qur’an amal saleh (salah satunya puasa) adalah salah satu faktor yang dapat mengantarkan seorang Muslim untuk masuk surga, bahkan Allah telah mengistimewakan orang-orang yang berpuasa dengan pintu surga khusus untuk mereka yang berpuasa bernama Ar-rayyan (Shahih Bukhari: 1763). Jika seseorang dapat masuk neraka karena perbuatan dosa yang dilakukannya, mengapa seorang Muslim tidak dapat masuk surga dengan amal salehnya? Inilah penyimpangan nalar para kafir Kristen pemuja Yesus.  

Dalam Al-Qur’an sangat banyak ditemukan janji Allah yang akan memasukkan seorang Muslim yang beriman dan beramal saleh, kami sangat tahu ini dan tidak akan mungkin bisa mereka tipu dengan mudah. Kami juga sangat tahu Islam adalah agama satu-satunya yang diterima oleh Allah (Ali 'Imran: 19, 85), kami juga tahu para pemuja Yesus adalah orang-orang kafir yang telah Allah jamin pasti masuk neraka (Al Maa'idah: 17, 72, 73 dan Shahih Muslim: 218), kami juga tahu bahwa para pemuja Yesus akan menjadi tebusan kami dari api neraka. Untuk masuk surga kami hanya di tuntut untuk beriman dan beramal saleh. Itu artinya kami benar-benar tidak butuh Yesus sebagai penebus dosa. Sekarang bagaimana lagi cara para kafir pemuja Yesus untuk menyesatkan kami? 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puasa: Tiga Kunci Berhasil Menurut Isa Al-Masih"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.