Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Pilih Mana: Puasa Islami atau "Puasa" Kristen?

Alhamdulillah, Allah mempertemukan kita kembali dengan bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah serta ampunan, bulan di mana diturunkannya Al-Qur’an untuk pertama kalinya dan di bulan ini pula umat Islam diwajibkan untuk berpuasa. Kata puasa dalam bahasa Arab adalah “Shiyam atau shaum”, keduanya merupakan bentuk masdar, yang bermakna menahan. Sedangkan  secara istilah fiqh berarti menahan diri sepanjang hari dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu, menahan dari segala sesuatu yang menyebabkan batalnya puasa bagi orang islam yang berakal, sehat, dan suci dari haid dan nifas bagi seorang muslimah. Puasa di bulan Ramadhan adalah satu dari lima rukun Islam. Karena puasa Ramadhan berhubungan dengan rukun iman dalam Islam, maka tidak heran jika masih saja ada orang-orang kafir Kristen pemuja Yesus, yang berupaya untuk membuat sebagian umat Islam ragu dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan berbagai tulisan-tulisannya. Di antara tulisan-tulisan mereka tersebut, beserta sanggahan saya, dapat anda baca di bawah ini:

1. Berpuasa diwajibkan kepada Muslim seperti yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah: 183, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” Di sini Muhammad memproyeksikan seolah-olah puasa yang sama juga diwajibkan kepada umat-umat Yahudi dan Nasrani! Namun kita tahu bahwa puasa Islamik dan Kristiani justru berbeda seperti bumi terhadap langit! Dengan perkataan lain, Muhammad itu mendapatkan “wahyu” yang tidak akurat!

Ayat dari surah Al-Baqarah: 183 memang sering disalahpahami oleh orang-orang kafir Kristen pemuja Yesus. Kemampuan mereka hanya terbatas copas ayat-ayat Al-Qur’an, namun tidak memiliki kemampuan untuk mengerti maknanya. Allah dalam Al-Baqarah: 183 menyatakan “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” 
Ayat tersebut di atas bukan dimaksudkan bahwa syariat puasa yang diwajibkan kepada umat Islam adalah syariat puasa yang sama dengan umat-umat terdahulu. Bukan, bukan itu maksudnya. Kesamaan yang dimaksud pada ayat di atas adalah kesamaan dalam hal “diwajibkannya berpuasa”. Umat Islam diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan, sementara umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa di bulan tertentu. Umat Islam dengan umat terdahulu sama-sama diwajibkan berpuasa dengan syariat (aturan) puasa yang berbeda. Jika umat Islam diwajibkan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, maka umat Nabi Musa ‘Alaihissalam di wajibkan berpuasa selama satu hari di tanggal sepuluh di bulan ke tujuh, sebagaimana ayat Bibel sendiri menyatakan “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel” (Imamat 16:29)

Jadi, tuduhan orang-orang kafir Kristen pemuja Yesus yang menyebut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alahi wasallam menerima wahyu yang tidak akurat adalah jelas merupakan penyesatan semata.

2. Apa yang disebut puasa dalam Islam SESUNGGUHNYA (pada hakekatnya) bukan puasa sama sekali, melainkan PEMINDAHAN JAM MAKAN! Muslim yang berpuasa menggeser jam makan minumnya dari pagi-petang menjadi petang-subuh! Sedangkan kwalitas dan kwantitas makannya tidak terpengaruh sama sekali. Malahan kalau mau jujur, kwalitas dan kwantitas makan-minum di waktu puasa jauh dipertinggi dan diperpuaskan melebihi waktu-waktu selainnya. Apa yang ditahan, dipuaskan lampias dalam bukaan puasa, termasuk merokok dll. Itu sebabnya Orang Barat/ non-Muslim sering bertanya terheran-heran kenapa dalam masa Ramadhan semua penjualan makanan menjadi naik, termasuk harganya. Bukankah seharusnya turun, karena orang berpuasa berarti mengurangi segala nafsu duniawinya termasuk nafsu makan-minum?

Kwalitas dan kwantitas makan di bulan Ramadhan yang di sebut orang-orang kafir Kristen pemuja Yesus tidak terpengaruh sama sekali. Dapat saya jelaskan bahwa orang-orang kafir Kristen pemuja Yesus hanya melihat dan tidak pernah merasakan bagaimana kita umat Islam menjalankan puasa Ramadhan. Mereka orang-orang kafir Kristen pemuja Yesus tidak pernah berpuasa penuh seperti umat Islam berpuasa. Mereka hanya mengganti menu makanan yang mereka makan, itulah cara mereka berpuasa. Memang kalau di lihat, puasa Ramadhan yang diwajibkan kepada umat Islam seolah cuma menggeser jam makan dari menggeser jam makan minumnya dari pagi-petang menjadi petang-subuh. Tetapi ingat, kita umat Islam berpuasa di siang hari di saat kebanyakan kita beraktivitas di luar rumah. Beraktivitas di siang hari dengan kondisi puasa bukan perkara ringan. Berbeda jika seandainya puasa yang kita lakukan di malam hari, kita bisa tiduran di rumah sampai waktu berbuka di pagi harinya. Kwalitas dan kwantitas makanan saya akui memang meningkat di bulan Ramadhan. Peningkatan kwalitas makanan memang sudah seharusnya dilakukan untuk menunjang kelancaran berpuasa. Peningkatan kuantitas, paling cuma makanan kecil sebagai takjil berbuka puasa. Penjualan makanan yang meningkat di bulan Ramadhan tidak dapat dijadikan bukti bahwa umat Islam mempuas lampiaskan makan di saat berbuka puasa. Menu untuk berbuka boleh saja bertambah, tetapi kemampuan perut orang yang berpuasa justru berkurang. Yang biasanya sanggup makan nasi satu piring penuh, di bulan Ramadhan saat berbuka puasa, baru sedikit makanan masuk ke perut, rasanya sudah kenyang. Itu yang saya rasakan saat berbuka puasa dan itulah gambaran makannya orang-orang beriman, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin itu makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus”. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan ada sebagian umat Islam yang mempuas lampiaskan makan-minum saat berbuka puasa. Hal tersebut bukanlah cara berbuka puasa yang benar dan tidak adil jika kesalahan sebagian kecil umat Islam tersebut juga dibebankan kepada umat Islam keseluruhan.

3. berkemenangan” sehari lepas sehari dalam berpuasa hingga selesainya bulan Ramadhan. Tanpa usah dirinci, setiap usaha dan pengorbanan manusia dalam bentuk apapun (dalam hal ini: ingkar makan-minum) cenderung akan dikaitkan dengan perasaan sukses yang dicapai. Tetapi apakah sukses semacam ini riil atau semu di hadapan Tuhan yang melihat hati dan bukan “upacarawi”? Menang atas apa jikalau hanya memuaskan ego yang merasa sudah berkurban sesaat lalu melampias di saat lainnya?

Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan adalah ketetapan Allah dan syariat agamanya. Allah telah menjanjikan ampunan bagi siapa saja yang berpuasa karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala hanya dari-Nya. Orang yang memperoleh pahala dan ampunan Allah karena puasanya, bukanlah orang yang berpuasa namun tidak menjaga ucapannya dari dusta, dari Perkataan lagwu (sia-sia) dan rofats (kata-kata porno), sebagaimana hadits-hadits di bawah ini:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Jadi, orang yang menang adalah orang-orang yang berpuasa Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala hanya dari-Nya, banyak beramal dengan amalan-amalan saleh, menjaga diri dari berbuat maksiat, menjaga ucapan dari dusta, perkataan sia-sia dan kata-kata porno. Mereka itulah orang-orang yang berkemenangan, orang-orang yang keluar dari bulan Ramadhan dengan ampunan dan rida Tuhannya.

4. Perasaan “ingin dihormati” karena bertindak mulia dan berkurban ketika puasa. Itu sebabnya mereka bangga menampilkan dirinya sebagai orang yang berpuasa, malahan pura-pura bertanya kepada setiap temannya “Puasa, kan?” yang harus diartikan: ”Saya berpuasa, lho?”. Maka kedai-kedai makan dan resto “dihimbau” (malah ada yang diwajibkan) untuk ditutup atau setidaknya setengah tertutup. Dalil yang dipakai adalah “orang yang tak berpuasa harus sensitive dan menghormati”yang berpuasa”. Inilah tuntutan halus yang salah fatal yang tidak disadari betul oleh Muslim. Sebab kedai dan resto yang terbuka sebagaimana biasanya itu sama sekali tidak berbuat salah apapun terhadap siapa pun, ketika mana mereka hanya meneruskan usaha mereka sehari-hari yang toh harus dianggap amanah bagi kehidupan keluarga mereka, sambil melayani orang lain. Lebih jauh lagi, orang yang sukses berpuasa tidaklah bisa dikatakan sukses bilamana semua makanan dan minuman diprakondisikan jauh dari matanya sehari-hari sehingga tidak available dan tidak accessible baginya.

Puasa Ramadhan diwajibkan kepada umat Islam. Meninggalkan puasa Ramadhan tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syariat agama adalah dosa besar, maksiat kepada Allah. Orang yang menjual makanan dan minuman di siang hari pada bulan Ramadhan, sejatinya membantu atau menolong orang yang memiliki kewajiban berpuasa Ramadhan untuk bermaksiat dengan makan atau minum di bulan Ramadhan. Tolong menolong dalam perbuatan dosa adalah haram hukumnya. Firman Allah: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al Maa'idah: 2). Jika seorang mukmin dapat memperoleh pahala puasa karena memberi makan orang yang sedang berbuka puasa, maka ikut berdosa pula orang yang memberi makan dan minum seorang Muslim di siang hari. Jadi, alasan pelarangan membuka kedai-kedai makanan bukanlah karena ingin dihormati atau alasan-alasan lainnya, melainkan untuk mencegah kemungkaran.

Inti Puasa Kristiani

5.  “Semua Muslim tahu berpuasa cara Islam, tetapi mereka praktis tidak tahu apa itu “Puasa Injili” yang diperintahkan oleh Isa Al-Masih. Cara yang paling kontras untuk memperlihatkan perbedaan keduanya adalah dengan merujuk kepada cara puasa Muhammad dibandingkan dengan puasa Isa Al-Masih. Puasa Muhammad di bulan Ramadhan dikatakan sebagai “puasa sebulan penuh”, dan berakhir dengan “kemenangan” melawan godaan nafsu dan setan. Itu hanya istilah. Dalam kenyataannya istilah “penuh” itu hanyalah “kosong”, karena setiap hari juga beliau makan-minum dengan menggeser waktu. Dan “kemenangan” yang diperolehnya dari berpuasa tahun ketahun? Ya, itu jelas tampak di medan peperangan dan akibatnya (seperti pembunuhan, pemancungan kepala, pembudakan anak dan wanita) terus dan makin bereskalasi hingga kepada pengusiran dan pemusnahan suku-suku Yahudi. Juga penambahan jumlah istri dari tahun ke tahun khususnya pengambilan paksa istri orang (Safiyya binti Huyayy isteri Kinana), serta akibat dari “kemenangan” ini, beliau diracuni di Khaybar yang berdampak hingga kepada seluruh sisa hidupnya (HS.Bukhari no.1570).”

Kafir Kristen pemuja Yesus menyebut kemenangan puasa Nabi Muhammad di bulan Ramadhan adalah tampak jelas di medan perang dan akibatnya, seperti pembunuhan, pemancungan kepala, pembudakan anak dan wanita, pengusiran dan pemusnahan Yahudi. Juga penambahan jumlah istri dan pengambilan istri Kinanah yang bernama Safiyya.

Yang mereka ucapkan tersebut di atas adalah tuduhan palsu, fitnah keji terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam. Semoga Allah menghukum mereka dengan azab yang pedih, di dunia dan di akhirat kelak.

Tujuan dari berpuasa Ramadhan adalah agar menjadi insan yang bertakwa, seperti yang sudah dijelaskan dalam Al-Baqarah: 183. Sedangkan perang dan segala akibatnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemenangan berpuasa di bulan Ramadhan. Yang namanya berperang, pastilah ada yang membunuh dan terbunuh. Korban dari umat Islam yang terbunuh juga banyak. Jadi medan perang itu bukanlah tempat  dua kelompok orang bertemu kemudian saling berpelukan, medan perang itu tempat membunuh atau dibunuh. Rasulullah dan umatnya memerangi kaum Musyrikin Mekkah dan Yahudi karena mereka menghendaki permusuhan dan perang. Lagi pula, dalam sejarah gereja juga tidak lepas dari yang namanya perang, seperti perang salib. Penjajahan negara-negara Eropa ke banyak negara-negara Asia dan Afrika juga tidak lepas dari peran gereja. Mengenai perbudakan dapat saya katakan bahwa Perbudakan itu sudah ada jauh sebelum Islam ada. Jika saja Yesus MAU dan MAMPU menghapus perbudakan di zamannya, sudah barang tentu ketika Islam datang sudah tidak ada lagi perbudakan. Jadi untuk masalah perbudakan, jangan salahkan Nabi Muhammad atau Islam yang datang belakangan, salahkan saja Yesus, kenapa dia TIDAK MAU dan TIDAK MAMPU menghapus perbudakan?!

Pengusiran dan pemusnahan suku-suku Yahudi terjadi karena mereka melanggar perjanjian dengan berkhianat dan bersekongkol dengan kaum Musyrikin Mekkah untuk membunuh Nabi Muhammad. Mengenai seorang istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa salam yang bernama Safiyya binti Huyay. Safiyya binti Huyay tidak di ambil paksa seperti yang dituduhkan. Saat perang Badar, Safiyya binti Huyay tertawan sedangkan suaminya mati terbunuh dalam perang. Nabi Muhammad menawari Safiyya binti Huyay untuk jadi istri dan Safiyya binti Huyay bersedia, kisahnya bisa di baca di Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. Jadi tidak ada paksaan atau pengambilan paksa istri orang lain dalam kasus Safiyya binti Huyay. Tapi jika ada kaum kafir Kristen pemuja Yesus yang sangat ingin tahu orang yang dengan sangat jelas merebut istri orang lain, silakan baca 2 Samuel 11:2-17. Pada ayat-ayat tersebut terdapat kisah moyong Yesus yang bernama Daud. Dikisahkan Daud mengintip Batsyeba yang sedang mandi dan kemudian “menikmatinya” sampai hamil. Karena takut suami Batsyeba akan tahu istrinya dihamili Daud, Daud mengirim suami  Batsyeba yang bernama Uria ke medan perang dalam keadaan mabuk agar terbunuh. Seperti yang di rencanakan oleh Daud, Uria mati dalam perang dan istrinya yang telah dihamilinya menjadi milik Daud seutuhnya. Nah, itulah yang namanya pengambilan paksa istri orang lain.

Mengenai racun wanita Yahudi di Khaibar sudah sangat sering di jawab. Di Khaibar Rasulullah disuguhi daging kambing guling. Rasulullah sempat menggigit daging tersebut tetapi kemudian memuntahkannya. Sedangkan orang makan bersama Rasulullah begitu menelan daging kambing guling tersebut, langsung tewas di tempat. Sedangkan Rasulullah masih hidup bertahun-tahun kemudian. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam tidak menyinggung racun Khaibar saat menceritakan detik-detik meninggalnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam.

6. "Dan apabila kamu berpuasa (bukan geser jam makan), janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa (minta pengakuan dan penghormatan orang lain). Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi (rendah hati, tidak menuntut) akan membalasnya kepadamu." (Injil, Rasul Matius 6:16-18).

Apa yang diucapkan Yesus di atas dimaksudkan untuk mendidik bangsa Israel agar tulus, ikhlas dan tidak ada yang di maksud dalam ibadah selain Tuhan. Tidak ada yang berbeda dengan Islam dalam hal ini. Dalam Islam, ibadah harus karena Allah, bukan karena lain-lainnya, seperti ingin di puji orang (Riya) atau ingin di dengar orang (sum’ah). Orang yang beramal karena Riya dan Sum’ah, maka ibadahnya akan tertolak dan menjadi orang yang merugi kelak di akhirat. Amal ibadah memang tidak boleh ditampakkan atau diperlihatkan kepada orang lain, namun bukan berarti orang lain harus tidak tahu kita beramal atau beribadah. Letak niat orang beribadah itu ada di hati, sedangkan hati hanya Allah dan orang yang bersangkutan yang tahu. Jadi menurut saya, sangat berlebihan apabila berpuasa kita harus meminyaki kepala dan terus menerus mencuci muka. Niat ibadah itu di hati, selama dalam hati tidak ada maksud lain dalam beribadah selain Allah, maka tidak mengapa seribu orang mengetahui kita beribadah. Apalagi jika ibadah itu adalah puasa. Puasa bukanlah ibadah yang dapat diketahui orang dari melihat perubahan fisik, karena yang tidak berpuasa sekali pun, dapat memperlihatkan fisik sebagaimana fisik orang yang berpuasa.

Pilih mana, puasa Islam atau puasa Kristen?

Dalam artikelnya (baca di sini), kafir pemuja Yesus rupanya hanya sanggup mengkritik puasa Islam yang mereka anggap hanya menggeser jam makan, tanpa memberikan solusi puasa yang mereka anggap lebih baik dari pada puasa Islam. Saya sendiri tidak yakin kalau mereka lupa. Saya lebih yakin, mereka sengaja tidak memberikan solusi puasa yang lebih baik karena agama Kristen tidak memiliki konsep puasa yang lebih baik dari pada puasa Islam. Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa puasa Islam bukanlah puasa karena hanya menggeser jam makan dan minum. Lalu bagaimanakah cara orang-orang kafir Kristen pemuja Yesus berpuasa? Ada tiga jenis puasa menurut Bibel. Puasa jenis pertama adalah puasa tidak makan dan tidak minum selama empat puluh hari empat puluh malam berturut-turut. Puasa jenis ini pernah dilakukan oleh Nabi Musa dan Yesus. Walaupun jenis puasa ini sering digembar-gemborkan lebih baik dari puasanya umat Islam, tapi tidak ada seorang kafir Kristen pemuja Yesus yang mampu melakukannya. Konon katanya puasa jenis ini butuh kuasa ilahi. Puasa jenis kedua adalah puasa tidak makan dan tidak minum selama tiga hari. Puasa ini pernah dilakukan bangsa Israel di masa Ester hidup. Puasa jenis ini masih tergolong berat, oleh karenanya tak ada satu pun yang mau dan sanggup melakukannya. Puasa jenis ketiga adalah puasa dengan cara mengubah menu makanan sehari-hari. Puasa jenis ini pernah dilakukan oleh Daniel. Dari sekian banyak puasa yang ada Puasa dalam Bibel, hanya puasa jenis inilah yang biasanya dilakukan oleh orang-orang kafir Kristen pemuja Yesus, karena puasa jenis ini adalah puasa yang paling gampang, ringan dan lebih enak dijalankan.

Kesimpulan  

Ada dua macam puasa dalam Islam, puasa wajib dan puasa sunah. Puasa wajib hanya di bulan Ramadhan sedangkan puasa sunah ada banyak macamnya, seperti puasa sunah di hari senin dan kamis, puasa sunah enam hari bulan Syawal dll. Baik puasa wajib atau pun puasa sunah ada dalil wajib atau anjurannya dalam Al-Qur’an dan hadits sahih. Semua penjelasan mengenai puasa sudah ada penjelasannya, umat Islam tinggal menjalankannya. Syariat puasa dalam Islam memang tidak sama dengan syariat puasa umat-umat terdahulu. Jika umat-umat terdahulu menjalankan puasa dengan cara puasa “ngebleng” satu hari, tiga hari sampai dengan empat puluh hari, maka umat Islam berpuasa hanya dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Ketahanan fisik manusia sekarang berbeda dengan manusia di zaman dahulu, itulah sebabnya puasa umat Islam dibatasi hanya dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Puasa seperti yang dilakukan oleh umat Islam adalah puasa yang paling ideal, puasa yang paling dapat dijalankan oleh manusia di akhir zaman seperti kita ini.

Sedangkan cara puasa orang-orang pemuja Yesus. Cara mereka “berpuasa” sebenarnya tidak dapat di sebut dengan berpuasa. Mereka bukan tidak makan dan minum, mereka tetap makan, hanya saja mereka membatasi dengan makan satu jenis makanan saja. Misalnya mereka niat hanya makan nasi saja, makan sayur-sayuran saja, sebanyak dan sesering yang mereka mau tentu. Yang mereka lakukan lebih tepat di sebut berpantang dari pada di sebut berpuasa. Lebih lanjut, tidak ada perintah atau anjuran dalam Bibel yang mengharuskan mereka untuk berpantang, atau aturan-aturan tertulis mengenainya. Mereka cuma “mengais-ngais” puasanya orang-orang yang ada dalam Bibel. Yang di kais pun, bukan jenis “puasa” yang berat, tetapi “puasa” yang paling gampang, ringan dan lebih enak dijalankan.


Dari penjelasan puasa Islam dan Kristen di atas. Bagi anda yang memiliki akal waras dan sanggup menggunakannya dengan benar, tentu akan memilih puasanya umat Islam dari pada cara “puasa” orang kafir Kristen pemuja Yesus. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pilih Mana: Puasa Islami atau "Puasa" Kristen?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.