Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Nabi Muhammad Bikin Ayat?


Asbabun nuzul didefinsikan sebagai suatu hal yang karenanya Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa waupun pertanyaan. Asbabun Nuzul membahas kasus-kasus yang menjadi turunnya beberapa ayat Al-Qur’an, macam-macamnya, sight (redaksi-redaksinya), tarjih riwayat-riwayatnya dan faedah dalam mempelajarinya. Untuk menafsirkan Qur’an ilmu asbabun nuzul sangat diperlukan sekali, sehingga ada pihak yang mengkhususkan diri dalam pembahasan dalam bidang ini, yaitu yang terkenal diantaranya ialah Ali bin madani, guru bukhari, al-wahidi , al-ja’bar , yang meringkaskan kitab al-wahidi dengan menghilangkan isnad-isnadnya, tanpa menambahkan sesuatu, syikhul islam ibn hajar yang mengarang satu kitab mengenai asbabun nuzul. Pedoman dasar para ulama’ dalam mengetahui asbabun nuzul ialah riwayat shahih yang berasal dari rasulullah atau dari sahabat. Itu disebabkan pembaritahuan seorang sahabat mengenai asbabun nuzul, al-wahidi mengatakan: “tidak halal berpendapat mengenai asbabun nuzul kitab, kecuali dengan berdasarkan pada riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan turunnya. Mengetahui sebab-sebabnya dan membahas tentang pengertian secara bersungguh-sungguh dalam mencarinya”.


Keberadaan Asbabun Nuzul dalam turunya ayat-ayat Al-Qur’an, ternyata juga dimanfaatkan oleh sebagian Misionaris Kristen atau penghujat Islam dalam usaha mereka menciptakan keragu-raguan dalam hati setiap Muslim terhadap Islam, Al-Qur’an, dan Nabi Muhammad saw. Misalnya dalam sebuah tulisan, Misionaris Kristen atau penghujat Islam menulis potongan surah Al-Ahzab: 53 yang berbunyi: “…Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah...” setelah itu mereka menuliskan Asbabun Nuzulnya demikian: “Tentang sebab turunnya ayat ini, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Zaid yang berkata, "Suatu ketika, Rasulullah mendengar bahwa ada seorang laki-laki berkata, 'Jika Rasulullah wafat maka sepeninggal beliau saya akan menikahi Fulanah (seraya menyebut nama salah seorang istri beliau). Sebagai respons terhadap hal itu, dari mulut Muhammad lalu terucaplah ayat ini,”Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.”
Ibnu Abbas juga meriwayatkan, “Ayat ini turun berkenaan dengan seorang laki-laki yang bermaksud menikahi beberapa orang di antara istri Nabi sepeninggal beliau." Sufyan berkata, "Diriwayatkan bahwa istri Rasulullah yang dimaksud adalah Aisyah.”

Misionaris Kristen atau penghujat Islam kemudian memberikan kesimpulan bahwa Al-Qur’an sesungguhnya bukanlah firman Allah, tapi hanya ucapan (Nabi) Muhammad (saw) yang diatas-namakan Allah, dengan tujuan agar kemauan serta keinginannya di dengar dan diperhatikan oleh umatnya yang mengira ucapan (Nabi) Muhammad (saw) adalah firman Allah yang wajib dituruti.

Kesimpulan di atas saya lihat hanya berdasar asumsi akibat dari adanya sentimen negatif terhadap Nabi Muhammad saw di hati Misionaris Kristen atau penghujat Islam. Menurut saya tidak aneh seandainya Nabi Muhammad saw berkemauan atau mengingini sesuatu, kemudian Allah swt memandang kemauan dan keinginan Nabi tersebut baik dan mendukungnya dengan menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Sebagai mana pada suatu saat, karena menerima banyak cemoohan orang-orang Yahudi karena umat Islam Shalat menghadap Baitul Maqdis. Nabi Muhammad saw sering menengadah ke langit, ingin serta berharap kiranya Allah swt menurunkan perintah mengalihkan kiblat dari Baitul Maqdis ke arah Masjidil Haram. Allah swt memenuhi keinginan Nabi Muhammad saw dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (Al-Baqarah:144). Seandainya tuduhan yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw sengaja membikin ayat yang diatas-namakan Allah swt adalah benar, maka logikanya tidak ada satupun ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi teguran kepada Nabi Muhammad saw, karena Nabi Muhammad saw sendiri yang buat, benar begitu? Nah, sekarang anda perhatikan ayat-ayat Al-Qur’an beserta Asbabun Nuzulnya di bawah ini:

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini." (Al-Kahfi: 23-24)

Asbabun Nuzul

Suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh salah seorang sahabat tentang kisah ashabul kahfi. Diantara pertanyaannya adalah: berapa tahun ashabul kahfi berlindung dan menghabiskan masa tidurnya dalam gua al-kahfi? Dan berapa jumlah anggota yang tergabung dalam ashabul kahfi ketika itu, lima orang dengan seekor anjingnya atau tujuh beserta anjingnya?
Rasulullah SAW saat itu tak sanggup memberi jawaban pasti. Lantas, beliau berkata kepada sahabat yang bertanya: "Jawabannya akan kuberikan besok." Biasanya pada saat-saat seperti demikian, keesokannya turun wahyu sebagai jawaban. Keesokan harinya, fajar telah menyingsing menyambut mentari terbit di ufuk timur. Sang surya terus menyemai panas diatas kepala sehingga dzuhur. Namun, wahyu dari Sang Khaliq tak kunjung turun memberikan jawab. Akhirnya sore semakin tinggi. Senjapun memerah mengantar kegelapan malam. Berhari-hari Rasulullah SAW menantikan wahyu itu. Lewat lima belas hari turunlah wahyu. Wahyu sebagai jawaban disertai teguran dalam ayat : Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu :  Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) Insya Allah. (Al Kahfi: 23-24).

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (At Tahrim: 1)

Asbabun Nuzul

Telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin Muhammad bin Shabbah Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Ibnu Juraij ia berkata; Atha` berdalih bahwa ia mendengar Ubaid bin Umair berkata; Aku mendengar Aisyah radliallahu 'anha berkata; Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah singgah di rumah Zainab binti Jahsy dan beliau juga minum madu di situ. Lalu aku dan Hafshah saling berpesan, bahwa siapa saja di antara kita yang ditemu oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hendaklah ia berkata, Sesungguhnya aku mendapatkan bau Maghafir. Apakah Anda habis makan maghafir? akhirnya beliau pun masuk menemui salah seorang dari keduanya dan ia mengungkapkan kalimat itu pada beliau. Akhirnya beliau bersabda: Tidak, akan tetapi aku hanya minum madu di tempat Zainab binti Jahsyin dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Maka turunlah ayat: Wahai Nabi, kenapa kamu mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah…hingga firman-Nya: Jika kalian berdua bertaubat…yakni kepada Aisyah dan Hafshah…adapun kutipan ayat Dan ketika Nabi berkata rahasia kepada sebagian isterinya…yakni terkait dengan sabda beliau: Bahkan aku hanya minum madu. (Shahih Bukhari: 4862)

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, (´Abasa: 1)

Asbabun Nuzul

Imam Tirmizi dan Imam Hakim, kedua-duanya mengetengahkan sebuah hadis melalui Siti Aisyah r.a. yang menceritakan, bahwa firman Allah swt. berikut ini, yaitu, "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling." (Q.S. 'Abasa, 1) diturunkan berkenaan dengan Abdullah bin Umi Maktum yang buta. Pada suatu hari ia datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata: "Wahai Rasulullah! Berikanlah aku bimbingan (kepada Islam)." Pada saat itu di hadapan Rasulullah saw. ada beberapa orang laki-laki dari kalangan pemimpin-pemimpin kaum musyrikin. Rasulullah saw. berpaling dari Abdullah bin Umi Maktum karena melayani mereka. Lalu Rasulullah saw. berkata: "Bagaimanakah pendapatmu, apakah di dalam hal-hal yang telah aku katakan tadi dapat membuka hatimu?" Laki-laki dari pemimpin kaum musyrikin itu menjawab: "Tidak." Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya." (Q.S. 'Abasa, 1-2) Abu Ya'la mengetengahkan hadis yang serupa melalui Anas r.a.

Bukti ayat teguran terhadap Nabi Muhammad saw di atas, saya rasa sudah cukup untuk membuktikan bahwa tidak mungkin Nabi Muhammad saw bikin ayat yang diatas-namakan Allah swt. Apa untungnya Nabi Muhammad saw bikin ayat yang isi dari ayat-ayat tersebut justru menegur diri Beliau sendiri?! Orang Musyrik yang hidup semasa Nabi Muhammad saw saja mengenal Beliau sebagai orang yang jujur, tidak pernah sekalipun berbohong. Lihatlah ketika Nabi Muhammad saw di suatu pagi dibukit Shafa mengundang kaum Musyrik dan berkata kepada mereka: “Bagaimana pendapat kalian, jika aku beritakan kepada kalian bahwasanya musuh datang menyerang kalian di waktu pagi ini, atau akan menyerang kalian di waktu sore nanti, apakah kalian akan mempercayaiku?” kaum Musyrik menjawab: “Tentu saja kami percaya kepadamu.” Maka sangat aneh jika manusia di zaman sekarang masih melihat Nabi Muhammad saw sebagai seorang pembohong, pendusta yang ngaku-ngaku Nabi. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nabi Muhammad Bikin Ayat?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.