Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Paus Yang Sangat Merisaukan

Paus Yohanes XII sangat merisaukan khalayak sehingga dirumorkan bahwa doa-doa dipanjatkan dalam biara-biara, memohon kepada Tuhan agar mempercepat kematiannya. Tidak ada dosa yang tidak dilakukan-atau tidak ingin dilaksanakan- oleh Yohanes XII. Ia mengelola sebuah pelacuran di dalam Gereja Santo Yohanes Lateran dimana ia menunjuk salah satu kekasihnya, Marcia, sebagai pengelola. Ia meniduri kekasih ayahnya dan ibunya sendiri. Ia mengambil cawan-cawan emas suci dari Gereja Santo Petrus untuk dihadiahkan kepada kekasih-kekasihnya setelah menghabiskan malam-malam penuh gairah bersama mereka. Ia membutakan mata seorang kardinal dan mengebiri kardinal yang lain sehingga menyebabkan kematian. Para peziarah yang datang ke Roma beresiko kehilangan persembahan yang mereka berikan kepada Gereja ketika paus ini mencuri persembahan-persembahan itu untuk taruhan dalam perjudian. Dalam acara-acara perjudian, Yohanes XII biasanya mengundang para dewa dan dewi berhala untuk memberinya keberuntungan saat melemparkan dadu. Para wanita telah diperingatkan untuk menghindari Gereja Santo Yohanes Lateran atau tempat-tempat lain yang mungkin dilewati oleh Paus karena ia selalu berminat mencari taklukan-taklukan baru. Tak lama kemudian, warga Roma menjadi begitu marah akan tingkah laku Yohanes sehingga ia mulai takut nyawanya terancam. Reaksinya adalah mencuri barang-barang berharga dari Gereja Santo Petrus dan melarikan diri ke Tivoli, sekitar 27 kilometer (16 mil) dari Roma.

Yohanes XII telah melakukan terlalu banyak kerusakan terhadap kepausan yang telah bergulir sejak kejahatan- kejahatan dan dosa-dosa para pendahulunya, sehingga sebuah sidang istimewa dibuat untuk menghadapinya. Semua uskup Italia dan enam belas kardinal serta para imam lainnya (beberapa datang dari Jerman), berkumpul untuk memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap anak muda yang menakutkan, yang juga adalah paus mereka. Mereka memanggil para saksi dan mendengar bukti-bukti di bawah sumpah dan akhirnya membuat sebuah daftar yang semakin menambah catatan atas kelakuan-kelakuan negatif Yohanes yang sangat mengerikan. Beberapa daripadanya ditulis secara garis besar dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Yohanes oleh Kaisar Roma Suci, Otto I dari Saxony.

Semua orang, para pastor dan juga rakyat jelata menuduh Anda, Yang Mulia, atas pembunuhan, sumpah palsu, pelanggaran hal-halyang suci, inses dengan sanak keluarga Anda, termasuk dengan dua saudari Anda dan menyembah, seperti halnya berhala, Jupiter, Venus, dan iblis-iblis lainnya.

Paus Yohanes yang masih mengungsi ke Tivoli menanggapi Otto dengan kedengkian yang menakutkan Roma. Bila sidang itu mengucilkan dirinya, Yohanes mengancam, ia akan mengucilkan semua orang yang terlibat, membuat tidak mungkin bagi mereka untuk merayakan Misa atau melakukan pentahbisan. Dalam istilah Kristen, ekskomunikasi atau pengucilan berarti dikeluarkan dari Gereja, kehilangan perlindungannya dan bahkan membahayakan jiwa yang abadi.

PEMBALASAN DENDAM YOHANES XII

Terlepas dari ancaman ekskomunikasi, Kaisar Otto tetap membuang Yohanes dan seorang paus baru, Leo VIII, diangkat untuk mengisi jabatan ini. Tentu saja Yohanes murka. Ketika akhirnya ia dapat kembali ke Roma pada tahun 963 Masehi, dendamnya sudah melebihi ancamannya. Ia membuang Paus Leo, namun bukannya melaksanakan ancaman ekskomunikasi, ia bahkan menghukum mati atau memotongkan setiap orang yang turut serta dalam sidang pengadilan terhadap dirinya. Yohanes menguliti salah seorang uskup, memotong hidung dan dua jari dari seorang kardinal dan memutuskan lidahnya, dan memenggal 63 anggota pemuka agama dan kaum bangsawan di Roma.

Lalu, suatu malam pada tanggal 14 Mei 964 Masehi, seluruh doa yang dilambungkan untuk memohon campur tangan Tuhan untuk menyelamatkan Roma dari paus iblisnya telah mencapai tujuan abadi. Seperti yang kelak dideskripsikan oleh seorang uskup bernama Yohanes Crecentius dari Proteus, 'Sementara ia menjalani hubungan gelap dan menjijikkan dengan seorang wanita Romawi, (Paus Yohanes) terkejut melihat tindakan penuh dosa dari suami si wanita yang murka, yang mengamuk, menghancurkan tengkorak kepalanya dengan sebuah martil dan dengan demikian membebaskan jiwanya yang jahat ke dalam jangkauan Setan.'

(Sumber: Sejarah Gelap Para Paus)

0 Response to "Paus Yang Sangat Merisaukan"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.