Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Kematian-Kematian Yang Penuh Kekerasan

Variasi dari kematian brutal yang telah di derita oleh para paus selama era Pornokrasi Kepausan sangatlah menakjubkan. Pada tahun 882 Masehi, misalnya, Paus Yohanes VIII tidak berhasil dibunuh dengan cepat setelah diracun. Para pembunuhnya yang kemudian kehilangan kesabaran, menghancurkan kepalanya dengan palu untuk mempercepat kematiannya. Paus abad ke 10, Stefanus IX, menderita luka yang mengeringkan ketika mata, bibir, lidah dan tangannya dipotong. Secara menakjubkan, paus ini luput dari kematian namun tidak pernah lagi menunjukkan wajahnya yang telah termutilasi di depan publik. Paus Benediktus V melarikan diri ke Konstatinopel pada tahun 964 Masehi setelah merayu seorang gadis belia, sambil membawa harta kepausan bersamannya. Benediktus jelas-jelas adalah paus yang boros karena uang yang ia bawa telah ludes sebelum tahun berakhir dan ia kembali ke Roma. Tak lama kemudian, ia kembali lagi melakukan kebiasaan buruknya sehingga akhirnya dibunuh oleh seorang suami cemburu, yang meninggalkan seratus tusukan ditubuh Benediktus sebelum membuangnya ke dalam lubang jamban.
Paus yang lain, Bonifasius VI telah dipilih untuk menduduki Singgasana Santo Petrus meskipun ia telah direndahkan dua kali karena moral buruknya. Sebagaimana sering terjadi pada kejadian-kejadian yang berlangsung jauh di masa yang lalu untuk mengumpulkan legenda-legenda, Bonifasius mungkin wafat karena penyakit gout, atau diracun, atau diasingkan dan dilenyapkan demi membiarkan paus lain, Stefanus VII, mengambil alih kekuasaannya. Entah bagaimanapun caranya, Bonifasius menghilang dari sejarah namun dengan kecepatan yang mencurigakan: kekuasaannya hanya berlangsung selama lima belas hari. Kelak,  Stefanus melepaskan banyak kekuasaan dan hak-hak istimewa dari tahta suci yang ia harapkan dapat digunakan untuk kepentingan para sponsornya, Keluarga Besar Spoleto dari Italia tengah dan penguasa wanitanya yang mendominasi, Duchess Agiltrude, penghasud dari Sidang Jenazah yang penuh sekandal pada tahun 897 Masehi.

(Sumber: Sejarah Gelap Para Paus)  

1 Response to "Kematian-Kematian Yang Penuh Kekerasan"

  1. Allah tidak ridho. Ada sebab ada akibat. Sebagus bagus rencana Allah. Diluar Islam, kafir, krn menuhankan MANUSIA.

    ReplyDelete

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.