Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Para Mukmin: Bagaimana Cara Menanggapi Pemimpin Zalim?

Setiap kita sudah pernah atau akan menghadapi seorang pemimpin. Kita berharap semua guru, bos, dll sangat baik, adil dan saleh. Tetapi, ada kemungkinan besar suatu hari kita akan mempunyai pemimpin yang zalim atau tidak adil. Bagaimana cara menanggapi pemimpin seperti itu? Sebaiknya orang beragama mengikuti teladan nabi-nabi sebelumnya. Kita bisa belajar cara yang baik dan mungkin tidak baik.

Cara Nabi Islam Menanggapi Pemimpin

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Pada awalnya, Nabi Islam menghormati pemimpin di sekitarnya. Tetapi, ketika pemimpin suku lain mulai melawannya, Nabi Islam memenangkan mereka. Ada pemimpin yang diperbudak dan dibunuh. Misalnya, Nabi Islam mengutus sekelompok orang untuk membunuh Abu Rafi’, seorang pemimpin dalam salah satu suku Yahudi (Shahih Bukhari 3732). Silakan kirim pendapat Anda akan tindakan ini lewat email ini.

Jawaban Saya: Jazirah Arab ketika Nabi Muhammad SAW di utus sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT, adalah negeri yang tidak mempunyai penguasa tunggal, tidak sebagaimana negeri di mana Nabi Isa AS atau Yesus di utus. Setiap kabilah Arab mempunyai pemimpin-pemimpinnya sendiri, tidak terkecuali orang-orang Yahudi. Mereka mempunyai pemimpin-pemimpin sendiri. Nabi Muhammad SAW bukan berasal dari suku Yahudi di mana Rafi’ menjadi salah seorang pemimpinnya. Selain itu, Allah SWT juga melarang orang-orang beriman menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Karena pemimpin-pemimpin mereka adalah dari mereka sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Maa'idah: 51)

Pembunuhan Rafi’ terjadi atas inisiatif beberapa sahabat Nabi karena perbuatan Rafi’ sendiri yang menyakiti Rasulullah SAW dan menyakiti Beliau. Para sahabat Nabi meminta kepada Beliau untuk membunuh Rafi’ dan Rasulullah SAW mengizinkannya.

Teladan Buat Para Mukmin: Cara Isa Al-Masih Menanggapi Pemimpin

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Isa Al-Masih juga pernah menghadapi pemimpin zalim dan tidak adil. Beberapa hari sebelum Isa wafat, orang menangkap-Nya dan membawa-Nya ke rumah Imam Besar. Lalu, “. . . orang-orang yang menahan Yesus [Isa Al-Masih], mengolok-olokkan Dia dan memukuli-Nya. Mereka menutupi muka-Nya dan bertanya: “Cobalah katakan siapakah yang memukul Engkau? Dan banyak lagi hujat yang diucapkan mereka kepada-Nya” (Injil, Rasul Lukas 22:63-65).

Setelah itu, Isa harus menghadapi Herodes, seorang yang kejam. Lalu, Herodes, “. . . mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus [Isa Al-Masih], tetapi Yesus [Isa Al-Masih] tidak memberi jawaban apapun. Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia. Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia . . .” (Injil, Rasul Lukas 23:9-11).

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa ketika Yesus di tangkap dan dibawa ke rumah imam besar, diolok-olok dan di hina sampai dengan mati di salib, Yesus diam dan tidak membalas. Itu benar, namun apa alasannya? Pada saat itu, Yesus dan orang-orang yang beriman kepadanya dalam kondisi lemah dan tak berdaya, mereka tidak mampu membela diri dengan pedang. Yang dapat mereka lakukan sementara itu hanya bersabar dan menghindar sebisa mungkin dari perbuatan kejam orang-orang kafir. Niat perang dan perlawanan Yesus dan orang-orang yang beriman kepadanya sudah ada, tetapi karena kondisi mereka yang pada saat itu masih lemah dan tak berdaya, mereka pada akhirnya tidak mampu mengadakan perlawanan;

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?"

Jawab mereka: "Suatu pun tidak." Kata-Nya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang. (Lukas 22:35-36)

Ayat di atas membuktikan kepada kita bahwasanya Yesus dan murid-muridnya bermaksud untuk melakukan pembelaan diri dengan memerangi mereka dengan pedang. Tetapi karena Yesus dan murid-muridnya kalah dalam jumlah, Yesus memerintahkan Petrus untuk menyarungkan kembali pedangnya. Apalagi yang di serang oleh Petrus ternyata hanya seorang hamba imam besar. Jadi yang di serang Petrus itu seorang hamba Imam Besar, bukan tentara Romawi seperti yang dikatakan kafir Kristen pemuja Yesus.

Tuhan yang mengutus Yesus tidak pernah menyuruh Beliau untuk berperang dan membunuh karena keadaan pada saat itu yang tidak memungkinkan. Tetapi keadaan berbeda ketika Yesus datang di akhir zaman nanti. Setelah Beliau mempunyai kekuatan serta dukungan yang cukup, Yesus akan berperang dan membunuh. Sebagaimana ayat-ayat di bawah ini:

Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia."(Wahyu 17:14) 

Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: "Yang Setia dan Yang Benar," Ia menghakimi dan berperang dengan adil. (Wahyu 19:11) 

Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini. (Wahyu 2:16) 

Senangkah Mukmin Meniru Tindakan Isa ini?

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Isa Al-Masih tidak pernah membela diri, sekalipun Ia tidak berdosa. Isa justru meminta Allah untuk mengampuni musuh-Nya, karena Isa sangat mengasihi mereka. “. . . Ya Bapa, ampunilah mereka . . .” (Injil, Rasul Lukas 23:34). Isa tidak hanya bicara demikian, tapi Dia rela menanggung dosa-dosa setiap orang, termasuk musuh-Nya, agar dapat bersih dan layak masuk sorga. Silakan hubungi kami jika Anda ingin bersih dari setiap dosa selamanya.

Demikianlah kiranya seluruh umat beragama dapat meneladani Isa Al-Masih dalam hal menanggapi pemimpin zalim, yaitu bersedia mengampuni dan mendoakan. Sehingga akan tercipta lebih banyak perdamaian dan kasih di dunia.

Jawaban Saya: Untuk menghadapi pemimpin yang dzalim, seorang mukmin tidak perlu sampai harus meneladani Nabi Isa AS atau Yesus. Karena Islam juga mengajarkan umatnya bagaimana menghadapi pemimpin. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya;

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisaa': 59)

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sadaqah ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Hajaj ibnu Muhammad Al-A'war, dari Ibnu Juraij, dari Ya'la ibnu Muslim, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian (An-Nisa: 59). Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Huzafah ibnu Qais ibnu Addi ketika ia diutus oleh Rasulullah SAW. untuk memimpin suatu pasukan khusus.

Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan kaum Muslimin untuk taat kepada para pemimpin Muslim dan bersabar apabila berbuat dzalim. Perhatikan Hadits-Hadits berikut ini;

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin al Walid dari Bahir bin Sa'd dari Khalid bin Ma'dan dari Abdurrahman bin Amru as Sulami dari al 'Irbadh bin Sariyah dia berkata; suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi wejangan kepada kami setelah shalat subuh wejangan yang sangat menyentuh sehingga membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka seorang sahabat berkata; 'seakan-akan ini merupakan wejangan perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ya Rasulullah? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta'at meskipun terhadap seorang budak habasyi...(Sunan Tirmidzi: 2600)

Dan telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farruh telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Al Ja'd telah menceritakan kepada kami Abu Raja Al 'Utharidi dari Ibnu Abbas dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa membenci sesuatu pada diri pemimpinnya, hendaknya ia bersabar sebab tidaklah seseorang keluar dari kepemimpinan (kaum Muslimin) walau sejengkal, kemudian mati kecuali ia mati seperti mati jahiliyah." (Shahih Muslim: 3439)

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'man telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Alja'd Abi Utsman telah menceritakan kepadaku Abu Raja' Al 'utharidi mengtakan, aku mendengar Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda; "Siapapun yang melihat sesuatu dari pemimpinnya yang tak disukainya, hendaklah ia bersabar terhadapnya, sebab siapa yang memisahkan diri sejengkal dari jama'ah, kecuali dia mati dalam jahiliyah." (Shahih Bukhari: 6531)

Telah menceritakan kepadaku Muhammad Ibnu Sahl bin 'Askar At Tamimi telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hasan. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan kepada kami Yahya -yaitu Ibnu Hassan- telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah -yaitu Ibnu Salam- telah menceritakan kepada kami Zaid bin Sallam dari Abu Sallam dia berkata; Hudzaifah bin Yaman berkata, "Saya bertanya, "Saya bertanya, "Wahai Rasulullah, dahulu saya berada dalam kejahatan, kemudian Allah menurunkan kebaikan (agama Islam) kepada kami, apakah setelah kebaikan ini timbul lagi kejatahan?" beliau menjawab: "Ya." Saya bertanya lagi, "Apakah setelah kejahatan tersebut akan timbul lagi kebaikan?" beliau menjawab: "Ya." Saya bertanya lagi, "Apakah setelah kebaikan ini timbul lagi kejahatan?" beliau menjawab: "Ya." Aku bertanya, "Bagaimana hal itu?" beliau menjawab: "Setelahku nanti akan ada pemimpin yang memimpin tidak dengan petunjukku dan mengambil sunah bukan dari sunahku, lalu akan datang beberapa laki-laki yang hati mereka sebagaimana hatinya setan dalam rupa manusia." Hudzaifah berkata; saya betanya, "Wahai Rasulullah, jika hal itu menimpaku apa yang anda perintahkan kepadaku?" beliau menjawab: "Dengar dan patuhilah kepada pemimpinmu, walaupun ia memukulmu dan merampas harta bendamu, dengar dan patuhilah dia." (Shahih Muslim: 3435)

Imam Al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin muhammad bin Abi al-Izz ad-Dimasqy rahimahullah (terkenal dengan ibnu Abil ‘Izz wafat th. 792 H), berkata : Hukum mentaati ulil Amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) meskipun mereka berbuat zhalim, karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipat gandakan pahala. Karena Allah ’azza wajalla tidak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerusakan amal perbuatan kita juga.

Jadi untuk menghadapi seorang pemimpin, seorang mukmin tidak perlu meneladani Yesus. Karena agama Islam telah mengajarkan bagaimana seorang mukmin bersikap terhadap pemimpinnya, sekalipun pemimpin tersebut berbuat dzalim.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Para Mukmin: Bagaimana Cara Menanggapi Pemimpin Zalim?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.