Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Kebencian Ataukah Kasih Yang Umat Beragama Butuhkan?

Berkaitan dengan ajaran Al Bara (kebencian) kepada orang kafir, para Muslim bertanya, “Bagaimanakah sikap Islam terhadap orang kafir?” Di sisi lain, saudara-saudara Muslim Rohingya membutuhkan kasih para Budha di Myanmar. Sehingga mereka boleh tinggal di sana dengan damai dan aman. Ajaran Al Bara ataukah kasih yang umat manusia butuhkan?

Al Bara Dan Sikap Islam Terhadap Orang Kafir

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Menurut Ummu ‘Abdirrahman ajaran Al-Bara ialah “tidak memberikan kasih sayang kepada orang kafir, tidak bergaul, dan bersahabat dengan mereka.”

Dr. Adika Mianoki menjelaskan, “orang yang harus kita benci . . . musuhi secara mutlak, serta tidak boleh mencintai dan loyal terhadap mereka. Mereka adalah orang-orang kafir, musyrik, munafik, dan orang yang murtad, sebagaimana . . . dalam surat Al-Mujadilah ayat 22.”

Ayat itu berbunyi, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya . . .” (Qs. 58:22).

Apakah pendapat Anda tentang membenci orang yang berbeda agama dan keyakinan dengan kita? Sampaikan di email ini.

Jawaban Saya: Dalam arti bahasa kata al-bara’ mempunyai banyak arti, antara lain menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri dan memusuhi. Kata bari-a berarti membebaskan diri dengan melaksanakan kewajibannya terhadap orang lain. Sedangkan dalam arti istilah, al-bara’ berarti penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dibenci dan dimurkai Allah berupa perkataan, perbuatan, keyakinan dan kepercayaan serta orang. Jadi, ciri utama al-Bara’ adalah membenci apa yang di-benci Allah secara terus-menerus dan penuh komitmen. Kafir Kristen pemuja Yesus menyinggung masalah Al-Bara’ dalam Islam dengan menyempitkan maknanya, sehingga diharapkan akan muncul anggapan bahwa Islam mengajarkan kepada umatnya kebencian. 

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (Al-Mujadilah: 22)

Ayat tersebut diturunkan ketika kaum Muslimin dan orang-orang Musyrik Mekkah berhadap-hadapan di perang Badar. Para sahabat Nabi Muhammad SAW berperang melawan keluarga mereka sendiri yang masih kafir. Abu Ubaidah membunuh ayahnya sendiri dalam perang tersebut, Abu Bakar As-Siddiq berperang melawan anaknya dan hampir saja membunuhnya, Mus'ab ibnu Umair membunuh saudaranya sendiri, dan Umar membunuh kerabatnya yang masih musyrik. Hamzah, Ali, dan Ubaidah ibnul Haris; masing-masing dari mereka juga telah membunuh Atabah, Syaibah, dan Al-Walid ibnu Atabah yang masih kerabat dalam perang tersebut.

Oleh karena konteks ayat tersebut diturunkan di masa perang antara kaum Muslimin dan orang-orang Musyrik, maka ayat tersebut tidak dapat ditarik pada saat kaum Muslimin dan orang-orang kafir telah terjalin perdamaian.  

Orang Islam dan Kristen Membutuhkan Kasih dari Sesamanya

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Baik orang Islam maupun Kristen rindu dikasihi sesamanya, bukan? Sebaliknya, kita tidak ingin orang-orang yang berbeda agama itu membenci dan memusuhi kita. Jutaan orang Muslim Timur Tengah mengungsi ke negara-negara kafir di benua Eropa, Amerika, Kanada dan Australia. Para pengungsi Muslim itu mengharapkan belas kasihan sesamanya yang beragama kafir Kristen, Katholik dan agama lainnya di sana. Warga negara–negara itu harus mengasihi para pengungsi Muslim itu. Caranya ialah menolong kesusahan dan penderitaan mereka. Jelas tidak terpuji jika membenci mereka karena alasan perbedaan agama dan keyakinan.

Jawaban Saya: Sikap kerasnya seorang Muslim terhadap orang-orang kafir itu terjadi hanya ketika orang-orang kafir berbuat sesuatu yang kaum Muslimin harus memerangi mereka. Sedangkan jika orang-orang kafir yang tidak mengambil posisi bermusuhan dengan kaum Muslimin dan bersedia hidup berdampingan bersama kaum Muslimin dengan damai, seperti kebanyakan orang-orang kafir yang hidup di negara kita ini, maka tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk bersikap keras terhadap orang kafir. Ayat-ayat Al-Qur’an menekankan untuk berlaku baik, bersikap adil dan condong terhadap perdamaian ketika orang-orang kafir tidak memerangi kaum Muslimin dan menginginkannya perdamaian. Kaum Muslimin juga diminta untuk memberikan perlindungan apabila ada orang-orang kafir atau musyrik yang meminta perlindungan. Anda dapat membaca pada ayat-ayat berikut;

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil(Al-Mumtahanah: 8).

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui(Al-Anfaal: 61).

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (At-Taubah: 6)

Dalam hadits Nabi juga terdapat anjuran untuk mengasihi dan menyayangi penduduk bumi. Tidak pandang bulu apakah dia beriman ataukah dia kafir. Berikut ini Hadits Nabi yang saya maksud;

Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru, dari Abu Qabus, dari Abdullah bin Amru bin al Ash dan sampai kepada Nabi SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM, beliau bersabda: "Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh ar Rahman, oleh karena itu kasihilah penduduk bumi maka niscaya penduduk langit akan mengasihi kalian. Dan rasa kasihan adalah sebuah jalan dari ar Rahman, barangsiapa yang menyambungnya maka ia akan tersambung untuknya, dan barangsiapa memutuskannya maka ia akan terputus untuknya." (Musnad Ahmad: 6206)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Musaddad secara makna, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari Abu Qabus -mantan budak (yang telah dimerdekakan oleh) Abdullah bin Amru- dari Abdullah bin Amru dan sanadnya sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, (beliau bersabda): "Para penyayang akan disayangi oleh Ar Rahman. Sayangilah penduduk bumi maka kalian akan disayangi oleh siapa saja yang di langit." (Sunan Abu Daud: 4290)

Telah menceritakan kepada kami Waki' dan Abdurrahman dari Sufyan dari Habib dari Maimun dari Abu Dzar ia berkata, Abdurrahman berkata,"Aku berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam, "Berilah aku wasiat!" Beliau menjawab: "Bertakwalah pada Allah dimanapun kamu berada, iringilah setiap amal buruk dengan amal baik hingga ia dapat menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." Bapakku berkata, "Waki' menceritakannya kepada kami dari Maimun bin Abu Syabib, dari Mu'adz. Kemudian ia meralatnya kembali." (Musnad Ahmad: 20435)

Umat Islam memang diwajibkan memiliki sikap bara’ terhadap orang-orang kafir, yaitu menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri dan memusuhi kekufuran orang-orang kafir. Sikap bara’ umat Islam tidak melazimkan kami harus berlaku kejam dan berbuat aniaya kepada orang-orang kafir. Karena sikap bara’ itu hanya ditujukan untuk kekufuran orang kafir, bukan manusianya. Oleh sebab itu. Kita dapati dalam Hadits Rasulullah SAW berinteraksi dengan orang-orang kafir dengan akhlak beliau yang mulia. Di antaranya  Nabi Muhammad SAW memiliki pembantu dari Yahudi yang ketika sakit beliau jenguk, beliau juga pernah memberikan hak pengelolaan tanah Khaibar dengan imbalan setengah hasil panen kepada orang Yahudi. Sedangkan istri beliau, Aisyah memberikan minyak wangi wanita Yahudi yang memintanya. Itu adalah bukti jika sikap bara’ umat Islam tidak melazimkan kami harus berlaku kejam dan berbuat aniaya, serta menjauhi sejauh-jauhnya orang-orang kafir. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits-hadits berikut;

Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit berkata, dan saya tidak mengetahuinya kecuali dari Anas, ada seorang pemuda Yahudi yang pernah melayani Nabi Shallallahu'alaihi wasallam. Suatu saat ia sakit hingga Nabi Shallallahu'alaihi wasallam menjenguknya dalam sekaratnya. Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam mengajaknya masuk Islam. Pemuda itu menatap bapaknya yang berada di sampingnya, kemudian bapaknya berujar,"Taatilah Abu Qasim". Beberapa saat kemudian dia meninggal. Lalu Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam pulang dan bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka". (Musnad Ahmad: 12896)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail; Telah menceritakan kepada kami Juwairiyah dari Nafi' dari Abdullah radliallahu 'anhu, katanya; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Pernah memberi orang yahudi hak kelola tanah Khaibar, caranya, agar mereka kelola, mereka tanam, dan mereka peroleh separuh hasilnya. (Shahih Bukhari: 3917)

Telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah, dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al-A'masy dari Syaqiq dari Masruq dari Aisyah berkata;"Ada seorang wanita yahudi menemui Aisyah meminta agar dia diberi minyak wangi, lalu Aisyah pun memberinya." Kemudian (si wanita yahudi) Berkata; "Semoga Allah menyelematkanmu dari siksa kubur." Dia (Aisyah) Berkata; "Hal itu masih tetap mengganjal bagi diriku hingga Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam pun datang, lalu aku ceritakan hal itu kepadanya. Aku berkata; 'Wahai Rasulullah, apakah di kubur ada penyiksaan? ' Beliau menjawab: 'Benar, mereka akan disiksa di kuburan-kuburan mereka, siksaan yang dapat didengar oleh binatang-binatang.'" (Musnad Ahmad: 23048)

Jadi Islam sama sekali tidak melarang umatnya untuk mengasihi orang kafir dengan kasih sayang yang bersifat umum. Seperti memberi makan jika dia lapar, memberi minum jika haus, mengobatinya jika sakit, menyelamatkannya dari kebinasaan dan tidak mengganggunya.

Kasih Terbesar bagi Para Muslim Juga

Kafir Kristen pemuja Yesus menulis: Isa Al-Masih begitu mengasihi semua manusia, termasuk para Muslim apalagi musuh-Nya. Ia tidak ingin manusia dihukum di neraka karena dosa-dosa mereka. Karena itu Dia rela mati tersalib guna menggantikan hukuman dosa-dosa kita. Karena Isa Al-Masih adalah Kalimat Allah, maka berkuasa menjamin pengampunan dosa dan hidup kekal bagi siapa saja yang percaya kepada-Nya. Itulah kasih Isa Al-Masih yang terbesar. Dengan percaya kepada-Nya, Anda pasti beroleh jaminan hidup kekal dari Dia.

Jawaban Saya: Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa Yesus mengasihi semua manusia, termasuk musuhnya. Padahal menurut Kitab Wahyu, Yesus nanti akan turun ke dunia dan akan memerangi musuh-musuhnya. Silakan baca ayat-ayat berikut ini;

Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia."(Wahyu 17:14) 

Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: "Yang Setia dan Yang Benar," Ia menghakimi dan berperang dengan adil. (Wahyu 19:11) 

Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini(Wahyu 2:16)

Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa Yesus rela mati di salib. Mereka juga mengatakan Yesus telah menyerahkan nyawanya. Tetapi mengapa kesan tersebut sama sekali tidak terlihat. Jika benar Yesus memang rela di salib dan rela menyerahkan nyawanya, mengapa ketika akan pergi ke Yerusalem Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk membeli pedang (Lukas 22:36)? Mengapa Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk menjaga dirinya dan terlihat Yesus sangat ketakutan (Matius 26:38)? Mengapa Yesus sampai sujud dan berdoa demi keselamatannya (Matius 26:42)? Dan mengapa ketika hampir mati di atas salib, Yesus berteriak dengan keras: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Markus 15:34). Itu semua adalah bukti kalau Yesus tidak pernah rela mati di salib dan tidak pernah rela mati. Yesus lebih tepat di sebut dikorbankan di kayu salib daripada mengkorbankan diri di kayu salib.

Kafir Kristen pemuja Yesus mengatakan bahwa Yesus menjamin pengampunan dosa dan hidup kekal bagi siapa saja yang percaya. Yesus memang menjanjikan hidup kekal, tetapi janji itu hanya untuk bangsa Israel yang mau mendengar dan mengikuti Yesus. Perhatikan penjelasan saya berikut ini;

dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa(Yohanes 10:28-29)

Dalam ayat tersebut, Yesus berjanji akan memberikan hidup yang kekal dan mereka tidak akan binasa selama-lamanya. Untuk mengetahui siapa yang telah dijanjikan hidup yang kekal oleh Yesus, maka anda harus membaca ayat sebelumnya, perhatian ayat ini;

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku(Yohanes 10:27)

Pada ayat tersebut, Yesus menyebut domba-domba. Domba dalam Injil Perjanjian Baru digunakan untuk menyebut umat dari bangsa Israel. Sedangkan untuk bangsa di luar dari bangsa Israel, Yesus biasa menyebutnya Anjing. Jadi, syarat pertama untuk memperoleh janji keselamatan dari Yesus, orang tersebut haruslah berasal bangsa Israel. Tidak cukup itu saja, Yesus juga mensyaratkan domba-domba tersebut harus mendengar dan mengikuti ajaran Yesus. Kedua syarat tersebut ternyata tidak dimiliki oleh kafir Kristen pemuja Yesus. Pertama; kebanyakan dari orang-orang Kristen bukanlah dari bangsa Israel, kedua; orang-orang Kristen tidak mendengar dan mengikuti ajaran Yesus, tetapi lebih mendengar dan mengikuti ajaran Paulus. Oleh karena kedua syarat tersebut tidak dapat dipenuhi oleh kafir Kristen pemuja Yesus, maka mereka tidak akan memperoleh janji keselamatan yang akan diberikan oleh Yesus. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kebencian Ataukah Kasih Yang Umat Beragama Butuhkan?"

Post a Comment

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik, seperti menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.